Populasi Manusia (Darah Mimpi)

oleh
pixabay.com

“Aku mencintaimu,” pipi pemuda itu basah sebab cairan jiwa yang pedih.Ia menggenggam amarah yang tak mampu diredam, sementara kasih sayang kandas berbenturan dengan rasa yang kian menggenang. Lima tahun perjalanan asmara menjadi usai, karena dua bola lensa melirik latar belakang yang buram. Kemejanya berantakan, rambutnya awut-awutan, baru saja diacak oleh angin.

pixabay.com

Ia kemudian mengeluarkan kotak berisi cincin dari dalam kantongnya, seseorang yang digenggam jemarinya memandangnya iba penuh kasihan, terikut larut dengan kepedihan yang mempermainkan senyumnya. Pemuda itu nyaris kehilangan rupanya secara sempurna.Pandangan memerah bebercucuran airmata, suara yang serak dan tangis yang terisak.“Lihatlah ini cincin untukmu, aku menabung setelah bekerja menjadi kuli bangunan.”Lanjutnya dengan bibir bergetar. “Aku tak mempunyai alasan untuk hidup, kecuali dirimu, aku berjuang untukmu, karenamu aku menjadi orang yang lebih berguna, namun­………………….” Kalimatnya terputus, tubuhnya roboh, kini jasadnya terkulai di permukaan taman.

Lawan bicaranya masih berdiri, justru mensedekapkan kedua tangan di depan dada. Langit melintir terang, birunya menajam, kabut menghadang, gerimis menyerbuk di pucuk-pucuk tanaman, kendaraan menggerung, serupa dengan jiwanya yang hendak mengamuk lantang.“Bukankah aku sudah tampan?”Atmosfer mentertawakannya. Taman kota sepi, pengunjung membalik punggung, gerimis merampas waktu luang kesenangan.

Kalender menitik merah, 30 Mei 2017, masa yang menyeretnya ke lubang petaka hari itu.Ia meremas rumput bonsai, kemudian memberanikan diri untuk menatap seseorang yang berdiri dengan pandangan memelas kepadanya, detik menangkap lengannya terangkat, memamerkan kotak merah dengan cincin permata yang harganya mencekik karung pemulung.

“Apakah cincin ini kurang mahal?”Lelaki itu kembali terjungkal ke dalam pusara lukanya.Ia lemas. Mengabaikan kotak cincinnya yang jatuh, hingga benda lingkar indah itu lepas dari sarangnya, mencumbu gerimis yang tidak manis.

Imajinasimu akan tumbuh, sosok itu, sebuah gadis jelita dengan rambut panjang terjurai indah. Wajah yang menantang kecantikan mawar di taman, senyum datar yang menguasai kesenangan dunia, mahkota menjadi kharismanya, hidupnya di dalam kemegahan istana, kain yang dikenakan berjuta-juta nilainya.

“Semalam kau makan apa, Ndra?” Suara lelaki itu keluar.Ia jongkok, menepuk bahu kawannya. Hancurlah imajinasimu, “aku tak bermaksud menolak perasaanmu, kau gila!Aku ini seorang pria, kau pun begitu!”

“Haruskah aku menjadi jenis yang sama agar kita sanggup berkumpul?Hidup bahagia di dunia ini?”
“ANDRE! KAU BENAR-BENAR GILA!”Razan, sebut lelaki yang melantangkan suaranya itu.
“Karena aku mencintaimu!”Pemuda itu menangis, lebih histeris. Razan membantunya berdiri, mengajaknya duduk di bangku taman. Gerimis mulai membutir.Casuarina Equisetifolia yang berdiri kokoh di belakang tubuh mereka memutih, serupa renta yang rambutnya menguban, titik embun memoles warna utuh dedaunan.

Usai keluar dari kampus, Razan mendapatkan pesan singkat dari Andre, untuk menemuinya di taman kota. Airmata pemuda itu membuatnya tercengang, ia tak memahami kemana arah kalimat sahabatnya yang tidak mengecam pendidikan kuliah itu tertuju.

“Kau salah obat?”

Andre menunduk, kornea matanya tertuju pada kotak dan cincin yang masih tergeletak malang. “Aku dan kamu berbeda jenis, Zan!”

