Alasan Tuhan Karya Darah Mimpi (Titin Widyawati)

oleh

 Pagi. Gigil adalah sahabat yang malas meninggalkanku di pembaringan. Ayam mulai berkokok . Pukul tiga dini hari, Fajar merayap perlahan. Bintang masih menatap bumi riang. Gumpalan di langit itu menerangkan alam. Sinarnya jatuh berebutan dengan cahaya rembulan yang sok ingin menang sendiri. Langit, biru memayungi temaram.

Kabut lari, takut dengan sepoi angin yang hendak mengusir kemuramannya. Dedaunan bambu di perkampungan menari gembira, okestra yang bersiul terdengar merdu. Embun masih nyenyak di ujung dedaunan. Matanya jernih menangkap hari yang masih samar-samar.

Aku membuka mata. Kuintip dunia. Sudut-sudut ruangan temaram. Selimut kusibak. Mengintip celah alam melalui jendela. Selarik cahaya rembulan menembus ruangan, hendak mengajakku bermain dan bergurau dengan fajar.

Aku tertarik, melangkahkan kaki. Membuka pintu. Kusambut kesegaran alam. Paru-paru bersorak riang. Kantuk kalah perang. Bibirku tersungging menang. Kuambil air wudu, mengaduh di hadapan Tuhan. Bersujud menukar dosa dan dendam.

Alasan Tuhan

Darah Mimpi

(Titin Widyawati)

Kunanti pahala di tahta surga yang bertuan. Berharap dapat menimbun khilaf, membunuh malapetaka, terakhir mengusir derita yang tersemat di dalam dada. Jantung dan hati tak sabar menanti irama Ilahi bernyanyi. Bibir bergetar menyebut asma-Nya. Aku tersadar pada terang yang selama ini digelapkan persoalan. Duduk tenang. Menunggu azan mengajakku bertamu ke alam lain.

Pukul empat pagi, renta-renta berebut langkah menuju tempat ibadah. Mata sayup-sayup itu dipaksa melotot. Senyum hambar semua. Sajadah tersampir di pundak. Keseimbangan tubuh nyaris punah. Jika kusenggol sedikit saja, maka akan roboh.

Merekalah para pejuang kematian. Orang-orang yang sedang menyiapkan bekal ke liang kubur. Setengah tua, sibuk mengemas barang dagangan. Kaki tertuntun ke arah keramaian. Uang receh sudah disiapkan semalam untuk kembalian. Doa terlantun pada Tuhan, semoga laba berlimpah.

Pemuda masih sibuk menarik selimut ulang. Kantuk belum gentar dengan jeritan azan, semalam mereka dikalahkan oleh hantu begadang yang melenakan. Digoda nafsu bersama lawan chatting ponsel yang menyesatkan. Senyum pun mengambang pada jemari takdir yang malas menggenggam cinta tak bermakna.

Anak-anak sekolah duduk setengah badan di atas ranjang, mengamati jam dinding yang tak pernah berkhianat pada waktu, khawatir terlambat. PNS, sibuk menyetrika seragam, mencari-cari makanan instan. Aku? Aku di sini, di beranda musola, mengamati sang renta yang umurnya mendekati senja.

Kupotret punggung mereka tersuruk-suruk di atas sajadah. Bibir komat-kamit melantunkan ayat-ayat suci, entah benar, entah salah. Sebagian bersandar di dinding musola menunggu iqomat, lehernya terangguk-angguk, sebagian yang lain sedang khidmat dengan sunah-sunah. Semuanya sama, mengharapkan satu cahaya, penerang alam baka.

Kebaikan-kebaikan mereka ciptakan. Dari hal besar hingga hal sepele seperti merapikan sendal-sendal yang menyimpan kotoran di telapak masing-masing. Tangan sang renta tak jijik. Ia sepenuh hati karena Tuhan. Kau tak percaya? Bahkan pada kisah sebelumnya aku pernah mengabadikan, tentangnya, tentang renta yang mempunyai pekerjaan unik. Masih sampai sekarang, Kawan! Tak ada yang berubah selain giginya bertambah tanggal dua. Senyumnya pun masih tersungging manis.

