A Speck of Hope

oleh
Sastrasuaralidik.com,- Hampa, itu kata yang tepat untuk melafalkan kondisi sekarang. Karena semua tampak gelap dan hitam sejauh mata memandang. Sekelebat muncul setitik cahaya yang kian lama membesar dan menampilkan sesosok gadis sedang duduk terdiam di sudut ruangan. Tatapan kosong yang menyiratkan aura sedih dan kesepian.
“Hah, kenapa aku memimpikan hal aneh itu lagi, seakan-akan semua ini nyata. Tunggu jam berapa ini? Aku harus segera berangkat ke sekolah”. Diliriknya jam beker yang sedari tadi berdering di atas nakasnya.
A Speck Of Hope
Salsabilla
Dengan sigap ia segera berlari ke kamar mandi, meraih handuk di sampingnya dan bergegas. Menghabiskan waktu kurang lebih 15 menit ia sudah turun menuju ruang makan yang terletak di dekat ruang keluarganya. Melirik jam yang melingkar ditangannya dan terburu mengambil sepotong roti menuju ke sekolah.
“Salma Nafirah. Kenapa sih kamu kok buru-buru gituh? Habis di kejar hantu kali ya” tambah laki-laki berperawakan tinggi dan manis itu, tertera Reihan Dirgantara pada name-tagnya.
“Eh, sorry aku lupa udah sampai sekolah. Abis takut kalau telat sih, kan dah mau bel lagian”. Sahut gadis bernama Salma itu.
“Ya udah yuk cabut ke kelas. Siap-siap pelajaran pertama matematika lho!” Seru laki-laki itu menimpali.
Bel masuk pun tak lama berdenting, namun ada hal aneh yang dari tadi dirasakan Salma. Tak biasanya kelas sehening ini dan ada aura mengintimidasi dari teman-temannya. Ia merasa bahwa lirikan itu mengarah kepadanya. Dirinya pun tak mau berprasangka dulu, masa jadi orang baperan alias bawa perasaan. Rumus itu tak ada dalam prinsip hidupnya.
Pelajaran matematika mengalir begitu saja dikepala Salma, tentunya karena ia suka dengan pelajaran itu terutama pelajaran “Aljabar” yang gak dibilang mudah untuk anak kelas 10.
Bel istirahat berdenting kencang seantero sekolah. Mengikuti langkah kaki ke kantin untuk mengisi energi yang terkuras ia berpapasan dengan sahabatnya Putri Zara yang kerap dipanggil Putri oleh teman-temannya. Mereka bercakap-cakap ringan sembari melahap habis makanan yang mereka beli. Tak lama bel masuk pun berdenting.
Merasa lelah dengan semua kegiatan hari ini, Salma segera pulang beberapa menit setelah kelas berakhir. Rumah yang dihuninya tampak sepi, hanya ada dia dan beberapa asisten rumah tangganya. Sudah wajar baginya jika kedua orang tuanya jarang berada di rumah terutama karena kesibukan mereka. Terbiasa melakukan rutinitas kesehariannya, Salma mengambil makan siangnya dan tertidur di kamarnya. Setiap sore Salma akan berjogging di sekitar taman dekat kompleknya.
Entah perasaan atau kebetulan hari ini ia benar-benar malas untuk bersapa dengan sesama pengunjung taman. Tak biasanya gadis yang periang dan selalu tersenyum menampakan kemasaman diwajahnya. Suasana hatinya begitu buruk sepekan ini walau Salma berusaha menetralisir pikiran yang menggangu dirinya. Ditambah sikap teman sekelasnya itu, yang berhasil membuatnya jengah. Ia memutuskan untuk kembali ke rumah dan beristirahat total karena esok hari libur.

Sepekan kemudian…

Hari ini tepat satu minggu keadaan di sekitar Salma berubah. Tak luput suasana hatinya juga ikut berubah. Gadis itu masih bertanya-tanya apa yang sudah ia lakukan, kesalahan apa sehingga membuat dirinya jadi dijauhi. Permasalahan itu membuatnya pening setengah kepalang. Namun, justru berakibat dengan kesehatan yang ia abaikan beberapa hari ini. Ya gadis yang masih berumur 15 tahun itu telah mengidap penyakit ganas. Ia sendiripun tak mengetahui apa nama penyakitnya, karena orang tuanya menutupi itu semua dengan rapat.
