banner 728x250

Boltim Butuh Pemimpin Merakyat, Bukan yang Baru Muncul & Pamer Kemapanan

  • Bagikan
Kantor Bupati Bolaang Mongondow Timur provinsi Sulawesi Utara.
Kantor Bupati Bolaang Mongondow Timur provinsi Sulawesi Utara.

BOLTIM, Suaralidik.com – Pemilihan Bupati (PILBUB) kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) dalam pemilukada (Pilkada) serentak tahun 2020 ini, adalah ajang adu program dan strategi 3 pasangan calon (paslon). Siapa yang paling disukai masyarakat Boltim, dialah yang akan terpilih jadi jawara sekaligus pemimpin daerah ini dalam satu periode ke depan.

Para pendukung paslon mencoba mempengaruhi pemilih dengan prestasi mentereng kandidat jagoannya. Baik itu karir politik, jabatan di pemerintahan, atau kemapanan para calon, yakni besarnya harta dan kekayaan mereka.

banner 728x250

Belum lama ini, legislator DPR RI dari PDI Perjuangan dapil Sulawesi Utara, Herson Mayulu, mencoba berkeliling Boltim dan “menjajakan” calon Bupati yang diusung PDI Perjuangan. Herson dalam pemberitaan media yang mewawancarainya, juga dalam video yang disebarkan melalui beberapa akun medsos, menegaskan bahwa Suhendro Boroma dan Rusdi Gumalangit, sebagai calon Bupati dan wakil Bupati Boltim, diyakini akan memajukan daerah. “Mengapa masyarakat Boltim harus memilih SBRG (Suhendro Boroma Rusdi Gumalangit-red)? Agar Boltim bisa lebih maju. Dengan pemimpin yang baru. Yang tidak memiliki ambisi kekuasaan, tapi berjuang demi rakyat. Pak Hendro ini, kalau ingin pikir diri pribadi so hidop (sudah mapan-red). Sebagai direksi utama di Jawa Post grup. Tapi beliau terpanggil melihat kondisi daerah yang tertinggal beliau datang mencalonkan Bupati di sini,” tutur Herson.

Pernyataan mantan Bupati Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel) tersebut menuai beragam tanggapan. Aktifis pemuda Boltim, yang juga sekretaris DPD KNPI Boltim, Haykal Mokoagow, mengatakan bahwa kategori pemimpin yang dibutuhkan rakyat Boltim sekarang bukan hanya sekedar mapan secara ekonomi. Namun harus yang benar-benar merakyat, artinya, tahu kondisi rakyat di daerah hingga pelosok dan memahami keberadaan mereka. “Dari pemikiran kami sebagai pemuda, calon Bupati yang hanya mengandalkan kemapanan atau prestasi mentereng di perusahaan atau lembaga tertentu, bukan jaminan bisa jadi pemimpin yang tepat bagi rakyat Boltim. Rakyat tidak butuh Bupati yang kaya harta dan jabatan sebelumnya, tapi mereka butuh pemimpin yang faham dan bisa mengakomodir kepentingan mereka. Kalo cuma sekedar mapan, dan mengaku ingin memajukan daerah, semua bisa bicara seperti itu,” tegas Mokoagow.

Menurutnya, Boltim terkenal punya pemimpin seperti Sehan Landjar, bupati Boltim saat ini, yang memiliki jiwa merakyat yang begitu masyhur hingga bisa menjadi contoh secara nasional. Bagaimana Eang, sapaan akrab Sehan Landjar, berani memperjuangkan hak-hak rakyatnya dengan berbagai kebijakan populis melalui anggaran pemerintah daerah, termasuk menerobos kakunya birokrasi pemerintah pusat terkait bantuan Covid-19 hingga dia berani melawan kebijakan menteri. “Warga Boltim punya standar pemimpin merakyat, yakni Bupati kita saat ini, pak Sehan Landjar. Beliau terkenal sangat dekat dengan rakyat karena mau turun di tengah masyarakat dan mengetahui langsung persoalan rakyatnya. Beliau selalu turun ke desa-desa, mau menerima siapa saja di rumah jabatan Bupati, tanpa sekat tanpa protokol yang berlebihan. Kebijakan beliau yang pro rakyat seperti pembagian tanah kintal kepada rakyat yang tak mampu beli, tunjangan bagi para lansia, dan berbagai program lainnya. Ini standar yang sangat tinggi, dan jarang yang mampu melakukan ini,” ujar Mokoagow.

Aktifis yang dikenal sangat vokal dan sering memimpin aksi demo pemuda kampus ini, menegaskan bahwa para calon yang banyak mengandalkan tokoh dan figur dari kalangan pengusaha dan politisi luar daerah yang kurang faham dengan Boltim, akan mendatangkan pengaruh negatif di daerah. “Bisa jadi kalangan pengusaha luar daerah itu nanti yang akan mengambil peran pengusaha lokal ketika nanti mereka terpilih. Politisi dari luar daerah ini dengan jaringan korporasi yang mereka bawa, bisa saja punya niat untuk menguasai seluruh potensi yang ada di daerah. Rakyat Boltim juga perlu hati-hati dengan model seperti ini, karena sudah banyak contoh. Daerah yang saat pilkada disupport oleh donatur dari luar, ketika mereka terpilih, imbalannya adalah proyek, sumber daya alam dan banyak potensi lainnya dikelola oleh para donatur. Ini berbahaya, karena rakyat Boltim hanya jadi penonton di rumahnya sendiri,” ungkap Mokoagow.

Mantan pengurus kerukunan pelajar dan mahasiswa Boltim ini berharap, rakyat Boltim terutama para pemuda, bisa lebih cermat memilih pemimpin di saat pilbup nanti. Jangan terjebak dalam pragmatisme pilihan, atau hegemoni ketokohan atau paksaan dari oknum tertentu. Yang menentukan nasib dan masa depan daerah ini adalah rakyat Boltim sendiri, bukan orang luar daerah yang hanya mencari tenar atau kepentingan pribadi. “Apalagi pilihan kita hanya atas dorongan dari orang luar daerah yang prinsipnya tak paham dengan kondisi kita. Hanya datang saat pemilihan saja, cari suara kemudian ketika terpilih sudah tak muncul lagi. Kita bisa lihat orang-orang yang saat pemilihan lalu baik pilkada maupun pileg, sudah banyak yang muncul dan tebar pesona di Boltim. Tentu saja, rakyat Boltim bukan orang bodoh yang mau dipengaruhi orang baru. Baru muncul di masa pemilihan,” tutup Haikal Mokoagow. ( ** Bob )

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *