Cerpen : BANGKAI HARUM

oleh
Bangkai Harum
Ilustrasi : Cerpen Bangkai Harum

Ia.Hanyut…Melaju. Mengumbar aroma yang melenakan.

Harumnya semerbak ke penjuru dunia. Ke sudut-sudut lapisan bumi yang tak dapat dimasuki oleh nyawa manusia. Menusuk kesunyian. Merombak hening, menyemangatkan kobar api yang bertuan angkara. Penduduk semula diam, menjadi menganakkan mulutnya.

Bangkai Harum
Ilustrasi : Cerpen Bangkai Harum

Petinggi-tinggi menggelengkan otak, bukan lantaran iba, melainkan stres. Harum memang menggoda, sayang, wewangiannya tak mampu bersemayam di rongga hidung dengan tenang. Ia merobek jantung, membius uluh hati, memeras air mata. Secara rasio, tak logis orang menyebutnya sebagai bangkai yang harum. Sejak zaman nenek moyang hidung tak mampu berdusta, bahwa setiap bangkai tentulah beraroma busuk. Lain. Lain pada penemuan tahun 2016 ini. Ada bangkai yang diharumkan. Atau lebih jelasnya bangkai gila yang membuat seluruh umat manusia menjadi pening. Meskipun ia harum, banyak yang memuja layaknya dewa, tetap saja, nyaris seluruh nyawa termasuk roh dalam jagad kehidupan ini hendak menginjaknya.

Mereka bernafsu menguburnya hidup-hidup dalam prasasti sejarah yang paling semrawut.
Lihatlah Kawan! Di Ibu kota, ribuan orang berbondong-bondong mengemis keadilan. Anak kecil, baik laki-laki maupun perempuan ikut aksi duduk di pusar tangisan langit. Memang hari itu cerah, namun awan yakin, bahwa hati langit sedanglah kacau. Matahari sedari malam tadi terisak di pembaringan gelap. Ia menyerahkan dirinya dengan lapang untuk menghanguskan bangkai tersebut. Sayang, malang sungguh kepalang, keharuman bangkai tersebut membuatnya terjebak dalam keadaan yang sulit. Ia justru ikut terbius, lantas pasrah. Santri-santri menjeritkan lantunan yang menyayat hati. Orang yang duduk di strata terendah, berkumpul menjadi satu kelompok yang membaur pada ribuan jamaah. Orang bergelimpangan harta, meninggalkan berlian mereka di rumah, sejarah pun mencatat bahwa sebagian hartanya telah diberikan secara cuma-cuma. Mereka yang jauh dari pusat Ibu kota, melayang menyewa pesawat terbang. Persatuan yang kuat tergambar di hari itu. Kau tahu? Airmata bercucuran.

Persaudaraan umat terpotret dengan jelas di bawah atap langit Jakarta. Tak ada lagi yang menghiraukan indahnya makna senyuman, lebih dalam, mereka memaknai perjuampaan dari pelosok umat dalam gandengan tangan dan pelukan. Makanan tersedia dari empat arah mata angin. Tak akan ada yang kelaparan.
“Rara, aku begitu sedih melihat keadaan negeri ini. Bagaimana mungkin ada seorang pemimpin yang berani mencela kitab suci umat manusia.” Fani mengadu. Segelas mineral yang ada di depannya menatap iba.
Aku menarik layar langit. Kuputar tragedi lampau, tentang calon gubernur yang membuat sakit batinku juga batin banyak umat. Wajahnya yang putih mulus tak seindah tuturnya. Dedikasinya memang tinggi, sayang, lisan telah menciderainya.

Jangan asal bicara jika tidak ada bukti!
“Sebentar, Rara.” Fani membuka layar ponselnya. Ia menunjukkannnya padaku. Aku disuruhnya membaca sebuah komentar. Kutelaah dalam. Langit Jakarta cerah, langit kampungku tampak marah. Dingin menggigit kulitku. Kurekatkan resliting sweterku sebelum merespon. Artikel dan berita sedang hangat membicarakan ucapan seorang yang hendak memimpin negara.

Nyaris seluruh rakyat di negeri ini muntab!” Mata Fani berkilat-kilat.

“Menurutmu apa yang sebaiknya dilakukan oleh pemerintah?”

“Aku tak pernah tahu apa yang dipikirkan mereka, Fan, tentang sebaiknya atau seburuknya, aku juga malas memikirkan!”

“Kenapa kamu seperti itu?”
“Berapa kali rakyat protes karena koruptor negeri dipenjara dengan fasilitas mewah, orang miskin dipenjara dengan penderitaan yang mengerikan. Beredar seorang nenek yang hanya mencuri sebuah pepaya dipenjara, padahal ia sungguh lapar. Para penjual asongan diburu Satpol PP, bukankah ia hendak mencari riski halal ketimbang mengemis atau mengamen? Sekarang ada kabar, seorang pemimpin melecehkan kitab suci agama Islam! Hahahaha… dan seperti tidak diapa-apakan pelakunya, padahal satu negara umat Islam serentak bersuara untuk menjebloskannya,”

“Kau pikir semua itu lucu?”
“Kita sebut saja sebagai sebuah permainan orang yang duduk dalam kursi panas di negeri ini,”
“Maksudmu?”

