K.U.A.L.A.T (Darah Mimpi)

oleh

Sebuah  tempat sakral. Haram ayat suci dilantunkan di dalamnya. Meski masalah redup dan godaan iman sedang bertekuk lutut, tetaplah, tidak akan ada sembahyang suci di dalamnya. Ruang dengan empat dinding yang paling nikmat untuk berimajinasi, melambungkan angan sampai negeri-negeri peri.Juga ruangan asyik untuk mengenang senyum sebuah kekasih centil di waktu terang.Pelambung penat yang sukar bertukar dengan lelah.  Sebuah kubus ternikmat bagi para pengepul asap.

Semua insan wajib bertandang ke tempat itu, jika seminggu alfa maka jangan harap hidupnya akan selamat. Ia akan kualat, mendapatkan hukuman dari alam, terkapar di rumah tukang pijit, menelan obat-obatan yang pahit, lantas yang paling mengerikan dilarikan ke rumah sakit. Jangan main-main dengan tempat itu! Zaman telah mengingatkan, rajin-rajinlah berkunjung ke sana, duduk atau jongkok, diam dan jangan berisik atau lelembut akan hadir menerkam lehermu.

Ia meringis kesakitan, lelaki itu akan segera dioperasi, kabar terbang dari tetangga yang setiap hari duduk di hadapan mesin komputer itu. Ia terbaring lesu di atas tempat tidur, berselimut tipis dengan lukisan garis vertikal merah, tubuhnya membangkar, wajahnya pucat pasi, senyumnya kecut, bibirnya kering keriput. Hidupnya seolah tinggal pagi besok.Berkali-kali telinga mendengar sebuah pesan kebaikan dan kehati-hatian usai nyawanya meregang. Keluarga pun terisak, ia menciptakan suasana kering yang menyakitkan tenggorokan dan ulu hati.

Ruang sempit yang diisi tiga pasien sekarat sangatlah tidak nikmat, pelayanan rumah sakit yang alakadarnya sebab menggunakan jaminan BPJS tingkat terendah.Tidak ada yang berani protes jika ruangan itu sangat gerah, AC bukan malas memberikan jasa pada mereka,namun tidak diperizinkan melekat di dinding ruangan itu.Tiang infus seolah hendak merobohkan raganya, bosan menghadapi orang-orang yang setiap harinya bertambah menyeramkan.Senyum yang jarang diumbar, airmata yang diluncurkan berkali-kali, meski tak dikehendaki keluar.Lengan kirinya yang ditusuk infus menggapai tangan anak sulungnya.Mengusap lembut, suara paraunya bersiul.Istri tercinta menahan isak.

“Nak, jaga kesehatanmu, jangan pernah menyia-nyiakan hidup seperti Bapakmu ini, besok kalau Bapak meninggal, jaga Ibumu baik-baik ya, Nak?”Pesan yang menyakitkan.Ia seolah sangat yakin usai dibelah perutnya tidak akan mendapatkan kesempatan hidup kedua lagi. “Rajin-rajinlah minum dan……..” sebelum kalimat usai, seseorangtelah memutuskan ucapannya.

“Jangan berpikir yang tidak-tidak,  hidup dan mati seseorang ada di tangan Allah SWT.”

Anaknya menangis.Istrinya sesenggukan. Keluarga yang lain menabahkan. “Istighfar.”

“Aku sudah sangat tidak kuat,” menatap wajah buah hatinya nanar.Mengelus ubunnya penuh dengan cinta.Mengulang memori kasih sayang dan perjuangan untuk menafkahinya.Ia sangat takut, jika esok tak lagi dapat menyaksikan senyum termanja yang dipamerkan gadis kecilnya. Ia akan menjadi sosok yang paling merugi di dunia ini. Putrinya adalah bidadari yang akan dilindungi dengan segenap kekuatannya. Bertambah kelu tatkala bayang istri tercinta mengecup keningnya saat malam bertandang, kemudian jemari lentiknya menarik selimut, memberikan kehangatan dengan peluk untuk mengusir lelah seharian bertempur dengan tugas pekerjaan di kantor.

