oleh -3 views

Merasa tertekan, Putri Lari dari P2TP2A

Parepare, suaralidik.com – Lembaga Investigasi Mendidik Pro Rakyat Nusantara (LIDIK PRO) dan Laskar Anti Korupsi (LAKI) bersama beberapa insan pewarta dari beberapa Media, tersentuh hatinya untuk melakukan pendampingan Hukum atas kasus yang di alami oleh Nurviani Saputri. (24/10/2019).

Berawal dari penganiayaan yang di alami Nurviana Saputri yang di sapa Putri, hingga harus berurusan dengan pihak berwajib yang telah memenjarakan kekasihnya atas perlakuan kasar pada dirinya. Dan serta merta putri harus ditangani oleh kepolisian yaitu Kanit PPA yang menilai Putri masih di bawah umur dan mengharuskan berada dalam pengawasan P2TP2A.

Namun pengakuan Putri didepan LAKI dan LIDIK PRO beserta insan-insan pers kalau dirinya telah berumur Dewasa dan meminta agar kiranya mendapatkan perlindungan Hukum. Dan ini tidak disambut baik oleh P2TP2A, yang memaksakan kehendak untuk direhab.
Dan ini mendapatkan tantangan keras dari kuasa hukumnya.
Melalui mediasi Kanit PPA Polresta Parepare, kuasa hukum menyerahkan sepenuhnya Putri ke P2TP2A untuk melaksanakan hajatnya.
Penyerahan Putri dibawah Perlindungan P2TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak) Kota Parepare menghilang. Padahal besok (Jumat, 25/10) anak tersebut rencananya akan dibawa ke Balai Perlindungan Anak di Makassar.

Sebelum dibawa ke Makassar, Kamis malam (24/10) meminta ijin pamit ke orang tua angkatnya, Tony di Markas Veteran Parepare. Ketua P2TP2A Parepare Andi Nilawati Mila sendiri yang mengantarnya bersama timnya dengan menaiki mobil khusus perlindungan anak.

Selagi serius-seriusnya membicarakan penanganan sehubungan keberangkatannya ke Makassar. Sebab anak tersebut tiba-tiba menolak untuk berangkat. Bahkan terjadi sedikit pertengkaran antara kuasa hukum anak tersebut, Hasbullah dari LSM LAKI dengan Andi Nilawati. Saat-saat itu dimanfaatkan Putri untuk melarikan diri.

Kasus Putri ini masih dalam penanganan kepolisian Parepare melalui Kanit PPA Aipda Dewi Noya bersama lembaga-lembaga perlindungan perempuan dan anak Kota Parepare. Kesepakatan memang diambil untuk merehabilitasi anak tersebut ke Makassar sebelum anak tersebut dikembalikan ke orang tuanya.

Hanya saja disayangkan karena pada saat penyidikan di ruang unit PPA, Tim P2TP2A dinilai mengganggu proses pemeriksaan. Sebab menurut Hasbullah bahwa mereka tidak semestinya terlalu jauh mencampuri pemeriksaan sehingga bisa dinilai mengintervensi. “Mereka terlalu bebas lalu lalang di ruang penyidikan”, ujar Ulla panggilan akrab Hasbullah sembari meminta pihak Kapolresta Parepare menertibkan keberadaan consoler P2TP2A yang ada di Polresta Parepare sebab mereka sudah punya ruangan di situ.

Sementara ketua LIDIK PRO, menyayangkan cara-cara penanganan yang dilakukan P2TP2A dalam mengatasi Trauma yang terkesang ada mengintimidasi kemerdekaan korban yang sudah merasa trauma.
“seandainya P2TP2A Parepare, lebih bijak menghadapi pasiennya tentu dia akan senang berada dilingkungannya, tidak perlu lari”. Ujar A.R.Arsyad.
“Seorang Konselor harus dan mampu memberikan terapi, bukan membayyat trauma healing”. (*AD).