Hari telah menjadi siang, Salma berjalan gontai menuju kantin untuk mengisi perut kosongnya. Rupanya, ia berpapasan dengan sahabatnya dan ia benar-benar ingin membagi beban dengan sahabatnya itu.
“Hai Putri, sini gabung semeja denganku. Ada yang ingin aku bicarain sama kamu.” Tawar Salma
“Baiklah, terima kasih tawaranmu. Ada apa? Kok mukamu masam dari tadi? Ada masalah ya?” Tanya Putri menyelidik
“Hhmmmm, Yap tepat sekali. Tau nih aku ngerasa aneh aja sama temen sekelasku. Aku ngerasa mereka jauhin aku. Dan aku gak tahu apa salahku? Aku gak s

uka di diemin sama mereka.” Gusar Salma
“By the way, kamu habis lakuin apa ke mereka sehingga mereka kayak gituh? Coba diinget lagi.” Saran Putri
“Apa ya? Aku gak tahu. Aku baik aja sama mereka. Aku kesepian Putri. Kalian itu obat untuk ngehibur aku. Aku beneran gak suka keadaan ini.” Dengus Salma kesal.
“Yang sabar aja ya!. Udah gak usah terlalu dipikirin. Dari raut wajahmu nampak jika banyak masalah jadi jangan jadiin ini semua beban oke. Ikuti alur saja.”
Senyuman manis terukir dibibir Putri, sedikit menenangkan perasaan Salma.
Percakapannya dengan Putri membuatnya sedikit lega walau semuanya masih dipikirkan oleh Salma. Mendapat kabar dari salah satu asisten rumah tangganya. Dia terburu-buru pulang ke rumah untuk menemui kedua orang tuanya yang baru pulang. Dengan wajah sumringah, berlari menuju kamarnya dan menaruh semua peralatan sekolah sekenanya. Berjalan senang ke arah kedua kamar orang tuanya.
Akan tetapi ia mendengar kedua orang tuanya itu sedang berdebat. Salma urung untuk melanjutkan dan memilih berdiri diam tak jauh dari depan pintu. Orang tuanya terlihat akur, namun kenapa sekarang berdebat. Dirinya pun terpaku dan tak beranjak untuk beberapa menit mendengar semua perkataan itu. Dan cairan bening yang ia tahan beberapa hari ini lolos dari sudut matanya melewati pipi tirusnya itu.
”Mama yang salah. Mama yang kurang bisa ngerawat Salma dan buat ia menderita seperti ini”
“Ini juga bukan sepenuhnya kesalahan Mama. Papa yang selalu sibuk dan tidak membagi waktu untuknya. Ia juga butuh kasih sayang Papa.”
“Iya Papa tau. Tapi kan pekerjaan juga penting, kita juga butuh uang untuk berobat.”
“Salma sendiri seperti tidak sadar jika dirinya sakit. Akhir-akhir ini dia jarang terapi. Padahal penyakitnya itu bukan main-main.”
“Sudah berkali-kali aku memperingatkannya, namun ia tak menggubrisnya. Kenapa ia sesantai itu padahal kita susah payah untuk dia. Cara apalagi yang harus kita lakukan untuknya.
Sungguh perkataan barusan sangat menohok hati Salma. Baru saja dirinya terbang ke atas awan namun sekarang ia berasa jatuh ke jurang terdalam. Air mata sudah tak lagi bisa dibendungnya. Orang tuanya tak mengerti apapun tentangnya. Sama sekali tak mengerti apapun. Dia, dialah yang telah merasakan semua. Dia yang saat ini benar-benar terluka.
Saat orang tuanya tak memperhatikannya dan memutuskan untuk sering pergi. Salma memaklumi. Saat Salma butuh tempat berkeluh kesah dan berbagi saran, ia memendam semua sendiri. Saat teman pelipur laranya mengacuhkannya, ia benar-benar merasa sendiri di dunia ini. Tak ada yang memahaminya, dan ia akan selamanya sendiri dengan kondisi seperti ini.