Jika tanah menjadi alamat rumahnya, tentu tak akan ada lagi canda tawa di pagi yang cerah, mempermasalahkan sarapan, ia akan berteman sunyi dan belatung, meratapi dosa hidupnya yang seumur jagung. Ah, airmatanya merembas, mengalir hangat di sudut pipinya.

“Bapak jangan meninggal, Bapak pasti akan sembuh!”

‘Nak, Bapak kualat karena tidak ke tempat itu….”

“Tempat apa, Pak?”

Pasien yang di sebelahnya menelan air liur. Keluarga pasien yang lain ikut menggigil. Khawatir jika saudaranya yang terkapar akan mengalami hal yang serupa.  Membuat aura seram datang tanpa diundang, membuat beberapa orang melantunkan doa-doa kepanjangan umur.Memohon ampun telah menerjang gerbang dosa dengan lancang, meski tahu itu perbuatan yang terlarang, merayu pencipta alam dengan mengagungkan nama-nama indah-Nya.Ruangan panas itu, mendadak menjadi ruangan dingin yang membekukan perasaan.Seluruh kornea berkaca-kaca, kecuali belia yang rewel minta keluar.

Lelaki yang berkepala empat itu mengingat kedzaliman dirinya.Ia sering terburu-buru. Mandi tidak tuntas.Sarapan sering diabaikan.Hasrat alam sering ditahan, lebih mementingkan pekerjaan yang dipikirnya sangat berharga bagi kehidupan.Satu menit ditinggalkan maka keberuntungannya dianggap berkurang.Ia pria yang gigih dan tipikal pekerja keras. Sayangnya, ada sesuatu yang dilupakan.

Ia terlalu terlena dengan dokumen-dokumen di meja kerjanya. Melalaikan hal yang wajib dilakukan manusia pada umumnya, singgah di ruangan sederhana itu. Selalu saja abai, meskipun hasrat sudah menagih, tubuhnya merindukan tempat itu, sayang, batinnya egois, ia tetap tunduk di hadapan komputer, menarikan jemari-jemarinya di atas lantai keybord, berpikir memecahkan masalah pekerjaan. Akhirnya hasrat itu terlupakan.Mengabaikan nasihat kekasih tercinta yang mengingatkannya untuk menjaga kesehatan, perbanyak menenggak mineral.Ia memikunkan sebuah kewajiban. Ahasil, kini ia kualat. Terkapar tak berdaya dengan pikiran redup mengenai kematian yang teranggap akan segera menjemput.

“Tempat apa, Pak?”

Anaknya kembali mengulang kalimat yang belum dijawab.

Dokter memindahnya ke ruang operasi.Keluarga meraung-raung tragis.Anak menangis.Tidak peduli lagi dengan pertanyaannya yang belum mendapatkan ujung.Batin istri seperti diiris. Khawatir jika nyawa melayang, siapa yang akan menafkahi ketiga buah hasil percintaannya di pusar remang malam? Ia juga tidak akan sanggup memikul beban perasaannya ditinggal sosok yang amat disayanginya.

Kasus yang konyol dialami seorang bocah berumur 10 tahun.Anak itu menangis histeris, meronta-ronta kesakitan.Kali ini orangtuanya yang lalai.Lalai mendudukkan anaknya di ruang yang kau sebut sakral itu.Dunia dianggapnya kiamat.Ibu separuh baya itu menelan getir yang diaduk dengan sesal bermilyar-milyar kali lipat.Airmatanya luber deras.Batinnya sakit sesakit-sakitnya. Melihat buah hatinya yang baru didapatkan setelah sepuluh tahun masa pernikahan itu terkapar dengan sakit yang tak dapat diutarakan. Segala  macam obat telah disantap. Dukun pijat bergantian memijat.Hasilnya anak itu harus dilarikan ke rumah sakit, mengalami nasib yang serupa dengan lelaki yang kini menjalani operasi itu.

Ibunya orang yang dikatakan sangat sibuk.Kesehariannya mengurusi butik dan usaha mini market di dekat rumahnya.Ia menghabiskan waktunya untuk mengabdi kepada uang yang kemungkinan telah dianggapnya sebagai ratu, ia tergiur dengan mahkota keuntungan, hingga janganlah engkau heran jika ia, jarang meracik bumbu masakan di dapur, lupa dengan kewajiban untuk menyiapkan sarapan anak tercinta.

