A.Taufan Tiro (Angt DPRI) di Tersangkakan oleh KPK

oleh

JAKARTA, Lidik NEWS        AnggotaDPR RI dari Partai Amanat Nasional daerah pemilihan Sulawesi Selatan, Andi Taufan Tiro ditetapkan menjadi tersangka.

Penetapan dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi yang diumumkan, Rabu (27/4/2016).

Taufan menjadi tersangka atas kasus suap proyek ijon infrastruktur di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Juga ikut ditetapkan sebagai tersangka, Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah IX Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Amran.

Penetapan tersangka disampaikan Pelaksana Harian Kabiro Humas KPK Yuyuk Andriati.

“Dalam pengembangan tindak pidana korupsi penerimaan hadiah atau janji kepada anggota DPR, KPK kembali menetapkan tersangka ATT, seorang anggota Komisi V DPR,” ujar Yuyuk Andriati di Gedung KPK, Jakarta, Rabu (27/4/2016).

Sebelumnya, anggota Komisi V tersebut disebut menerima suap dari Direktur Utama PT Windhu Tunggal Utama Abdul Khoir.

Hal tersebut diakui oleh Jaelani, staf ahli anggota DPR yang bertugas sebagai perantara suap, saat memberikan keterangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Senin (18/4/2016).

“Saya mengejar Pak Musa, biar mau terima duit yang diserahkan Pak Abdul Khoir lewat saya,” ujar Jaelani kepada Majelis Hakim Pengadilan Tipikor, Jakarta.

Menurut Jaelani, awalnya ia dihubungi Abdul Khoir dan dijelaskan mengenai adanya 3 paket pekerjaan yang nilainya mencapai Rp 150 miliar.

Kepada Jaelani, Abdul menjelaskan bahwa berdasarkan kode, paket pekerjaan itu milik anggota DPR Musa Zainuddin.

Menurut Jaelani, Abdul mengaku telah membicarakan paket pekerjaan senilai Rp 150 miliar tersebut kepada Musa, sehingga ia hanya menindaklanjuti pertemuan keduanya.

Abdul kemudian menyerahkan uang secara bertahap kepada Jaelani, melalui staf Abdul bernama Erwantoro.

Menurut Jaelani, uang yang diberikan Abdul totalnya lebih dari Rp 12 miliar. Uang tersebut tidak hanya bagi Musa, tetapi juga bagi Andi Taufan Tiro.

Adapun, uang bagi Andi Taufan terkait dana aspirasi untuk pekerjaan di Maluku.

“Uang diserahkan bertahap pada November ke saya, total untuk Pak Musa Rp 8 miliar, Pak Andi Taufan Tiro Rp 4 miliar, semuanyacash,” kata Jaelani.

Menurut Jaelani, pemberian bagi Musa dilakukan melalui salah satu orang yang ditunjuk langsung oleh Musa untuk menerima uang.

Sebelumnya, dalam pembicaraan melalui telepon, Jaelani dan Musa telah sepakat mengenai mekanisme penyerahan uang.

Penyerahan dilakukan di Jalan Duren Tiga Timur, di depan pintu masuk Komplek Perumahan Anggota DPR, Jakarta Selatan.

Penyerahan dilakukan di area parkir, sekitar pukul 09.00. Adapun, uang yang diberikan kepada Musa jumlahnya sebesar Rp 7 miliar.

Sementara itu, sisa uang sebesar Rp 1 miliar, menurut Jaelani, diberikan kepadanya oleh Abdul Khoir.

Kemudian, berikutnya Jaelani menyerahkan uang kepada Andi Taufan Tiro dalam beberapa tahap.

Pertama, Jaelani memberikan uang secara langsung kepada Andi Taufan Tiro di pinggir jalan, di dekat Komplek Perumahan Anggota DPR, Kalibata, Jakarta Selatan, pada jam 02.00 dini hari.

Pada pertemuan tanggal 10 November 2015 tersebut, Jaelani menyerahkan uang sebesar Rp 2 miliar kepada Andi Taufan Tiro.

Penerimaan suap yang dilakukan Musa dan Andi Taufan juga disebut dalam surat dakwaan Abdul Khoir yang dibacakan Penuntut Umum dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) beberapa waktu lalu.

Kasus suap ini terkait proyek pembangunan jalan di Maluku dan Maluku Utara di bawah Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.image