‘Benih yang Kau Tanam’ Cerpen Kharisma Damayanti

oleh

“Apa  salahku? Hingga  kau  luruhkan  dari  rahim. Sedang  aku  masih  berwujud  janin. Apakah  aku  pernah  meminta  untuk  ada dalam  tubuhmu? Tuhan  hanya  menjadikanku  seonggok  daging  yang  kan  bernyawa. Namun, pada  akhirnya  aku  tinggalah  yang  kau  kubur  dalam  tanah  tanpa  nama. Apa  salahku? Sampai  hati  menjadikanku  makanan  cacing  dan  lipan. Membusuk  dalam  kubur  gelap. Tanpa  kau  sekar  bahkan  doa  pun  tiada.”

Desau  angin  malam  mengantar  raung  serigala  dari  bukit  Utara. Menyambar  di  telinga  saat  lelap  merajai  jiwa. Ia terengah-engah dalam keterjagaannya. Keringat menjalar di kening sampai seluruh badan. Menggigil bukan karena hawa dingin. Melainkan jebak ketakutan melingkupi batin. Dosa yang ia rajam dalam dirinya kian membenamkan pada penyesalan panjang. Selepas kenikmatan sesaat, dosa terindah di malam temaram tanpa tabur bintang. Ia terikat janji dengan dosa di keabadian. Pembunuhan pada dua detak dalam tubuhnya. Salah satu berpulang,  sementara satu lainnya bertahan menahan gejolak hati yang meronta penyesalan. Malam ini,  mimpi itu hadir kembali. Menyibakkan kenangan yang coba ia kubur dalam-dalam. Sayang,  ia tak mampu melawan lolongan serigala. Gagal melawan angin malam yang membius matanya. Ia kalah!  Jiwanya kini rebah,  pasrah.

Dua  tahun  silam, ia  ukir  renjana  di  bawah  naungan senja. Tanpa  hujan  dan  langit  membiarkan jingga  bermanja. Ia berdiri sehadap tugu tinggi. Menjulang menantang dunia dengan kobar api emas di puncaknya. Terkenal sebagai dogma ibu kota. Monas. Mengantar kisah manis pertemuan dua remaja belasan tahun. Berjajar menikmati panorama pengantar menuju malam. Tanpa sengaja sikut saling bersenggolan. Dan tatap mata jatuh pada rasa untuk pertama kalinya. Senyum sapa yang menggoda jiwa laki-laki delapan belas tahun dengan jakun sebiji jagung. Betapa perempuan yang dipandangnya nampak elok. Dengan gaun sepanjang lutut bercorak batik dengan sabuk putih melingkar dipinggangnya. Sama. Keduanya terpana juga akhirnya memiliki getaran yang sama.

Selepas senja di langit ibu kota. Gemerlap bintang terbias rembulan. Terang. Juga lalu lalang yang masih menggeliat. Keduanya bertemu dalam suatu percakapan tanpa sengaja. Hingga lama-lama larut berbenih cinta. Rembulan tak cemburu, bahkan tanpa malu ia ikut menyinari hati kedua belia. Menyetujui perkenalan meski akan berujung kenangan hitam. Sebelum suara mengejutkan, mereka terlampau mengenal.

“Dara,  mari pulang nanti Mama dan Papa menunggu kita makan malam terlalu lama. ”

Dan tinggalah laki-laki itu sendirian. Bebas mengeja jalanan. Sebab itulah tempat ia kan berpulang. Seluruh sisi kota adalah rumahnya. Ia tak menetap di suatu tempat,  tapi  ada dimana-mana sesuka hatinya berkehendak. Kali ini,  kolong jembatan menjadi persinggahan. Beralas kardus dengan sarung yang ia sembunyikan dalam tas punggung. Menatap langit beton. Tak ada bintang,  tapi ada bayang gadis serupa kupu-kupu di taman fatamorgana. Dara.

