Balabbara Longsor, Pemuda Desa Anggap Kepemimpinan SBY Lempar Batu Sembunyi Tangan

oleh
Kondisi tanah longsor di Sinjai
Kondisi tanah longsor di Sinjai

SINJAI,suaralidik.com – Beberapa hari terakhir ini, hujan deras mengguyur kabupaten Sinjai, banjir dan tanah longsor terjadi di beberapa kecamatan, Senin, (14/5/18).

Salah satunya di kecamatan Sinjai Barat, di desa Turungan Baji. Longsor terjadi di jalan Balabbara yang selama ini berpolemik dan menimbulkan kontravesi diberbagai kalangan.

Menurut Asbulla sebagai pemuda Desa, sangat wajar jika masyarakat menolak pengalihan jalan, karena memang berpotensi merusak silaturahmi dan mata pencaharian penduduk.

“Makanya dari kemarin kami teriak-teriak bahkan sampai ke DPRD dan Bupati, inimi yang kami takutkan, bagaimana kalau sudah begini? Longsor dimana-mana, kebun warga juga ikut tertimbung, belum lagi mata air yang tercemari akibat longsor, kira-kira apa pendapatnya pemerintah ini kalau sudah begini? Jangan sampai lempar batu sembunyi tangan” Ujar Asbulla, Senin (14/05/18).

Keresahan warga bukan tanpa dasar, sebagai warga yang bermukim disana tentu ia paham mana jalan yang patut di perjuangkan untuk dialihkan atau tidak.

“Pengalihan itu sudah menjadi pertimbangan, kami kan sudah mengingatkan bahwa disana rawan longsor, makanya dipertimbangkan itu mana yang memiliki banyak manfaat bukan karena banyak uang proyeknya kalau itu yang dikerja jadi pemerintah seenaknya saja” Cetus Asbulla yang juga salah satu mahasiswa Universitas Negeri Makassar.

Lebih jauh Asbulla mengaku, “Kami masih ingat ketika pak Sabirin ke Desa kami bersama ketua DPRD Sinjai dan rombongannya, berjanji memperbaiki jalan di sappiareng yang mulanya jalan poros yang katanya dialihkan ke balabbara dan akan mengkomunikasikan lebih lanjut baiknya bagaimana. Tapi kalau begini bagaimanami? Nda adami suaranya semua, sibuk kampanye mi, dilupa maki mungkin” Ucap Asbulla.

Diketahui, menurut penjelasan Asbulla, jalan poros sappiareng dimasa kepemimpinan SBY-Fajar telah diusulkan dan dijanji akan dikerjakan, namun belum terealisasi jalan tersebut seolah akan dilupakan dan malah bukan diperbaiki tetapi akan dialihkan, hal itu mengiris hati kami, seolah anak kecil yang di janji kerupuk, hanya bisa menangis ketika janjinya tidak ditepati, kami kurang didengar, mungkin beliau-beliau itu menganggap kami masyarakat yang bodoh dan tidak tau menahu” Jelas Asbulla

Ia menganggap bahwa masa pemerintahan SBY-Fajar selama ia dilahirkan itu adalah masa kepemimpinan yang penuh dengan drama.

“Kepemimpinan yang tidak becus, kami seolah seperti cerita di sinetron yang menunggu episode-episode dari janji-janjinya hingga selesai menjabat. Tapi lebih bagus sinetron, diakhir biasa senangji, kita kodong? Liat sendiri maki” Urai Asbulla.(***Hdyt/Andi)