Advertizing

banner 728x250

AKM Itu Tidak Penting, Untuk Apa Dibicarakan??

  • Bagikan
Muhammad Ramli Rahim (Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia)

MAKASSAR,SUARALIDIK.com – Dahulu kala, sebelum lulus dari SD, SMP, dan SMA, anak didik akan menghadapi ujian kelulusan. Nama ujiannya sendiri terus mengalami perubahan. Ada Ujian Penghabisan (1950-1960an), Ujian Negara (1965-1972), Ujian Sekolah (1972-1979), Ebtanas (1980-2000), Ujian Akhir Nasional (2001-2004), Ujian Nasional (2005-2013-an), dan Ujian Nasional Berbasis Komputer (2014-2020) 

Masing-masing ujian di atas berbeda. Kita ambil contoh Ujian Akhir Nasional (UAN) dan Ujian Nasional (UN). Salah satu perbedaan UAN dan UN yang paling mencolok adalah standar kelulusan untuk SMA dan SMK. Pada UN 2010, khususnya, nilai mata pelajaran praktik kejuruan harus mencapai angka minimal 7,00. 

banner 728x250

Kembali ke Tahun 2021. UN tak ada lagi, dan akan digantikan oleh Asesmen Nasional (AN). Tapi apa itu asesmen? Apakah ini semacam ujian seperti UN, tapi beda nama saja? 

Asesmen adalah proses penilaian, pengumpulan informasi dan data secara komprehensif. Sedangkan Asesmen Nasional adalah pemetaan mutu pendidikan pada seluruh sekolah, madrasah, dan program kesetaraan jenjang dasar dan menengah. Singkatnya, Asesmen Nasional adalah program penilaian terhadap mutu setiap sekolah. 

Mengacu pada Mendikbud, perbedaan assesment nasional dengan UN adalah bahwa Asesmen Nasional tidak lagi mengevaluasi capaian murid secara individu. Melainkan, yang dievaluasi pada assessment adalah pemetaan input, proses, dan hasil sistem pendidikan 

Lalu , bagaimana dampak Asesmen Nasional buat kita? Akan seperti apa perbedaan asesmen dan UN nanti? 

Buat siswa, assessment artinya: 

– tidak menentukan kelulusan 

– tidak diberikan di akhir jenjang 

– hasilnya tidak memuat nilai secara individu. 

Menurut penjelasan Kemendikbud, pelaksanaan Asesmen Nasional nanti tidak akan melibatkan seluruh siswa. Pada setiap SMP/ MTs dan SMA/ MA/ SMK, akan dipilih maksimal 45 siswa sebagai responden. Inilah yang nantinya akan menjadi perbedaan assesment nasional dengan UN. 

Nah, karena assessment ini adalah pemetaan maka sesungguhnya sekolah tak perlu menguras energi untuk mempersiapkan apapun, biarkan terjadi secara alami agar pemerintah pusat mendapatkan data yang betul-betul merupakan data valid yang bisa ditindaklanjuti. 

Justru ketika sekolah mempersiapkan  khusus siswanya menghadapi assessment ini maka kembali lagi akan ditemukan data palsu yang bukan gambaran sesungguhnya hasil dan perkembangan belajar siswa di daerah dan di sekolah tersebut. 

Jadi sudahlah, biarkan assessment itu berjalan alami dan kita tunggu apa yang akan dilakukan pemerintah pusat setelah melihat hasil assessment tersebut,. 

Mari berhenti membangun kepalsuan dunia pendidikan dengan menampilkan wajah pendidikan kita sesungguhnya tanpa bimbel khusus tanpa persiapan khusus. 

Saya sudah mendirikan bimbel sejak 20 tahun lalu dan saya sering sesumbar, saya bisa meluluskan siswa di jurusan bahasa Inggris meskipun tak bisa sama sekali berbahasa Inggris, bisa meluluskan siswa di jurusan matematika meskipun tak paham sedikitpun matematika dan tak jarang siswa kami meskipun dari jurusan IPS tapi lulus di fakultas kedokteran,  semua itu karena kita sukses membangun kepalsuan memaksimalkan celah aturan yang ada demi tujuan. 

Maka jika assessment ini dipersiapkan dengan baik oleh guru untuk siswanya, apalagi sampai dibimbelkan maka yakinlah, data-data palsu kembali akan kita temukan dan pendidikan kita tidak akan lebih baik, yang ada adalah kebanggaan palsu karena deretan nilai hasil assessment yang bagus tapi kualitas siswa tetap dibawah standar dan lagi-lagi Kemdikbud terbuai dengan semua itu. 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *