Bupati Bulukumba Lepas Balon Tandai Pencanangan Imunisasi MR

oleh
Imunisasi
Bupati Lepas Balon Tandai Pencanangan Imunisasi MR

Bulukumba, suaralidik.com – Memasuki bulan Agustus 2018, Program Imunisasi Measles dan Rubella dilaksanakan secara serentak untuk fase ke dua di seluruh wilayah luar pulau Jawa, termasuk Kabupaten Bulukumba. Pelaksanaan imunisasi di Bulukumba ditandai dengan pelepasan balon oleh Bupati Bulukumba AM Sukri Sappewali pada acara Pencanangan dan Kampanye Imunisasi Measles atau Campak dan Rubella, Kamis 2 Agustus 2018 di SD Negeri 24 Salemba Kelurahan Loka.

Menurut Kepala Dinas Kesehatan dr Abd Gaffar penyakit tidak mengenal batas usia dan batas wilayah, sehingga diharapkan layanan kesehatan dapat mencakup keseluruhan wilayah tersebut untuk mencegah terjadinya penyebaran penyakit. Dalam mencegah penyebaran penyakit, apalagi penyakit yang berbahaya maka salah satu upaya pemerintah adalah menggalakkan imunisasi kepada anak-anak.
“Imunisasi pada bulan Agustus ini dilaksanakan di seluruh sekolah, baik tingkat PAUD, SD, maupun SMP sederajat. Sedangkan pada bulan September imunisasi akan dilaksanakan di seluruh layanan kesehatan, seperti posyandu, puskesmas dan layanan kesehatan lainnya,” ungkap dr Abd Gaffar.

Adapun target sasaran adalah anak usia 9 bulan sampai dengan 15 tahun dengan jumlah sasaran di Kabupaten Bulukumba 108.449 atau target minimal 95 persen. Dalam laporannya dr. Abd Gaffar merinci sasaran tersebut sebagai berikut, Kecamatan Ujungbulu (13.298) Ujungloe (9.956) Bontobahari (7.270) Bontotiro (7.188) Herlang (6.226) Kajang (12.597) Bulukumpa (14.340) Rilau Ale (10.699) Gantarang (18.554) Kindang (8.322).

Sementara itu Bupati AM Sukri Sappewali mengajak semua pihak untuk mensosialisasikan program imunisasi ini sampai pada tingkat lingkungan terkecil. Dalam menjaga kesehatan masyarakat, lanjut Andi Sukri dibutuhkan kebersamaan semua elemen masyarakat.
“Saya berharap puskesmas atau posyandu juga dapat melakukan seluruh program kesehatan Ibu dan Anak secara menyeluruh, seperti program gizi dan imunisasi. Oleh karena imunisasi itu dilakukan untuk menjaga kesehatan masyarakat agar tidak mudah terserang penyakit,” kata Andi Sukri.

Bupati juga meminta para petugas kesehatan dan aparat di tingkat bawah untuk peka terhadap lingkungan sekitarnya, khususnya dalam memantau warga yang sakit atau terkena gizi buruk. Pengalaman sebelumnya terjadi kasus gizi buruk, dan meninggal dunia karena terlambat diketahui.
“Itu aparat kita di tingkat bawah harus jeli melihat dan mendengar apa kejadian di wilayah, jangan kasus-kasus seperti itu lebih duluan ditahu dan diekspos oleh masyarakat. Intinya harus proaktif sebagai aparat pemerintah,” tuturnya.(***Ulla/hms)