Sama halnya dengan lelaki itu. Dara melepas penat punggung dengan rebah pada kasur. Menatap langit putih di atap kamarnya. Lalu membias seorang rupawan yang baru dijumpainya. Elang. Ya!  Setajam matanya bagai Elang yang berhasil menggubah dunia Dara. Mereka hidup di lain sisi. Dalam batas ekonomi. Elang adalah pengembara di jalanan. Tak tamat SMU apalagi SMP. Menggenggam ijazah SD saja adalah kebanggaan dalam dirinya. Setidaknya memenuhi kewajiban belajar enam tahun seperti yang pemerintah canangkan dulu. Namun,  kini wajib dua belas tahun. Dan ia telah malas. Jalanan membawanya pada pergaulan yang liar. Menyimpang dari kisah Dara. Ia puteri saudagar kaya. Hidupnya berkecukupan. Usianya baru empat belas. Menjejaki masa-masa pubertas pertama. Namun,  apalah arti usia dan kasta. Jika sebuah rasa telah menggelayut dan membangun jembatan di antaranya.

Hari  yang  berlalu  semakin  menenggelamkan  dua  sejoli pada  kobar  di  dada. Hanyut  pada  aliran  nadi  yang  berirama  cinta. Juga  debar  jantung  yang  mendetakkan  nama. Tak ada yang mengetahui ikatan antara mereka. Hanya Dara,  Elang dan Tuhan terutama. Semesta hanya saksi sedang isi dunia tak mau mengamini. Sebab apa mereka sembunyi?  Jika bukan karena mereka kan tahu bahwa hubungan itu menimbulkan reaksi tak menyenangkan. Terlebih dari keluarga Dara. Seorang puteri dengan gelandangan. Realitas ibu kota yang jarang ada. Juga tak pernah mendapat sorot apa-apa. Selain hina pada mereka yang hidup nekat menjejaki ibu kota. Seperti Elang misalnya.

Pertemuan rahasia di akhir pekan. Lewat pesan singkat mereka mengharap suatu tatap. Pertemuan walau singkat akan menghapus rindu meski kan datang lagi lain waktu. Dan tempat itu adalah dekat tugu,  awal mula mereka bertemu.

“Inilah pertemuan rahasia kita untuk kesekian kalinya. Apakah kau masih bahagia bersamaku Dara? ”

“Tentu saja kak Elang. Aku sangat menikmati setiap detik bersamamu. ”

“Jika boleh kutahu,  alasan apa yang kau berikan malam ini pada orang tuamu? ”

“Seperti biasa,  menonton bioskop dengan teman-temanku.”

Temaram yang manis. Binar mata kedua insan berpaut. Mengalahkan sorot-sorot lampu kendaraan yang berjejal menembus jalanan. Sepiring ketoprak mereka lahap berdua. Dua sendok dalam satu piring. Sedang kasmaran menyamarkan kedukaan yang ada hanya bahagia. Meski seadanya. Bagi masing-masing,  terutama Dara, kasta tak memberi sekat pada mereka. Justru semakin erat mengendapkan ikatan rasa. Arloji di tangan kanan Dara menunjuk angka sembilan. Ya!  Belum terlalu larut. Mereka masih inginmelepas rindu. Dalam remang,  bisikan setan mengenai telinga Elang. Pikirannya liar menjalar sampai keluar akal. Nafsunya membirahi,  ajakannya nakal untuk mencumbu rembulan malam ini. Mulanya Dara enggan menuruti. Lalu seribu jurus rayu terlontar dari bibir biru. Elang pandai benar bermanis manja.

“Ayolah!  Jika kau sayang padaku lakukan. Buktikan!  Dan aku tak akan meninggalkanmu. Inilah bentuk kesetiaanku padamu. ”

Dara masihlah belia. Dalam dekap asmara ia luluh dalam peluk berdosa. Pecahlah sudah lapisan dara. Darah yang mengalir pertanda luruhnya pertahanan wanita. Ia tak lagi perawan. Semula ia menangis tersedu sedan. Tetaplah Elang tangguh menenangkan dengan maut bisa bibirnya. Janji manis yang menjadi pengharapan setelah nafsu terpuaskan. Si dara belia telah meranggaskan kelopaknya. Layu,  jatuh satu persatu. Tak perawan!

“Berjanjilah tak akan meninggalkanku. Dan jika sesuatu terjadi kau harus bersedia bertanggung jawab.”