Geraknya lemah gemulai, memang umurnya sudah tak menjaminkan tenaga yang sempurna. Ia menyapaku, mengulurkan salam seusai uluk salam. Katanya, semakin banyak orang menjabat salam, dosa-dosa akan berguguran, rontok masuk ke dalam neraka, menyisakan pemiliknya yang gelimpangan terserang dahaga surga.

“Rajin-rajinlah ke musola, Anakku! Nanti musola yang sering kau singgahi akan datang mengantarkanmu ke surga, melewati shirath yang tebalnya seumpama rambutmu dibelah menjadi tujuh! Mengerikan bukan? Siap-siaplah, ajal sudah menantimu di penghujung dunia! Jangan main-main kau dengan kehidupan, buang jauh-jauh keinginanmu pada nafsu yang menyesatkan!”

Ia menepuk bahuku, memberi nasihat yang terkadang menggentarkan nyaliku mereguk nikmatnya dunia.

“Nek, kenapa kita hidup jika kita akan mati?” Pertanyaanku sedikit miring.

Anakku, Ibu dan Ayahmu melahirkanmu untuk membuatmu bahagia, tak pernah ia rela menerlantarkanmu di dunia ini, apa pun dia lakukan untuk kebaikanmu. Ia tak ingin membuatmu menderita, mencintai dengan kasih sayang yang utuh, menyekolahkanmu agar kau mendapatkan pendidikan, mendoakanmu sepanjang malam. Karenanya kau hidup! Apakah dengan itu kau tega menyakiti perasaan orang tuamu dengan bertindak semaumu sendiri?”
Aku menggeleng. Penjelasan yang membuat dadaku bergetar. Keningku mengalirkan keringat dingin. Senyum. Ya aku tersenyum. Namun senyum yang hambar. Renta lain melipat sajadah, lantas menggulung mukenah.

Renta pria keluar dari musola, beberapa masih asyik menggeleng-gelengkan kepala bertasbih. Dan aku pun  menggeleng, namun bukan menggeleng dengan menyebut kalimat tauhid, menggeleng menjawab pertanyaan renta di hadapanku.

Kuamati kerut wajahnya yang membuat kulit keringnya mengendor. Kantung mata menggantung lunglai. Jari-jemari tingggal tulang, tubuh sama sekali tak berdaging. Kau tebak saja jika mukenah itu dibuka, maka uban akan menyembul di atas kepala.

Pandangannya redup, matanya tak lagi jernih. Ia juga sudah tak sempat memikirkan penampilan fisiknya, yang penting menutup aurat. Karena sadar tingkat akhir, tak akan ada lagi pria tampan menggodanya.

“Tapi kau tahu sendiri bukan, Anakku? Orang-orang berlomba mengejar kesuksesan, kemanisan hidup, kebanggan pada orangtua yang dicintainya. Semuanya ingin membuat orangtuanya bahagia, bukankah kau juga seperti itu, Anakku?”

Aku mengangguk. “Kesimpulannya, Tuhan pun seperti itu, Anakku. Ia hanya menginginkan kebahagiaan untuk akhir hidup makhluk-makhluk-Nya, karena itu Ia menciptakan kehidupan. Ia adalah yang paling penyayang dan pengasih, tidak tegaan melihat hamba-Nya menderita. Ia mengharapkan ketenangan dan kenyamanan untuk makhluk-makhluk-Nya, usai mematikannya, Anakku!”

“Jika Dia mengharapkan semuanya hidup nyaman, kenapa harus ada cobaan dan ujian?”

“Sekarang aku bertanya kepadamu, Anakku. Banyak orang dewasa yang lebih dewasa pemikirannya, bijaksana perilakunya di dunia, disebabkan oleh apa, Anakku?”

“Cobaan dan ujian.” Aku menjawabnya tertatih.

“Jika orang itu mampu melewati semua ujiannya, ia akan dimuliakan oleh banyak orang, disanjung-sanjung, dibutuhkan kehidupan, dan juga terakhir tentunya akan membanggakan ke dua orangtuanya.”

