BRANI: Kader Yang Membangkang Langsung Kita Sikat, Liando : Konflik Di Hanura Hampir Semua Parpol Alami Itu

oleh
BRANI (Benny Ramdani)

Manado, Suaralidik.Com – Gelombang kisruh yang melanda partai berjuluk kuning itu, semakin tidak tertebak. Bukan hanya kader semata, melainkan masyarakat juga dibuat kebingungan akibat prahara ini.

BRANI (Benny Ramdani)

Menurut info sumber terpercaya, ada mobilisasi khusus dari beberapa oknum agar 27 DPD dan 401 DPC Se-Indonesia. Turut ikut menghadiri munaslub untuk menjungkalkan Oesman Sapta Odang (OSO) dari kursi ketua umum (Umum).

“Secara legalitas De Jure Maupun De Facto kepengurusan DPP Hanura dibawah Komando OSO, punya legitimasi kuat. Dengan tanda bukti SK dari Kemenkumham,” tutur Salah Satu Ketua DPC Hanura Di Sulut, yang enggan namanya dipublikasikan.

Melanjutkan ulasannya,  Bernomor: M.HH – 01- AH.11 – 01 tahun 2018, perihal membalas permohonan SK dari DPP Partai Hanura. Jadi bicara soal Legal Standing sudah sangat jelas!

“Guna memacu kerja – kerja politik di segala tingkatan, Ketua Bidang OKK DPP Hanura Benny Rhamdhani (Brani) menegaskan, Bila ada kader yang membangkang dari Ketua OSO akan diadakan Sanksi keras berupa PAW,” ujar BRANI (Benny Ramdani).

Hal tersebut, kita ambil demi tertibnya Organisasi di tubuh Partai Hanura. Karena mereka dianggap tidak patuh dan melawan keputusan ketua OSO saat ini, serta Kader yang membangkang langsung kita sikat, tegasnya

Menanggapi kisruh internal Partai Hanura Pengamat Politik Unsrat DR Ferry Daud Liando mengatakan, Konflik ditubuh Hanura hampir semua parpol mengalami itu. Namun ada yang mampu diredam hingga tidak sampai ke permukaan, tetapi ada juga yang terpaksa harus terungkap ke publik karena intensitas konflik yang luar biasa. Jumat (19/1/2018)

“Konflik parpol saat Pilkada biasa terjadi karena ada ada kesepakatan  adanya dalam  menentukan siapa pengantin atau calon kepala daerah. Kondisi ini biasnya ada salah satu pihak yang paling dominan sehingga tidak memperhatikan pertimbangan -pertimbangan pengurus yang lain,” tukas Liando, Pengamat Politik Unsrat.

Sebab itu, ketika Hanura di kendalikan Pak Wiranto parpol ini adem – adem saja tetapi ketika beliau bukan ketua lagi maka parpol ini pecah. Apalagi ditatanan elit Hanura terpecah menjadi 2 gerbong,  yakni milik atau pendiri asli yang telah berjuang sejak awal berdirinya parpol ini, kemudian gerbong lain pendatang baru yang diboyong oleh OSO dari DPD.

Seyogyanya, konflik terjadi karena adanya kesan mulai mendominasinya. Jika ingin  parpol kuat, figur ketua juga harus mampu merangkul, seperti kita ketahui bersama bahwa PKB dan PAN juga pernah di landa konflik ketika pasca Gus Dur dan Amin Rais.

“Golkar juga, terpecah menjadi beberapa partai sebut saja, Hanura, Nasdem, PKPI, Gerindra ketika tidak dikendalikan Soeharto sebagai dewan pembina. Saya prediksi konflik yang sama bisa terjadi pada PDI Perjuangan dan Demokrat  Pasca  Megawati beserta SBY tidak ada,” kuncinya. (Deon YW/Kemal)


Abdul Nazaruddin

Rujadi

H.Askar

Harris Pratama