Si pria merangkul dan mengecup kening. Tersenyum manis juga mengangguk takzim. Pulanglah pada kediaman masing-masing. Dara berjalan gontai menuju halte dan menungayahnya datang menjemput. Ia lemas. Juga seribu rasa mengoyak jiwanya. Dosa!  Belum lagi keperawanannya. Atau bagaimana bila terjadi sesuatu?  Ah!  Ia menekuk tengkuk dengan kedua telapak tangan memeluk wajahnya. Sesaat setelah itu,  sedan hitam membunyikan klakson. Ayahnya telah tiba.

“Kenapa di halte nak?  Kenapa tidak di depan bioskop saja. Aman bukan? ”

“Tidak apa-apa Pa,  tadi makan sebentar di cafe dekat halte. Jadi aku menunggu di sana dan teman-teman sudah dijemput duluan? ”

“Apa kau menunggu Papa terlalu lama?  Sampai pucat begitu wajahmu. Kau terlihat lelah nak! ”

“Aku mengantuk Pa! ”

Sedan melaju bersama kendaraan lain yang meramaikan jalan ibu kota. Setelah memarkirkan di garasi kanan rumah. Dara lekas menuju ke kamarnya. Memeluk guling dan menyembahkan air mata padanya. Juga sesal mengelakari pikirnya. Kenapa bisa terjadi?  Kenapa mau?  Ah!  Cinta. Lakukan demi cinta. Dalam tangisnya ia berdoa supaya Tuhan masih mau memberi ampun juga berharap tak akan terjadi apa-apa. Sampai matanya perih dan lelap menguasai.

———–

“Kemana saja kau kak?  Aku mencarimu ke tempat biasa kau nongkrong. Tidak ada!  Menghubungimu susah sekali! Jangan bilang kau lari. ”

“Aku sedang ada masalah dengan ketua gengku. Dan kau?  Ah!  Menambahi beban pikirku saja. ”

“Kenapa begitu? Kau yang mengajakku melakukannya. Aku dua bulan gak kedatangan tamu.  Bagaimana jika….”

“Diamlah Dara!  Kau tak akan hamil!  Mungkin kau hanya terlambat

datang bulan saja. Kau masih kecil,  jikalau kau hamil. Gugurkan saja! ”

Petir menyambar meski langit cerah. Tepat mengenai ulu hati Dara. Ia menangis sejadi-jadinya tapi justru bekas tangan Elang menyentuh pipinya. Sebuah tamparan. Membekas memar di hati. Elang telah menampakkan tabiat aslinya. Seorang yang bengis. Bertopeng manis padahal hatinya sepekat jelaga. Membaur dalam rupawan hingga tak terpikirkan bahwa ia adalah musuh nyata. Hari itu,  minggu kelabu. Dengan terpaksa demi sebuah harap pada kecemasan. Agar yang tak diharapkan segera berlalu. Elang membawa kekasihnya memeriksakan kandungan. Kalau-kalau ia benar hamil. Ah!

“Adek ini baru empat belas tahun? ” Bidan terpekik mendengar pengakuan Dara perihal usianya.

“Astaghfirullah,  anak muda zaman sekarang kelewatan. Kau juga laki-laki kenapa tega menggauli anak di bawah umur?  Kau bisa di penjara!”

“Jangan menyeramahi saya, katakan bagaimana hasilnya!” Dengan mata nanar dan tanpa kesopanan Elang menyambar nasehat sang Bidan.

“Anak muda tak sopan. Pantas jika dia hamil,  kau frontal. Kekasihmu positif hamil dua bulan. ”

Leher serasa tercekat. Dahaga luar biasa membuncah di kerongkongan. Sesak menggumpal di dada. Dara menangis sejadi-jadinya di ruang Bidan. Sebab pengertian sang Bidan mereka dibebaskan dari biaya pemeriksaan. Keluar dari ruang disambut ejekan bangku-bangku bagi pengunjung pasien. Juga angin semilir yang meneriaki kekesalan. Menyalahkan dan mencaci. Dara ketakutan bukan main. Bagaimana jika orang tuanya tahu?  Juga Elang yang kebingungan harus berbuat apa. Lagi!  Setan membisikkan rayu serupa racun. Elang gelap mata. Dibawanya Dara menaiki bus kota,  entah kan kemana. Sedari tadi Dara bertanya namun tak ada jawab apa-apa. Kecuali tatapan mata Elang yang kosong menatap kaca jendela bus kota.