Aku mati kutu. “Sekarang kau tahu apa maksud Tuhan memberikan cobaan dan ujian kepada hamba-hamba-Nya?”

“Lalu kenapa harus ada surga dan neraka, Nek? Jika Tuhan tak tega melihat makhluk-Nya menderita, mengapa Ia menciptakan alam yang sangat mengerikan?”

“Anakku. Coba kau pikirkan orang yang mabuk-mabukan, orang-orang yang berzina di kegelapan malam, orang yang menghardik anak yatim, orang yang memakan uang rakyat, mereka adalah orang-orangyang mengabaikan nasihat orangtuanya saat kecil. Jika kau menjadi orangtua di antara salah satu orang tersebut, apakah hatimu tidak akan sakit hati?”

Jiwaku remuk. Aku sadar, aku menyadari pemahaman yang buta selama ini.

“Apa yang akan kau lakukan demi kebaikan anakmu?”

“Saya akan menegurnya, menasehatinya, jika tidak ada hasil, maka saya akan menghukumnya, agar ia jera dan sadar untuk kembali lagi menjadi anak yang baik!”

“Kau cerdas, Anakku! Dan apakah kau rela anakmu menderita? Kau mau menghukumnya sampai nyawanya lenyap?”

“TIDAK! SAYA MENGHUKUM BUKAN UNTUK MELUKAINYA, HANYA UNTUK MEMBUATNYA SADAR DAN JERA, SUPAYA DI LAIN HARI TAK MELAKUKAN KESALAHAN YANG SAMA.”

“Begitulah Tuhan mendidikmu. Ia memberikan hukuman pada orang-orang yang tidak taat kepada-Nya. Semuanya bukan karena ia membenci, bukan pula karena Ia pilih kasih, justru hukuman itu diberikan-Nya, sebab Ia sangat mencintai makhluk-Nya. Neraka diciptakan untuk memberikan hukuman pada orang-orang yang tidak taat, surga diciptakan untuk mereka yang berhasil melewati ujian hidupnya!”

“Tapi. Neraka itu digambarkan sangat menyeramkan, Nek!”

“Anakku. Apakah orang itu akan kekal di neraka selama ia mempunyai jati diri memegang kepercayaan kepada Tuhannya? Apakah ia akan terus di neraka jika jiwanya memegang ajaran Tauhid?”

Aku diam, bergeming. Seorang renta menghabiskan dzikir, ia berdiri, melangkah keluar. Hening. Alam timur mulai terbangun. Merah indah disambut kokok ayam. Warga menggesekkan lidi. Anak sekolah berebut kamar mandi. Pekerja kantoran menyendok sarapan. Pedagang menggelar tikar.

Ibu rumah tangga sibuk meracik bahan makanan. Petani membancokkan cangkul. Nelayan menebar jaring. Sayang, kampung kami jauh dari lautan. Maka, beberapa warga lari ke bebukitan pinus, mencari ranting-ranting kayu untuk bahan bakar.

“Apa yang diucapkan oleh guru ngajimu, Anakku?”

Aku diam.

“Semuanya akan mendapatkan ganjaran amalnya, meskipun hanya sebesar biji dzarrah! Ia tidak akan selamanya di neraka. Jika-

Kata-katanya menggantung. “Jika ajaran agama yang benar ada di dadamu, Anakku!” Ia menyentuh dadaku, tersenyum. “Sekarang kau paham bukan? Tuhan menciptakan kehidupan dan kematian karena ia menginginkan kebaikan dan kebahagiaan untuk makhluk-makhluk-Nya. Tuhan pun punya alasan mengapa ia memberikan cobaan dan ujian kepada makhluk-makhluk-Nya, sebagaimana ke dua orantuamu mendidik hidupmu. Semuanya demi kebaikanmu.”

Ungkapnya terakhir, lantas melangkah keluar. Kulihat punggungnya membungkuk. Ia rapikan sendal-sendal jamaah. Kulirik renta yang tersisa, semuanya kompak, lelap di sandaran dinding musola. Ada juga yang melumat dzikir menjadi dengkuran. Hening. Renta hanya tersisa tiga.

 

19 Desember 2016.