Titin Widyawati, Memberikan Motivasi Hidup dengan Karyanya ‘Pelangi di Malam Hari’

oleh

Di otak yang masih belum dipoles noda. Ia selalu berpikir bahwa akan sanggup terbang memetik bunga di batas senja. Menggapai bintang. Meniup bola api mentari. Duduk di pangkuan rembulan. Meluncur di cekungan pelangi. Khayalannya kaya akan keindahan surgawi. Tak pernah memperpusingkan dosa. Tidak tahu makna cinta remaja. Tak memahami tiupan angin topan membawa bencana.

            Sejelasnya jikalau keinginannya meminta boneka, meminta ice cream, meminta mainan wanita, meminta uang saku lebih, tak diberikan. Menurutnya Bumi telah meledak. Luapan danau airmata pun akan ia semburkan membasahi jagat raya. Teriakannya akan mengganggu kedamaian malam. Tangisnya menjelegar layaknya maut yang tak bisa ditunda kemauannya memangsa nyawa, jika sudah dititahkan untuk mencabutnya. Inilah dia otak sang belia.

Tidak ada sesuatu yang tidak mungkin di dunia ini. Sesulit apa pun pasti dapat digenggamnya, dengan doa maksimal, dan tidak pernah mengenal kata putus asa. Never give up. Itulah kalimat yang selalu mengendap di benak  Pika Varisa. Bocah berumur sembilan tahun yang masih duduk di kelas 3 SD. Anak manis berpipi tembem ini selalu membuat kepala orangtua berdenyut-denyut. Jika tak dituruti kemauannya, mogok makan menjadi ancaman.

Suatu hari Pak Latif Guru Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), memberikan materi pelajaran tentang pelangi. Mulai dari jumlah warna yang dimilikinya, hingga bentuk beserta proses terjadinya. Beliau menunjukkan warna dan bentuknya dengan menggunakan prisma, kaca, dan air sebaskom yang diletakkan di atas meja guru. Di dalam ruangkelas yang sederhana itu, permukaan meja guru bagaikan sedang dihuni barang belanjaan di benak Pika. Imajinasinya menari ke sana kemari. Pupil matanya yang hitam arang itu tak pernah lelah memelototi prisma yang dipegang Pak Latif. Ia berkhayal jika mampu menjadi liliput dan berdiri di puncak prisma tersebut. Sepertinya itu akan menjadi humor tersendiri bagi orang lain. Pikirnya konyol!

Waktu itu Pika, gadis cadel yang menggemaskan itu, belum mampu memahami keterangan yang disampaikan oleh Pak Latif. Kata yang terangkai menjadi kelimat lantas dilontarkan oleh Pak Latif bukannya membuat kebodohannya musnah, malah membuat keningnya berkerut-kerut. Otaknya dibuat Pak Latif mendidih karena kebingungan. Reflek jari telunjuknya terangkat, tanpa menunggu respon dari sang guru, gadis mungil itu mengungkapkan pernyataan.

“Bapak kok aneh sih? Pelangikan di langit, bukan di atas meja. Pelangikan cekung di udala dengan alami, bukan kalena pantulan dali kaca dan plisma. Walna pelangi ya, melah, jingga, kuning, hijau, bilu, nila, dan ungu… kok walnanya ditambah disebut MEJIKUHIBINIU sih? Ih Bapak aneh! Setahu Pika walna itu cuma ada dua macam. Satu walna dasal dan yang kedua walna tulunan. Walna dasal hanya ada tiga. Melah, kuning, dan bilu. Yang lainnya disebut walna tulunan. Enggak ada tuh walna MEJIKUHIBINIU dalam pelajalan Seni Budaya.” Protesnya dengan nada cadelnya yang has.