Bukan hanya hal itu, buah hatinya yang masih kecil belum menginjak masa remaja sudah dipaksa hidup mandiri, entah cairan apa yang ditenggak, dan zat kimia apa yang dilumat, ia jarang memperdulikan. Ia juga tidak pernah tahu, jika anaknya di rumah tunduk di hadapan layar PS-nya sehari-hari, mengabaikan proses ekskresi tubuhnya. Ditahan dan terus ditahan.

Tumbuhan yang tidak berakal berespirasi melalui stomata.Kandungan zat sisa yang dipikirkan takdir sebagai hal basi itu dibuang dalam bentuk uap air. Rasionalnya untuk makhluk yang berakal seperti milikmu, duduk berlama-lama di hadapan layar kompter atau pun PS, akan membuat perutmu menahan beban kotoran busuk. Pada tahap selanjutnya menggumpal padat, hingga sukar dikeluarkan. Tumbuhan berfotosintesis untuk mendapatkan makanan dengan bantuan matahari, ia tak mampu hidup tanpa mencerna sesuatu. Ia pun membutuhkan air dan udara, mereka tak berakal namun mengalami hal yang sama dengan manusia. Kemudian layakkah jika alam protes kepada Ibu-ibu yang kini sibuk mencari nafkah?Melupa dengan asupan gizi buah hatinya sendiri.Lihatlah, bocah itu meringis kesakitan sebelum ditusuk jarum infus dan dibius, wajahnya pucat, tubuhnya tak mempunyai tenaga untuk bergerak.

“Anak saya kenapa, Dok?”

“Tadi pagi ia makan apa?”

Wanita itu menunduk, lehernya menggeleng.Dokter yang berjas putih dan berkaca mata itu mengembuskan napas berat. Sudah puluhan kali ia mendapati orangtua yang lalai dengan anaknya. Membuat batinnya teriris.“Bagaimana seorang Ibu bisa tidak tahu dengan apa yang dimakan anaknya?”

“Maaf, Dok. Saya sibuk bekerja.”

“Apakah tadi pagi dia sudah buang air besar?”

Lagi-lagi ia menggeleng.

“Berapa gelas ia minum air putih dalam sehari?”

Ketika ia pulang, tempat sampah telah dipenuhi dengan bungkus jajanan dan botol softdrink. Ibu itu menelan air liur getir. Kini ia sadar, anaknya pun jarang bertandang ke kamar mandi, ia sibuk memelototi layar PS. Sebagaimana  yang dilakukan lelaki itu.

Operasi usai. Hari selanjutnya ketika lelaki itu sadar, ia hanya mengucap nama ruangan itu berkali-kali. “Besok aku akan rajin ke ruangan itu, besok aku akan rajin ke kamar mandi! Aku tidak mau menahan kencing dan buang air besarku lagi demi pekerjaan, aku tak rela ginjalku dipenuhi dengan batu-batu kotoran!”

Keluarga saling berkerut bingung.

Ruangan sakral itu, hanya sebuah kamar mandi yang ada di rumah-rumah manusia.Tempat yang dianggap menjijikkan.Tempat yang tidak pernah mendapatkan kehormatan.Manusia seringlah acuh menjaga kebersihan di dalamnya.Ratusan nyawa sering menahan hasrat hajat dan air seninya yang hendak dimuntahkan dari alat kelamin masing-masing makhluk.Pernahkan engkau menyadari, ketika kau duduk atau jongkok di tempat pembuangan, ada nikmat yang tak mampu dilukiskan?Kotoranmu keluar, perasaanmu lega. Sayang, jika seminggu saja kau tak bersinggah ke tempat menjijikkan itu, waktu menjamin akan ada masalah dengan kesehatan nyawamu. Kau melotot tidak percaya? Buktikan saja! Lantas nikmat Tuhan manakah yang berani kau dustakan lagi?

Magelang.27 Mei 2017.