Air Sungai Desa Buyat Terkontaminasi Bakteri Fecal Coliform

oleh
Foto Tim DLH saat pengambilan sampel di sungai Buyat
Foto : Tim DLH saat pengambilan sampel di sungai Buyat

Boltim – suaralidik.com, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), turunkan tim yang dipimpin oleh Kasie Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup Melkie Mais, guna memantau kualitas air sungai Desa Buyat, Kecamatan Kotabunan, Rabu 7/11.

Melkie mengatakan, beberapa waktu lalu pihaknya telah lakukan pengambilan sampel air sungai Buyat di tiga titik yakni disekitar Bendungan Buyat, Jembatan Buyat dan Bubuan.

“Ketiga titik tersebut mewakli hulu sungai, tengah sungai dan hilir sungai,” ungkap Melkie.

Kata Melkie, sampel air sungai yang diambil sudah dikirim langsung hari itu juga ke Laboratorium WLN Manado untuk menjalani uji Lab. Melkie menjelaskan bahwa hasil uji Lab biasanya akan keluar dalam waktu dua minggu setelah sampel air diterima pihak Lab.

“Berdasarkan hasil uji Laboratorium kami bisa mengetahui dan menentukan status mutu air sungai Buyat, apakah layak atau sudah tercemar,” jelasnya.

“Status mutu air sungai tersebut akan kami sampaikan kepada pimpinan DLH (Kadis) untuk selanjutnya bisa diinformasikan kepada masyarakat di Desa Buyat,” sambung Melkie.

Disisi lain, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Sjukri Tawil mengatakan, penelitian yang dilakukan DLH terhadap air sungai Buyat menunjukan bahwa air sungai Buyat tidak memenuhi syarat untuk dimanfaatkan secara langsung karena terkontaminasi Bakteri Fecal Coliform.

“Pengujian terhadap sampel air yang diambil Oktober lalu menunjukan bahwa konsentrasi Bakteri Fecal Coliform antara 1700-17000 jml/100 ml. Padahal baku mutunya hanya 100 jml/100 ml agar aman dan bisa digunakan sebagai air baku minum,” terang Sjukri belum lama ini.

Lanjut Sjukri, BFC adalah bagian dari kelompok Bakteri Coliform yang terdapat secara spesifik dalam saluran usus dan feses manusia maupun hewan berdarah panas. Keberadaan bakteri ini menujukan adanya bakteri patogen lain. Misalnya Shigella yang dapat menyebabkan diare hingga muntaber.

“Beruntung dampaknya kepada penduduk Buyat tidak signifikan karena penduduk Buyat tidak menggunakan air sungai sebagai sumber air minum,” tukasnya.

Selama ini, lebih lanjut kata Tawil, sumber utama air minum masyarakat Buyat berasal dari mata air Lotung, mata air Bukaka, dan air dari sumur yang ada di masing-masing warga, hampir tidak ada yang menggunakan air sungai untuk dikonsumsi.

“Adapun pemanfaatan lain seperti mandi, pembudidayaan ikan air tawar dan peternakan atau mengairi tanaman, itu masih memungkinkan karena konsentrasi zat-zat pencemarnya hanya sedikit berada diatas baku mutu (tercemar ringan),” tutupnya. (***bob)