Cerdik otaknya, hingga berani memprotes keterangan gurunya.  Oh anak kecil yang polos. Pak Latif terkekeh kecil mendengar kalimat jenius yang keluar dari mulut Pika. Beliau memaklumi pernyataan konyol itu, karena ia masih duduk di bangku 3 SD. Itu bukan kekonyolan! Itu adalah kecerdasan Pika yang luar biasa. Keberaniannya mengeluarkan pendapat untuk menyanggah keterangan Pak Latif, sudah mendapatkan nilai tambahan tersendiri di mata beliau. Wajar kalau anak manis itu belum bisa menangkap dan mencerna keterangan guru dengan cepat. Beliau lalu menghampirinya, duduk di kursi sebelah kiri Pika, gadis yang belum paham itu refleks menggeser tubuhnya sedikit.

“Betul, pelangi memang di langit, bapak hanya menjelaskan menggunakan prisma supaya Pika dan teman-teman lainnya paham. Itu sekadar perumpamaan. Misalnya seperti tahu, bapak umpamakan bentuknya seperti penghapus yang kotak, kan enggak mungkin bapak masuk ke kelas bawa tahu. Nah benar kata Pika, warna hanya ada dua macam,” kata Pak Latif memberi jeda pada keterangannya untuk menghirup udara.

“Warna dasar dan warna turunan. MEJIKUHIBINIU itu bukan termasuk macam warna… tapi singkatan dari warna-warna pelangi yang hanya diambil huruf depannya saja. Misal merah, ya hanya Me, jingga ya hanya Ji… kenapa seperti itu? Supaya Pika dan teman-teman mudah menghafal warna-warna pelangi yang jumlahnya ada tujuh. Begitu sayang, sudah paham?” beliau menjelaskan dengan pelan dan lembut.

“Kata Bu Nani, gulu IPS Pika, di dunia ini nggak ada yang nggak mungkin. Nyatanya Indonesia bisa mengalahkan Belanda, yang sudah menjajah negala Indonesia selama 3 abad lebih. Belalti mungkin saja dong, Bapak bawa tahu ke kelas, Bapak aja yang malas, telus bilang nggak mungkin.” Ia berkata dengan nada menuntut.

Kata-katanya mampu membuat guru yang mengajar IPA itu mati kutu. Sementara murid-murid lainnya bertepuk tangan, tertawa ria sambil meledek. Suasana kelas mendadak ramai. Tawa renyah membuat kelas sebelah merasa terganggu.

Huu… Pak Latif aneh, pinteran Pika. Pak Latif pemalas pinter Pika… huu,” mereka bersorak-sorak ramai mengikuti ucapan Pika yang mengatakan Pak Latif aneh.

Hehehe, otak kamu memang jenius, bapak bangga sama kamu Pik, ya sudah apa sekarang Pika sudah paham?” tanya Pak Latif simpatik sambil mengembangkan senyumnya.

“Paham Pak, tapi sedikit.”

“Biar paham seratus persen, entar kalau sudah sampai rumah, Pika belajar lagi ya!” perintah beliau.

“Iya Pak, Pika akan belajal sungguh-sungguh, asalkan Bapak besok tidak malas bawa tahu ke kelas. Kan di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin. Belalti kalau Bapak tidak bawa, Bapak belum bisa mencelminkan sikap peljuangan Bangsa Indonesia melawan penjajah Belanda. Coba Bapak pikil, Bangsa Indonesiakan cuma sedikit, uda gitu senjatanya juga enggak lengkap. Tapi dengan niat yang belkobal dalam jiwa,” Pika menunjuk dadanya sendiri.  “…meleka belsatu melawan penjajah dan menang. Kalau dipikil kan enggak mungkin Indonesia akan menang, tapi nyatanya Indonesia menang. Nah kata Bu Nani, itu membuktikan bahwa di dunia ini tidak ada yang nggak mungkin. Asalkan kita belusaha dengan sungguh-sungguh. Masak cuma bawa tahu ke kelas saja enggak mungkin, hahbelalti Bapak pemalas dong!” Ujar Pika dengan cerdiknya.

Lelaki separuh baya yang mengajar IPA itu, hanya mengangguk bangga sambil menyudutkan bibirnya untuk tersenyum. Beliau yang berjiwa samudera, tidak marah dikatakan aneh dan pemalas. Beliau malah kagum dengan Pika yang berani mengoreksi kesalahannya dengan teliti. Jarang anak kelas 3 SD yang mampu berpikir seperti dirinya. Hanya seribu satu.