Salma beranjak pergi ke kamarnya, segera mengunci rapat pintu kayu dihadapannya. Ia terduduk lemas di sudut ruangan . Pikirannya berkecamuk antara marah,sebal, dan kecewa. Ia tak tahu jika penyakitnya separah itu. Walau badannya lemah, ia tak hiraukan. Tak habis pikir pula jika orang tuanya mengira seperti itu. Ia menangis sesenggukan tak henti. Semua mimpi yang menghantui belakangan ini menjadi nyata. Tak ada seseorang yang menemani ataupun menghibur di sisinya. Gadis itu sangat terlarut dengan kesedihannya, dan membawa ke dalam dasar kegelapan. Menumbuhkan setitik hitam luka di hati kecilnya. Luka kedua yang membekas dalam dirinya setelah luka pertama saat ia mengidap penyakit itu. Ia biarkan dirinya dalam posisi itu hingga terlelap dalam kedamaian malam.
Satu bulan kemudian….
Walau sekarang Salma terkesan dengan tatapan dingin dan menusuknya tapi ia masih menyelidiki perihal teman sekelasnya. Dibantu oleh Reihan teman baiknya di kelas. Akhirnya permasalahan itu mendapat titik terang. Dirinya tak menyangka jika inti masalahnya adalah karena dirinya jarang ikut campur urusan kelas dan tak ingin tahu menahu tentang kelas. Ya kalau untuk Salma itu wajar karena ia dulu sedang banyak masalah tentang dirinya terutama penyakitnya. Atas bantuan Reihan, Salma bisa menjelaskan alasannya dan menyelesaikan kesalahpahaman tersebut. Seperti bunga yang lama tak mendapat sinar matahari. Salma menemukan kembali keceriaannya dan sedikit melupakan keadaannya sekarang.
Selama ini juga Salma perang dingin dengan kedua orang tuanya. Ia juga melayangkan tatapan dingin juga kekecewaan pada mereka. Untung saja gadis itu berhasil melewati ujian akhir semester dengan lancar. Dan karena itu pula dia sedikit melupakan masalah dirinya dan orang tuanya. Namun kecemasannya tak kunjung hilang, tak lama lagi liburan apakah ia bisa terus seperti ini. Sebulan saja sangat membuatnya muak dengan keadaan.
Suara ketukan pintu terdengar dari luar kamarnya. Dan menampakkan kedua wajah orang tuanya, yang berusaha Salma hindari sebulan ini.
“Salma tolong maafin Mama sama Papa ya nak. Mama tahu kamu mendengar pembicaraan kami waktu itu. Maaf kami terbawa kesibukan sehingga tersulut emosi kami.” Pinta kedua orang tuanya.
Dengan berpikir panjang dan ia sudah malas. Menurutnya ini juga kesalahannya. Dia tak boleh mengkambing hitamkan orang lain. “Iya Ma,Pa. Salma juga minta maaf selalu repotin Mama sama Papa. Oiya, ma. Darimana kalian tahu itu semua?” tanyanya penasaran.
“Mama lihat kau lebih banyak diam tak seperti biasanya. Dan tak sengaja saat mengecek CCTV saat kami bertengkar. Mama lihat kamu di depan pintu, mungkin itu alasan kamu mendiamkan kami. Mama sayang kamu Salma.. Maafin mama ya nak.” Isak Mama dengan tulus.
“Salma ini ada kado buat kamu. Mungkin kau terlalu penat dengan masalah yang telah kau hadapi. Kami berencana untuk mengajak kamu berlibur ke Lombok. Menghirup udara segar juga membuatmu melupakan masalah itu.”
“Terima kasih Ma,Pa. Salma sayang sama kalian berdua.”
“Tetap semangat ya sayang. Mama sama Papa yakin kamu pasti sembuh. Karena yang menentukan itu semua Tuhan. Dokter hanya memprediksi saja. Terus berusaha dan berdoa nak”
Sore hari yang membahagiakan. Harapan itu tak akan hilang. Walau harapan itu sangat kecil tapi tanamkan harapan dalam diri kita. Pilihan ada ditangan kita. Kita berhak memilih jalan hidup itu. Entah itu baik atau buruk. Maka jalani hidup dengan lapang dada. Karena semua telah ditakdirkan. Pahit manis kehidupan adalah warna dari hidup itu sendiri. Tetaplah menatap hidup dan raih cita-cita setinggi mungkin. Semangat.
Salsabilla Rohadatul’Aisy biasa di panggil lala atau Salsa, terserah deh. Dan sekarang aku masih duduk di bangku Man 2 Kota Madiun sebagai anak kelas X MIA 5. Hobi aku dari dulu membaca, menulis, dll. Yang mau kenal lebih deket bisa Follow IG aku ya : @Salsabilla_aisy. Terima Kasih atas perhatiannya.