“Apa maksudmu, Ndre?Kau kenapa?”

“Sudah kubilang, aku mencintaimu!”

Plak.Razan geram, satu tamparan melayang.“SADAR! NAMAKU RAZAN, KAU ANDRE, KITA SAMA-SAMA PRIA!”

“Antarkan aku pulang!”Ia berdiri, menuju gerbang keluar dari dalam taman, mengabaikan bunga Lotus yang memandangnya penuh cinta dari dalam kolam. Langit menangis, cincin dibiarkan kesepian, perjuangannya mengumpulkan harta untuk meminang cincin tersebut tidak menjadi berguna. Hujan mengguyur kota. Razan mengantarkannya pulang dengan mobilnya.

Dalam perjalanan ia tampak murung, tawa yang sering diumbar ke sana kemari tewas, dibawa kabur genangan air keruh di selokan. Jalanan padat, gedung-gedung pencakar langit menciut karena gigil.Para pekerja kantoran meringkuk di dalam ruang dengan segelas mocca penebar kehangatan.Lain dengan nasib mereka yang di emperan, menatap wajah melas dagangan belum terjual, menggigit bibir kelu membayangkan anak dan istri.Tukang bangunan istirahat sejenak di sisi material gedung, menghisap rokok murahan. Pemulung bersembunyi di lorong-lorong jembatan atau rel kereta api, bergumul dengan kawannya pengemis atau pun pengamen.

“Apa yang kau pikirkan, Ndre?” Razan bersimpati, ia melambankan setirnya. “Ada masalah apa?”

Mereka dua manusia yang mempunyai perbedaan nasib.Salah satunya terlahir dari keluarga mapan namun kasih sayang orangtunya berantakan sebab kesibukan, sementara yang satu keluar dari rahim keluarga yang kaya dengan cinta, sayang ditelindas setan ekonomi rendah yang kejam.Rumah mereka bersisihan, yang satu bergedung megah dengan pilar-pilar mewah, yang satu hanya gubuk bambu peninggalan nenek moyang dengan halaman rumah yang sempit.

“Kau bilang menurut pandangan Karl Max, aku ini adalah proletar, orang yang sering ditindas dan diperas tenaganya, bukankah seperti itu?”

Razan menarik napas dalam-dalam.“Ya, namun aku tak bermaksud menjatuhkan harga dirimu, dan kau tak perlu memikirkan hal tidak penting itu, Ndre.Abaikan saja, yang penting jadilah dirimu dan kita akan berusaha membunuh peradaban kapitalis.”

“Kau pandai sekali berbicara, Zan.”Ungkapnya acuh tak acuh.Pandangannya tertuju pada jalanan yang semrawut.Apell menyala merah memberikan aba-aba agar mesin diistirahatkan sejenak pada arah yang telah ditentukan. Penyebrang jalan melangkah, pengamen menyanyikan lagu dengan suara sumbang, mengetuk kaca mobil tuan, menengadahkan telapak tangan, uang koin menjadi harapan. Hujan masih merajai alam, suasana sedikit tragis, takdir tega membiarkan nasib mereka malang. Razan membuka kaca mobil, menyodorkan uang dua ribuan.

“Aku selamanya akanmenjadi golongan kelas sosial rendah,” Andre kembali meracau.“Seperti nasib pengamen itu,” matanya memerhatikan seorang pemuda dengan pakaian compang-camping, berambut gondrong, dengan gitar sebuah nyawa yang digenggam, seseorang yang baru saja mendapatkan selembar kertas rupiah dari Razan.Ia berteduh di toko pinggiran jalan.Apellmenyala hijaun, semua kendaraan melanjutkan perjalanan, bergantian penyebrang yang diistirahatkan.

“Tidak Andre, jangan mempermasalahkan kelas, masalahkan saja iman kita, sudah kuat atau belum, Tuhan tidak pernah menilai seseorang dari derajat dan kekayaannya bukan?”

“Zan! Ada suatu hal yang tidak adil di dunia ini, pengelompokan jenis! Bagi orang sepertiku ini sangat tidak ADIL!”