“Oke, besok bapak akan bawakan tahu sepesial buat Pika. Asalkan Pika belajar sungguh-sungguh.”

“ Asyiiik…” teriaknya girang kemudian melanjutkan kalimatnya,

“O iya Pak, bisa nggak Pika lihat pelangi di malam hali?”

Pertanyaan Pika belum terjawab karena bel kedua telah berbunyi. Petanda waktu pulang telah tiba. Pak Latif mengakhiri pelajaran hari itu. Beliau memimpin anak-anak berdoa. Membiarkan Pika yang masih berkhayal dengan pertanyaannya yang tidak masuk akal. Gadis mungil itu pun hanya sanggup mengerucutkan bibirnya. Protes pun tak sanggup, lantaram waktu sudah tak berkenan.

*****

Pika duduk manis di kursi tamu, usai melepas seragamnya lalu mengganti pakaian sekolahnya dengan blus biru Winnie The Pooh kesukaannya. Ia sengaja menunggu kedatangan ayahnya pulang kerja, dari toko tanaman hias milik beliau. Duduk sambil memeluk boneka abu-abu Shoun The Sheep. Meletakkan dagunya di atas kepala bonekanya.

Pika termasuk anak yang hiperaktif. Tutur katanya suka ceplas-ceplos. Pemikirannya cerdik, mampu mengalahkan guru. Ia menuruni watak ibunya yang jenius namun kasar dan  keras kepala. Tak jarang kata-kata kasar sering keluar dari mulut ibunya, seperti Pika tolol, nakal, pemalas, goblok, aneh, tidak sopan, dan lain sebagainya. Jadi  wajar jika anak itu berkata ketus kepada gurunya. Berani mengatakan beliau pemalas, karena kata-kata itulah yang selalu terdengar di telinga Pika. Sementara ayah Pika, memiliki jiwa seluas samudera. Tutur katanya lembut. Beliau penyayang dan sangat perhatian.

Pelangi yang indah berwarna-warni terbayang dalam angannya. Ia ingin sekali melihat pelangi yang menghias angkasa setelah turunnya butiran air dari langit. “Kenapa halus hujan dulu, kenapa hanya nampak di waktu telang saja, kenapa enggak di malam hali, bial bisa belteman dengan bulan dan bintang?” ia menggumam sambil menggerakkan jari telunjuknya untuk menonyong-nonyong dahinya. “Kenapa ya?” ia terus bertanya-tanya.

Tak disadari, lelaki separuh baya yang ditunggunya sudah berdiri tegak di depannya. Ayah Pika membelai lembut rambut putri tercintanya yang sedang melamun bingung memikirkan pelangi.

“Sayang, anak ayah kok ngelamun. Enggak boleh loh, entar kesurupan terus Pika ketawa-ketiwi sendiri kayak orang gila.” Ujar beliau sambil menaikkan anaknya di pelukannya.

“Ayah kapan pulangnya sih? Pika uda nungguin lama sama Adik Sheep (boneka kesayangannya, Shoun The Sheep) dali tadi tauuuk.”

“Pika sih, ngelamun terus, jadi enggak tahu kapan ayah masuk rumah. Kenapa Pika enggak masuk ke dapur nemuin ibu?” beliau mendudukkan gadis kecil itu kembali.

“Malas ah Yah, ibu bawel,” rajuknya.

Oh ya Yah, Pika ingin lihat pelangi di malam hali,”

Ayah Pika mengerutkan dahi. Permintaan Pika sungguh tidak masuk akal.

“Aduh sayang, mana ada. Kalau malam pelangi ya nggak kelihatan meskipun sehabis hujan!”

“Kata Gulu IPS Pika di dunia ini nggak ada yang nggak mungkin Yah…” katanya penuh antusias.

“Tapi kalau pelangi di malam hari ya enggak ada sayang,” beliau coba meyakinkan.

