Aktivis PRD Bulukumba Desak Polsek Bulukumpa Proses Kasus Penganiayaan Warga Salassae

oleh
Korban penganiayaan warga Desa salassae, Arifuddin bersama Tontong /SUARALIDIK.com

BULUKUMBA,SUARALIDIK.com— Kasus Penganiayaan yang di alami oleh Arifuddin bersama Tontong, warga Desa Salassae Kecamatan Bulukumpa Kabupaten Bulukumba yang dilakukan oleh pelaku Ramli, pada bulan Maret 2017 lalu hingga saat ini belum dilakukan proses hukum oleh pihak Polsek Bulukumpa Polres Bulukumba.

Korban penganiayaan warga Desa Salassae, Arifuddin bersama Tontong /SUARALIDIK.com

Bahkan pelaku Ramli masih tetap bebas berkeliaran di Desa Salassae sehingga membuat kerabat korban merasa kecewa terhadap kinerja aparat Polsek Bulukumpa terlebih Kapolsek yang seakan menutup mata atas kasus Penganiayaan tersebut.

Lambatnya penanganan proses hukum terhadap pelaku Ramli mendapat sorotan dari Muh.Arfah, salah seorang aktivis yang juga Ketua Partai Rakyat Demokratik (PRD) Bulukumba yang menilai Kapolsek Bulukumpa beserta anggotanya lambat memproses kasus yang telah menimpa Ramli beserta mertuanya Tongtong tersebut.

Kasus penganiayaan di Desa DSalassae pada tanggal 5 Maret 2017 lalu belum membuahkan hasil, tindakan penganiayaan yang dilakukan tersangka Ramli terhadap Arifuddin dan mertuanya Tontong masih mengendap di laci penyidik Polsek Bulukumpa “ucap Arfah, Kamis (11/05/2017) siang kerpada tim SuaraLidik.com.

Sementara itu, korban Arifuddin yang bersama-sama dengan Arfah menyampaikan bahwa dirinya telah dianiaya bersama mertuanya oleh pelaku Ramli pada Minggu tanggal 5 maret 2017 menjelang Magrib.

Saat itu, pelaku mendatangi rumah mertua saya Tontong dan langsung marah-marah sambil memukul kami berdua. Setelah kejadian tersebut,kami segera memberikan laporan ke Mapolsek Bulukumpa. Namun, hingga hari ini, kami merasa kecewa dengan kinerja anggota Polsek Bulukumpa yang tidak merespon laporan kami “tutur Arifuddin.

Atas lambatnya kasus tersebut diproses, Arfah yang di dampingi rekannya Syamsir menduga ada upaya yang sengaja memperlambat penanganan laporan korban tersebut.

Dirinya pun merasa sinis terhadap Polisi yang mempunyai slogan Pengayom Masyarakat. “Bagaimana mau melindungi masyarakat jika laporan yang telah masuk pada bulan Maret saja hingga hari ini tidak ada kejelasan sampai dimana prosesnya,bahkan pelaku Ramli masih bebas berkeliaran.”ucapnya.

Arfah mengatakan dalam waktu dekat ini,dirinya akan memberikan laporan di Mapolda Sulsel terkait kinerja aparat Polsek Bulukumpa Polres Bulukumba yang dinilai tidak komitmen dan konsisten jalan menjalankan Tupoksinya.

Mereka tidak bekerja bahkan terkesan melindungi pelaku ” tutup Arfah. ( GHOES/RED2)