Bina Desa Salassae; Pembangunan dan Kerja Sistematika Menghancurkan Kehidupan petani, Nelayan, dan Perempuan di Pedesaan

oleh
Bina desa Salassae
Bina desa Salassae

Bulukumba–Lidik Sulsel–, Bina Desa Salassae Kabupaten Bulukumba, menggelar kegiatan yang bertajuk Refleksi Nasional Komunitas Pedesaan.

 

Acara yang di Hadiri oleh peserta Lokal maupun lintas Provensi turut hadir, melibatkan jaringan bina desa di pulau jawa, sumatera dan juga sulawesi barat dan sulawesi tengah. Dari Aceh 2 orang, Sumatera Barat 2 orang, Orang dari Jawa Barat, 4 Orang dari jawa tengah selatan, 4 orang dari jawa tengah utara, 4 orang dari jawa timur, 4 orang dari sulawesi tengah, 4 orang dari sulawesi barat, dan 10 orang dari Sulsel.

Sejumlah kebijakan yang ditetapkan pemerintah seolah untuk kepentingan masyarakat, sesuai UU No.6 tahun 2014 tentang desa, yaitu memberikan ruang yang bebas menentukan yang terbaik untuk desanya, namun itu terbantahkan karena ada pasal-pasal yang saling bertentangan didalamnya, misalnya; keputusan desa juga harus mengacu pada rencana strategis pembangunan Kabupaten. Selain itu, UU ini juga dinilai beberapa pihak memberikan ruang akses bagi pemodal (Investor) untuk semakin jauh menguasai sumber daya Alam di Pedesaan.

Hal ini juga sejalan dengan ideologi pembangunan modernisasi di Negara ini, dari yang klasik “tradisional”, menjadi yang “modern”, yang meniti beratkan pembangunan pada ruang investasi baik lokal maupun asing, untuk memenuhi permintaan pasar dan kepentingan ekonomi komoditas Global. Artinya, perubahan dipedesaan merupakan hal yang bukan alamiah tetapi merupakan kerja sistematis dan terencana untuk menghancurkan kehidupan petani, nelayan, dan perempuan di pedesaan.

Sensus pertanian 2013 mencatat, 1 rumah tangga hilang dalam setiap menit (59/RTP/Jam), 14,7 Ha laham beralih funsi perjam (353Ha/hari). Tanah-tanah di pedesaan beralih fungsi menjadi areal pertambangan, jembatan, pabrik, dan lain sebagainya. KPA mencatat dari tahun 2004 sampai tahun 2015, terjadi konflik agraria di Indonesia sebanyak 1.772 kasus, dengal luas tanah 6,9 juta Ha, melibatkan 1,1 juta rumah tangga.

Hal inilah yang menjadi acuan atau breangtorming kegiatan, yang rencananya dilaksanakan Rabu 25- minggu 29 Mei 2016 kedepan, diadakan di Desa salassae Kabupaten Bulukumba, dan Salassae sebagai tuan rumah kegiatan.

 

Sekjen Federasi Petani Yang terlibat dalam kegiatan ini, Menurutn Armin Salassa, “ini kegiatannya Bina Desa Jakarta, hanya saja dilaksanakan di salassae. Kawan-kawan datang itu untuk belajar bersama kita disini, karena kegiatan ini merupakan Refleksi pengorganisasian bina desa wilayah jawa dan sulawesi, tak lain adalah untuk pengorganisasian komunitas pendampingan bina desa dan merumuskan peta jalan gerakan sosial pedesan yang mampu memjawab tantangan yang semakin kompleks di Negeri Ini”, Papar Armin Salassa Saat di Komfirmasi.

“Melalui kegiatan ini juga, kita dapat bertukar informasi akan pengorganisasian bina desa diwilayah masing-masing, dan juga peningkatan kapasitas dan keyakinan akan kerja-kerja pengorganisasian komunitas pedesaan”. Tambahnya.

AL#