“Pokoknya Ayah halus ngajakin lihat pelangi ental malam! Titik…  kalau enggak Pika enggak mau makan satu minggu.” Anak itu turun dari kursi lari menggendong bonekanya menuju kamar. Pika terkenal dengan sifatnya yang keras kepala. Ia selalu mogok makan jika apa yang diinginkannya tidak terpenuhi. Ancaman tersebut, membuat lelaki separuh baya itu pusing tujuh keliling.

Hmm… apa yang harus aku lakukan untuk anak itu, aku takut dia enggak mau makan beneran seperti kejadian yang sudah-sudah.” Ungkap beliau dalam hati, dengan raut wajah yang cemas.

*****

Malam begitu cepat mengembuskan napasnya, namun Pika belum mau mengisi perutnya yang sedari siang belum dimasuki apa-apa.  Hal itu membuat khawatir perasaan ayahnya. Beliau sangat menyayangi buah hatinya yang keras kepala. Beliau takut anak itu sakit gara-gara tidak makan. Berkali-kali beliau membujuk anaknya untuk makan, sayang usahanya tetap nihil.

Beliau berpikir sejenak sambil membelai lembut rambut putrinya yang sedang duduk  di atas ranjang dengan memeluk bonekanya. Tiba-tiba muncul ide dari benak beliau. Ayah Pika keluar, menelpon karyawan yang bekerja di toko beliau. Menyuruhnya untuk menata semua jenis tanaman hias membentuk cekung seperti pelangi dan mengelompokkan warnanya berurutan seperti warna pelangi. Beliau juga menyuruh karyawannya untuk memasang lampu hias di setiap tepi tanaman hias itu. Baris pertama bunga yang berwarna merah, baris kedua bunga yang berwarna jingga dan seterusnya, menyerupai warna pelangi.

Setelah semuanya selesai, beliau mengajak Pika ke toko tanaman hias tersebut. Sesampainya di sana, mata Pika terbelalak kagum. Sungguh indah pemandangan yang ada di depannya. Sayang, masih ada yang menjanggal di pikirannya.

“Ayah, ini memang sepelti pelangi, dan ini sangatlah indah. Tapi kenapa pelangi ini tidak di langit, dan kenapa pelangi ini dibuat dali bunga, Ayah?” anak mungil itu masih tetap protes. Dengan santai ayah Pika berkata,

“Sayang, di dunia inikan tidak ada yang tidak mungkin, jadi mungkin saja dong kalau ada pelangi di Bumi. Sewaktu terang pelangi ada di langit, tapi jika malam datang, pelangi itu akan nampak seperti ini.” Tutur beliau dengan mantap, dihiasi senyuman semanis mungkin.

Emm… iya juga di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin. Yaudah deh nggak papa, yang penting Pika uda bisa lihat pelangi di malam hali. Heeeholeeee,” teriaknya bahagia sambil lari mengelilingi cekungan bunga-bunga tersebut.

Ayah Pika menghirup napas lega, karena telah berhasil menakhlukkan hati putrinya yang cerdik itu. “Entar pulang langsung makan ya!” ungkap ayah Pika,

“Pasti Yah, Pika kan cuma akting bial Ayah nulutin pelmintaan Pika, hee… lagian Pika sudah lapal buangeeet.” Anak itu  berhasil membuat ayahnya memasang ekspresi geram. Walaupun begitu, beliau tetap bangga dengan putrinya yang sangat cerdik.

Bermimpilah setinggi langit. Jangan pernah takut hal itu mustahil, yakinlah mimpi itu akan terwujud. Jika mau terus berusaha dan tak mau mengenal kata putus asa. Terjanglah terus ombak di lautan. Hancurkanlah batu kerikil yang menghalangi langkah, kuburlah rasa malas dan hapuslah perasaan takut. Jangan pernah memupuk hal keji yang dapat menghalangi langkah meraih mimpi. Dan ingat, jadikanlah celaan serta hinaan sebagai motivasi yang membangun. Lets reach our dream..!!!!!!!!!

Titin Widyawati penulis muda dari Magelang.