Sampailah pada suatu rumah mungil. Dipenuhi tanaman-tanaman asri di halaman. Tanda tanya besar mengganjal di hati Dara. Tempat apa ini?  Sekilas nampak seperti rumah hantu di film-film layar lebar. Lengang seperti tak berpenghuni. Mereka dekati pintu dan mengetuk perlahan. Wanita paruh baya menyambut dengan senyum bahagia. Ia akan mendapat mangsa. Memperkenankan mereka masuk dan menjamu dengan hidangan tamu. Ia telah mengetahui maksud kedatangan dua sejoli itu. Dan ia tersenyum sinis.

“Jadi,  berani bayar berapa anak muda? ”

Keduanya saling tatap. Dara tak mengerti yang diucap sedang Elang mengamati perhiasan di leher juga kedua telinga Dara. Memaksa Dara melepas semuanya. Sempat ia menolak namun akhirnya menurut karena tak enak beradu di rumah orang. Elang menyerahkan semua pada si wanita paruh baya. Tersenyum puas. Dan meminta Dara mengikutinya masuk dalam sebuah ruang. Elang menunggu di ruang tamu. Dara nampak ketakutan sesekali berbalik menatap Elang. Tapi Elang tak acuhkan.

Sesaat berlalu, lengkingan suara Dara menyeruak. Jeritannya menandakan rasa sakit luar biasa. Bersamaan dengan janin meluruh. Gumpalan daging kini mengisi baskom yang semula hanya berisi air. Dara sungguh lemas dan pucat pasi. Tak sanggup rasanya ia berjalan. Ia dipaksa menggugurkan janin yang berusia tiga bulan. Kejam!

Berjalan seiringan. Dara hampir tak mampu berpikir. Padahal ia ingin memikirkan bagaimana ia ketika sampai di rumah. Juga Elang yang begitu tega terhadapnya. Matanya kabur,  kakinya lemas tak sanggup lagi ia jalankan. Dan akhirnya,  ia ambruk pingsan. Sedang Elang meninggalkannya di pinggiran jalan dan pergi begitu saja.

———

“Anak kurang ajar! ” Hampir saja tangan sang ayah mengenai pipi Dara sebelum ibunya menghadang.

“Jangan lakukan Pa!  Ia sedang kesakitan. ”

“Dia bikin malu!  Aib! ”

“Ma,  Pa!  Maafkan Dara…. Maafkan Dara….”

“Katakan!  Siapa laki-laki itu? ”

Dara meremas selimut di ranjang rumah sakit. Ia ditemukan warga terkapar menghadap langit. Beruntung ponselnya masih ada, memudahkan untuk menghubungi orang tuanya. Dokter menganalisa terjadi pendarahan. Sesuatu meluruh dari rahimnya. Ia dipaksa menggugurkan. Sontak kedua orang tua juga kakaknya kaget bukan main. Sebuah ironi yang memilukan. Bahkan sang ayah menj

adi sangat merasa bersalah selepas itu. Merasa ia bukan ayah yang baik. Yang mampu mendidik keluarganya.

“Apakah Papa salah mendidikmu nak?  Sampai semua ini terjadi?” Suaranya parau tercekik air matanya sendiri.

“Sudahlah Pa,  segalanya telah terjadi. Kita tak bisa apa-apa selain menerima. Dan kita rahasiakan ini pada semua orang. ”

“Tapi, Ma!  Kenapa anak kita?  Anak yang kita didik dan besarkan begitu menyayat hati kita. ”

“Ma,  Pa!  Maafkan Dara. ”

Permintaan maaf Dara bukan hanya untuk Tuhan. Atau kedua orang tuanya sekalipun. Tapi pada darah daging yang sempat ia dekap di rahim. Batinnya tersiksa mendengar bisikan entah darimana. Menyalahkan,  mengutuki. Jeritan tangis bayi. Menghantui pikirnya kini.

“Nak,  maafkan Mama…. ”