Berkunjung ke Bulukumba, Ini Pesan Kajati Sulsel

oleh
Jan Samuel Maringka

BULUKUMBA, Suaralidik.com – Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan (Kajati SulSel) Jan Samuel Maringka diberi gelar adat Putu Lambeng yang memiliki arti sesuatu yang selalu bergerak naik.

Kajati Sulsel, Jan Samuel Maringka Saat Berkunjung ke Kajang, Bulukumba. Minggu (15/10/17).

Karena Jan Maringka seorang pejabat, maka menurut Ammatoa, Putu Lambeng itu artinya pejabat yang karirnya selalu menanjak naik.

Jan Maringka mengaku terkesan berkunjung di kawasan adat Ammatoa tersebut. Menurutnya inilah kekayaan adat, kekayaan budaya, dan kekayaan hukum yang miliki oleh bangsa Indonesia. Perbedaan budaya yang ada di Indonesia, tambah Jan Maringka haruslah kita jaga dan lestarikan bersama.

“Kita bersyukur di wilayah ini ada ketentuan hukum adat yang secara konsisten dan turun temurun dipelihara oleh warganya. Olehnya itu mari kita semua menjaga tradisi budaya ini untuk tetap lestari,” ajak Jan Maringka saat menyampaikan sambutan.

Sebagai institusi yudikatif, pihak kejaksaan juga, tambah Jan Maringka memiliki tanggungjawab dalam menjaga hukum adat Ammatoa sebagai kekayaan hukum yang dimiliki oleh negara Indonesia.

Selain itu menurut Kajati, keberadaan aparat penegak hukum bukan momok, melainkan sahabat. Sekarang ini, bagaimana aparat penegak hukum khususnya Kejaksaan bisa bersama-sama melakukan penyuluhan hukum, agar masyarakat sadar dan taat hukum, pola pikir harus dirubah, bagaimana supaya pelanggaran hukum bisa ditekan, dengan menumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap hukum itu sendiri.

“Penegakan hukum bukan mencari-cari kesalahan dan bukan sebuah industri yang mengejar jumlah produk. Namun keberhasilan penegakan hukum itu jika mampu menekan tingkat kejahatan,” tutur Jan Maringka.

Usai mengunjungi kawasan adat Kajang, Kajari yang didampingi Istri dan rombongan melanjutkan kunjungan bertolak ke kawasan pembuatan perahu Pinisi di kecamatan Bonto Bahari.

Sementara itu, Bupati AM Sukri Sappewali mengatakan Pemerintah Daerah akan terus berupaya menjaga kearifan lokal, khususnya di kawasan Adat Ammatoa.

“Keberadaan masyarakat adat Kajang ini telah mendapatkan pengakuan dari pemerintah pusat melalui Surat Keputusan Presiden RI terkait hutan adat yang dikelola oleh masyarakat adat sendiri,” ujar Bupati A.M Sukri.