Bantah Pelayanan ke Pasien Bobrok, Dirut RSUD Bulukumba Kritik Dokter Puskesmas

oleh
Pelaksana Tugas Kepala RSUD Sultan Dg Radja Bulukumba, dr. Abdur Rajab.
Dirut RSUD Sultan Dg Radja Bulukumba, dr. Abdur Rajab.

BULUKUMBA – Menanggapi berbagai keluhan soal pelayanan RSUD yang dikatakan Bobrok terkait pasien bernama Wina Rizkanevia (14), pasien yang dirawat di RSUD H.Andi Sulthan Daeng Radja, Kabupaten Bulukumba dengan alasan pihak keluarga pasien mengaku ponakannya tidak dilayani dokter di Rumah Sakit, itu sama sekali tidak benar.

Pernyataan itu disampaikan langsung Direktur RSUD H.Andi Sulthan Daeng Radja, dr. Abdur Radjab, Sabtu (11/11/17).

Dirinya menjelaskan, jika pasien masuk UGD dengan nyeri perut menurut dari dokter Puskesmas usus buntu kata keluarganya.

Namun, berdasarkan hasil pemeriksaan dokter UGD dan hasil pemeriksaan laboratorium tidak mengarah ke usus buntu sehingga dikonsultasi kepenyakit dalam dan sudah dirawat dan diberi pengobatan sesuai penyakitnya.

“Hanya kolik abdomen dan pasiennya tidak mengeluh sakit dan dokter ahli tidak merasa perlu pemeriksaan USG. SPO sudah sesuai perosedur dan tidak membedakan pasien. Adapun pasien dititip sementara di ruang perawatan Kelas 3 karena keterbatasan kamar,” ungkapnya.

Lebih jauh dia menjelaskan, pasien masuk IGD tanggal 9 Nopember 2017 pagi, setelah lengkap pemeriksaan dan konsultasi dokter ahli penyakit dalam, pasien baru dipindahkan keperawatan kelas 2 sekitar jam 15.00 sore hari.

Lanjut dr. Radjab, sebagai bahan pertimbangan bila ada pertemuan IDI mohon disampaikan kepada para TS di Puskesmas agar tidak menjanjikan jenis- jenis pemeriksaan yang akan dilakukan di rumah sakit.

“Sering kita terjepit karena pasien memaksa untuk diperiksa ini dan itu sesuai pesanan dokter Puskemasnya, padahal tidak ada indikasi,” tegasnya.

Pihak dokter umum dan dokter spesialis RSUD H.Andi Sulthan Daeng Radja mengemukakan, pasien merasa tidak terlayani karena obatnya melalui infus yang diberikan sesuai intruksi dokternya.

“Saat itu memang pasien bertumpuk di UGD sampai tidak ada lagi tempat tidur kosong. Sedangkan kamar yang layak pakai di perawatan juga penuh, pasien tidak bisa di bawa ke perawatan, semua stagnan di UGD. Daripada pasien harus bertumpuk di UGD atau tidur di lorong akhirnya kamar yang tidak layakpun (kamar mandi rusak) ditawarkan ke pasien dan keluarga pasien degan menggunakan toilet lain diluar kamar,” terang dr.Radjab.