BP3TKI Makassar Sosialisasikan Program G to G Korea di SMK Muhammadiyah 2 Bontoala

oleh
BP3TKI Makassar
Dok : Kepala BP3TKI Makassar Mohd Agus Bustami (tengah) Sedang membawakan materi

Makassar, Suaralidik.com – Pada hari Jum’at (08/09) Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Makassar menggelar sosialisasi Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (P2TKI) khususnya Program G to G Korea di SMK Muhammadiyah 2 Bontoala, Makassar.¬†Acara sosialisasi yang diikuti oleh 50 siswa kelas XII ini dipandu langsung oleh Kasi Kelembagaan dan Pemasyarakatan Program BP3TKI Makassar, Tenri Uleng.

BP3TKI Makassar
Dok : Kepala BP3TKI Makassar Mohd Agus Bustami (tengah) Sedang membawakan materi Program G to G Korea di SMK Muhammadiyah 2 Bontoala Kota Makassar, Jumat (08/09/2017)

Kepala SMK Muhammadiyah 2 Bontoala, Makassar, Drs. Firdaus Yusuf menyambut baik pelaksanaan sosialisasi Penempatan dan Perlindungan TKI (P2TKI) ke luar negeri terhadap siswa-siswinya. Firdaus menyadari bahwa peluang kerja saat ini semakin kecil, sehingga siswa SMK sebagai calon tenaga kerja perlu untuk memperoleh wawasan mengenai peluang kerja di luar negeri sebagai salah satu solusinya. Di awal acara, Firdaus meminta kepada siswanya agar serius dalam menyimak materi yang disampaikan oleh kepala BP3TKI Makassar.

Kepala BP3TKI Makassar, Mohd Agus Bustami mengungkapkan kelebihan Penempatan TKI Program G to G ke Korea, antara lain adanya jaminan penempatan dan perlindungan (kontrak kerja jelas, asuransi keselamatan kerja, asuransi kesehatan, dan pensiun), kontrak kerja selama 3 tahun dan dapat diperpanjang 1 tahun 10 bulan, gaji minimum per bulan 1.260.000 Won atau sekitar Rp. 13.000.000 (belum termasuk tunjangan dan bonus), serta bertambahnya wawasan, ilmu pengetahuan, budaya, dan teknologi maupun jaringan persahabatan.

Sebagai persyaratan Pra-Pendaftaran, pendaftar harus berusia minimal 18 tahun pada saat pendaftaran, pendidikan minimal SMP atau sederajat, memiliki KTP, tidak pernah dideportasi di Korea Selatan, tidak punya catatan kriminal, tidak sedang dicekal ke luar negeri, dan kondisi kesehatan optimal dan terbebas dari penyakit TBC, Hepatitis, dan penyakit kelamin. Adapun ujian yang harus ditempuh adalah EPS-TOPIK (Employment Permit System Test of Proficiency in Korea).

Agus Bustami juga berpesan kepada para siswa agar menjaga kesehatan dengan pola hidup yang sehat, dan menjauhi kebiasaan khas anak muda yang tidak baik bagi kesehatan, seperti begadang tanpa tujuan yang jelas, merokok, menindik telinga atau anggota tubuh lain, bertato, mengkonsumsi narkoba, dan perilaku destruktif lainnya. Karena syarat lain untuk lulus bekerja ke Korea adalah kondisi kesehatan yang benar-benar prima. (BCHT/Arif/MA)