“Tenang saja jika kau punya banyak uang dan tahta, omongan rakyat tak akan menjadi berarti,” ungkapku tenang, namun jiwaku serasa terbakar. Aku muak, sungguh sangat muak.

“Hei, Ra! Kau sedang berbicara apa? Gaji pemerintah itu dari uang rakyat! Mereka tak akan bisa hidup nikmat jika bukan karena jerih payah punggung para buruh, petani, nelayan, dan yang lainnya. Sesungguhnya mereka lebih miskin dari rakyat!”

“Yee.. tidak seperti itu. Ada sebagian dari mereka yang mempunyai usaha sendiri.”
“Siapa yang membeli dan menjadi distributor? Atau yang menjadi pegawai di sana? Bangsa kucingkah? Bangsa tikuskah? Atau rakyat?”

“Fani,” aku memanggilnya lembut. Angin membelai pipi kami. Mata beradu pandang. Detik seakan berhenti berdetak. Tilawah dari musola melayang merdu. Damai. Saat senja menuju tempat peristirahatan lelap, sementara daun padi masih seperti waktu dulu. Merunduk.

“Penguasa yang tinggi tak akan pernah menjadi tanaman padi, ada banyak hal yang mungkin saja menjadi alasan untuk dibenarkan oleh pemerintah, sesuatu yang busuk, namun dipaksa diharumkan. Kesalahan orang tinggi disembunyikan, aku tak membela mereka, namun terkadang ada oknum yang memaksa masyarakat kecil seperti kita untuk membelanya! Kita dipaksa membenarkan sesuatu yang salah dengan mengatasnamakan demi kehidupan masa depan!”

“Hak asasi manusia hanyalah kamuflase,” Fani menambahi. “Baru kali ini negara kita berdo sedamai, dan semenyakitkan batin, rasanya aku ingin bersujud di atas sajadahmu, Ra! Aku tak sanggup membayangkan betapa kerukunan dapat terjalin di depan kegagahan monas kemarin, tragedi 212, ribuan orang berkumpul untuk mendoakan hati penjabat agar terketuk hatinya. Jika aku menjadi dirinya, aku akan bersujud di hadapan Tuhan dan umat Islam bukan lagi untuk meminta maaf, namun menyerahkan diri karena mengakui kesalahanku yang sangat fatal.”

“Hahaha. Kau hanya sedang mengandai-andai, Fan! Kalaupun kau sunggh dalam kedudukannya dan memiliki banyak kekuasaan, yang kau pikirkan adalah menjadi raja dan mengendalikan pemerintahan, agar seluruh SDM dapat kau bodohi, Fan! Mungkin kau akan berorasi tentang KESEJAHTERAAN, JANJI PENDIDIKAN, KEADILAN, BERANTAS KORUPSI, TEGAKKAN HUKUM!”

“HEI… Jangan berpikir buruk tentangku!” Fani dongkol. Aku mentertawakannya. Fani yang lugu. Ia meraih kembali air minumnya. Azan menenangkan denyut nadi. Aku menarik napas dalam.

“Fani, berjanjilah padaku, setelah kau diwisuda nanti, jangan pernah berpikir untuk mendapatkan uang sebanyak-banyaknya dengan titelmu, tapi berusahalah membuat hati banyak orang berbunga-bunga karena tindakan yang dicetuskan oleh otakmu!” Pesanku. Ia menenggak air minumnya. Tak menatapku. Namun aku yakin sekali, telinganya terbuka lebar mendengarkanku. “Jadilah orang yang bernilai bagi banyak orang ya, Fan!” Suasana menjadi romantis. Azan usai. “Aku ke musola dulu, lain kali aku singgah ke sini lagi.” Pamitku.

“Sebenarnya aku menyuruhmu main ke rumah, karena ingin menanyakan kasusmu bertemu dengan gembel.”

“JANGAN MENJADI BANGKAI YANG DIPAKSA UNTUK DIHARUMKAN, FAN! Itu tak akan pernah terjadi, karena syaraf hidung manusia tidak sanggup dibohongi, ia sangat peka! Sekalipun pemilik hidung itu kau sebut gembel!”

“Aku mencintaimu, Ra!”
“Aish…” aku mendesis tak senang. Raga kudirikan. Aku menjabat tangannya. “Pulang dulu,”

“Titip salam untuk Tuhanmu!”

“Dia melindungimu juga, Fani.”

“Assalamu’alaikum!” Ucap Fani. Aku tak membalasnya, hanya kuberikan senyumku yang menyejukkan.

Penulis : Titin Widyawati