Kalimat Razan tak mendapatkan alur yang sesuai harapannya.Andre justru mengalihkannya.Ia, menarik napas berat, mengembuskan perlahan. “Apa?” ia hanyut terbawa arus. “Jangan bilang perasaan cintamu itu sungguhan, Ndre!”

Senyum sinis terurai.Andre membuang muka keluar mobil.Seorang gadis berseragam SMA melintasi jalan trotoar.Jemarinya menggenggam payung, sementara baru saja matanya menangkap pemuda tampan ngebut mengendarai sepeda motor Ninja.“Instansi pendidikan juga sering dikelompokkan, di mana ada lembaga yang menampung orang-orang miskin, dan juga orang-orang kaya.”

“Ya.Itu hanya untuk membantu mereka, bayangkan jika campur aduk, orang miskin akan kalah, mereka tidak mampu membayar sekolah!”

“Mengerikan, di dalam sekolah, ada kelas-kelas tertentu sesui pencapaian nilainya. Semisal, kelas A adalah untuk anak-anak yang pandai, kelas B untuk anak yang nilainya rendah, Kelas C untuk yang malas, kelas D untuk anak-anak yang berontak dengan pelajaran.”

Razan diam, tak mampu mengelak, kenyataan tersebut sangat benar.

“Mana mungkin orang akan bersosialisasi dengan baik tanpa mengenal kelas?Sementara dari dini manusia sudah diajari hal itu?”Andre muntab.“Bukankah setiap manusia mempunyai kemampuan yang berbeda-beda?Bisa saja anak yang nilainya rendah itu memiliki kelebihan di bidang seni, apakah kepandaian seseorang hanya diukur dari nilai pelajaran di sekolahan saja?”

Lagi-lagi Razan diam. “Andaikan sistem kelas itu dicampur aduk, mereka justru akan saling membantu, yang nilainya rendah belajar dengan yang nilainya tinggi, yang tidak tahu seni biar belajar seni, bukankah hidup justru akan beragam? Dan yang paling menonjol, kaya dan miskin akan sering berinteraksi.  Kemampuan apa yang kelak akan dilahirkan instansi pendidikan jika keluar hanya bermodalkan NILAI TINGGI!!! Bahkan anak dituntut belajar dan terus belajar, sementara mereka belum tentu menyukainya!?”

“Kamu semalam minum apa, Ndre?” Razan tidak tahu dengan apa ia harus berkomentar. Mobilnya telah berhenti di pekarangan rumah Andre.Ia turun dari mobil, lari menuju teras. Hujan membuat pakaiannya lembab.Dingin memeluknya erat.Tubuhnya bergetar. Andre melangkah gontai, ia seolah hendak memberikan tubuhnya pada pasukan hujan yang terus bergerilya.

“Minum cairan cinta bernama setia.”

Aish!” Leher Razan menggeleng-geleng.Ia menghempaskan tubuhnya di kursi kayu yang melamun sendirian di teras.

“Pantas saja sekarang orang semakin tua mengejar kelompok yang menjunjung nama dan nilai  baik, pemikiran yang absurd.” Ia masih muntab. Razan bertambah bingung dengan konflik yang melanda jiwa kawannya.

“Apa yang membuatmu seperti itu, Ndre?”

Andre menyandarkan tubuhnya di pilar kayu.Perlahan merosot diiringi dengan jemari mengacak rambut.“Apakah takdir memang harus serupa, Zan?”

Kening Razan berkerut.Ia tak memahami maknanya. Sejenak melirik arloji di lengan.Pukul 05.00. Hujan belum redam, dan ia masih dijebak dengan pernyataan Andre yang tidak jelas. Perutnya keroncongan, tenggorokannya kering.Air langit menyapu pandangan, titik-titik dingin itu jatuh di atas daun kelor.“Kemudian orang baik hanya berkumpul dengan orang baik, pezina dengan pezina, orang miskin dengan miskin, kaya dengan kaya!Apakah ini adil? KAYA DENGAN KAYA. Aish!Instansi bahkan seperti itu, ada yang murah ada yang mahal, dagangan juga Zan, di pasar murah, di mall?”Matanya melotot.Acakan rambut berpindah dengan kepalan tinju ke permukaan tanah.“Sementara orang miskin selalu saja diperas juga ditindas dengan kebodohan!Kapan orang miskin punya derajat, Zan?”

