Bintang di Tubuhmu Puisi Darah Mimpi

oleh

Kau adalah gadis lugu dengan senyum sinismu memandang milyaran bintang yang bertebaran di angkasa,

Berkali-kali melayangkan harap bersayap bunga kemboja,

Kau menulis takdir tentang kekagumanmu pada bintang kejora, di matamu ia bukan hanya mengagumkan, melainkan juga menghidupkan jiwa-jiwa hampa yang diluberi nestapa.

Kini, puluhan titik bintang hinggap di tubuhmu, merah memukau jelas dalam pandang, bahkan ia bertabur di dagumu, menyebar di lehermu, bergerombol di dadamu.

Kunang-kunang malam menganggap tubuhmu sebagai langit bertuan, berhiaskan bintang merah tajam.

Anehnya, kau tidak terima! Kau umpat bintang-bintang.

Kau remas tubuhmu sendiri, kau cengkeram kuat-kuat, kau goreskan ujung kuku-kukumu.

Andaikan saja engkau mampu, maka hendak kau cungkil satu persatu bintang yang menyatu dengan tubuhmu,

Bintang-bintang merah itu membuatmu kehilangan kendali, juga membuatmu berhalusinasi masuk ke dalam neraka.

Kau berguling-guling, kau bangun lantas melompat-lompat, berteriak mendinginkan tubuh. Meminta segala ramuan, berusaha mengusir bintang-bintang.

Mantra kau ucap dengan pikiran yang kacau, lantas kau tersungkur.

Bintang-bintang merah di tubuhmu melahab seluruh tenagamu.

Kau tak tahan lagi, malam-malam ketika kunang mulai berkeliaran, engkau lari meringkas jarak, menemui seorang tabib yang kau anggap mampu melenyapkan bintang-bintang.

“Gadis kecil, apa yang kau cerna pagi kemarin?”

“Kerupuk udang.”

Ia tersenyum, memandangmu kasihan, lantas bersabda. Kau terkena alergi, maka biarlah bintik merah-merah itu menjadi bintang di tubuhmu beberapa waktu.

Darah Mimpi
Magelang, 28 Agustus 2017.


Abdul Nazaruddin

Rujadi

H.Askar

Harris Pratama