Sigajang Laleng Lipa “Saling Tikam Dalam Sarung”, Cara Orang Bugis Selesaikan Masalah

oleh

Bugis merupakan kelompok etnik atau suku dengan wilayah asal Sulawesi Selatan. Ciri utama kelompok etnik ini adalah bahasa dan adat-istiadat yang masih melekat kuat.

Suku Bugis banyak menyebar di seluruh provinsi Indonesia. Bahkan suku bugis banyak menyebar ke negeri Jiran Malaysia dan Singapura.

1479610667440

Suku Bugis tergolong ke dalam suku Melayu Deutero. Masuk ke Nusantara setelah gelombang migrasi pertama dari daratan Asia tepatnya Yunan. Kata “Bugis” berasal dari kata To Ugi, yang berarti orang Bugis. Penamaan “ugi” merujuk pada raja pertama kerajaan Cina yang terdapat di Pammana, Kabupaten Wajo saat ini, yaitu La Sattumpugi.

Dalam perkembangannya, suku bugis membentuk beberapa kerajaan. Masyarakat ini kemudian mengembangkan kebudayaan, bahasa, aksara, dan pemerintahan mereka sendiri. Beberapa kerajaan Bugis klasik antara lain Luwu, Bone, Wajo, Soppeng, Suppa, Sawitto, Sidenreng dan Rappang.

Dalam budaya suku bugis terdapat dua hal yang bisa memberikan gambaran tentang suku bugis ini, yaitu konsep Ade’, Siri na Passe. Ade’ adalah adat istiadat yang mesti dijunjung oleh masyarakat bugis, sedangkan Siri (malu) na Passe (rasa iba) adalah sikap yang tertuang dalam ade’ tersebut.

Siri memberikan prinsip yang tegas bagi tingkah laku orang bugis. Menurut pepatah orang bugis, hanya orang yang punya siri yang dianggap sebagai manusia. Naia tau de’ gaga sirina, de lainna olokolo’e. Siri’ e mitu tariaseng tau, Artinya (Barang siapa yang tidak punya siri (rasa malu), maka dia bukanlah siapa-siapa, melainkan hanya seekor binatang.

Makna “siri” dalam masyarakat bugis sangat begitu berarti sehingga ada sebuah pepatah bugis yang mengatakan “Siri Paranreng Nyawa Palao”, yang artinya : “Apabila harga diri telah terkoyak, maka nyawa lah bayarannya”.

Begitu tinggi makna dari siri ini hingga dalam masyarakat bugis, kehilangan harga diri seseorang hanya dapat dikembalikan dengan bayaran nyawa oleh si pihak lawan.

Karena, siri’ na pesse itu merupakan jati diri bagi orang Bugis-Makassar maka jika ada pihak keluarga saling bertikai hingga tidak menemukan titik temu maka jalan yang diambil adalah jalan adat yakni ritual sigajang laleng lipa’ (saling tikam dalam sarung)
On berita makassar ln


Abdul Nazaruddin

Rujadi

H.Askar

Harris Pratama