Gubuk hening.Pintu kayu yang berlapuk.Genteng tanah liat yang rapuh.Halaman yang diseraki dengan guguran daun kersen bercampur air hujan yang mengeruh.Mentari muram, senja bahkan seakan terbuang di waktu itu.Alam meratap serupa Andre yang menaruh getir pada siapa yang yang menatap.“Ada apa denganmu, Andre?”

“Aku ini golongan proletar, dan gadis itu borjuis.Bisakah kelas itu kujingkir, Zan?”

Kali ini Razan mengerti.“Kau tahu betapa terlukanya menjadi diriku yang dari dulu selalu saja menjadi buruh?Ketika sekolah aku pun masuk ke sekolah miskin yang gentingnya bocor-bocor itu?Kau tahu perasaanku, ZAN? KAU TAHU? SAKIT!!” Kali ini ia berdiri, menarik kerah Razan, mengumpat sesuka hati.

“Kau!Kau orang yang duduk di singgasana kelas atas.Kau seharusnya menghinaku karena kita berbeda golongan, berbeda kelas, kau di sekolah yang mahal, kau pun kaya raya, kau tidur di istana, dan keluargamu menguasai perekonomian pasar!”

“ANDRE!CUKUP!”Tubuh lemah itu didorong.Terpelanting menabrak pagar teras.Menangis, lagi-lagi menangis.Razan larut.Ada sebuah ketidakadilan yang menggerayangi pikirannya.

“Setiap malam keluargamu berkumpul, Ndre! Kau beruntung! Setiap pagi ada Ibu yang menyediakan sarapan, Ndre! Kau sangatlah beruntung! Saat kau sakit ada lengan ibu yang tersandar di kepalamu, Ndre! Kau sangatlah kuadrat beruntung! Belum perlindungan dari ayahmu! Meski kau hanya tinggal di rumah sederhana ini, Ndre! Kau beruntung!”

Bibir Andre bungkam.Ia berdiri menyeimbangkan tubuh. Kepalanya merunduk.Hujan masih meretas.

“Aku memang sekolah tinggi, Ndre! Namun buat apa aku sekolah tinggi-tinggi jika aku tidak mampu memahami kehidupan yang ada di sekitarku? Kenyataannya nilai yang berguna hanya nilai moral dan nilai agama, sementara dalam praktik lapangan tergantung dengan kemampuan diri kita, Ndre!”

Suasana mengiris batin. “Belum tentu sarjana Ekonomi lihai dalam bidangnya,”

“Namun mereka mulia!Mereka mampu menduduki kekuasaan, mereka beberbeda golongan denganku, Zan!”
“ANDRE, dengarkan aku!”Razan menyeret lengan Andre, mendudukkan di sisinya.“Jenis memang mencari jenis, Ndre!Namun carilah jenis sesuai denganketentuan pencipta alam, jangan kau larut dengan pandangan manusia yang berbeda-beda pendapat, Ndre!”

“Tak ada alasan yang kuat untuk membuatmu putus asa seperti ini, hanya karena gadis jalang itu! Andaikan dia berkepribadian baik, tentu ia akan menerima lelaki sepertimu, lelaki yang setia, pekerja keras, dan rajin mengaji, bahkan membaca buku-buku milikku. Kau ditolak karena dianggap miskin, salah Ndre! Kelas sosial di dunia ini palsu, Ndre! Jangan terjebak dengan teori kuno itu! Hanya Tuhan yang berhak menentukan kelas seseorang, Ndre! Dan itu pun hanya ada dua macam, beriman dan tidak beriman.”

“Razan, budak akan menikah dengan budak, pezina akan menikah dengan pezina, orang beriman akan menikah dengan orang beriman, begitu yang dituturkan Al-Quran! Bukan orang kaya akan menikah dengan orang kaya, orang miskin akan menikah dengan orang miskin! Pahami itu, Ndre!”Razan menemukan kalimat yang mampu menentramkan batin Andre.Ia berkali-kali menepuk bahu sahabatnya. “Jangan hanya memandang duniawi, Ndre!Kau harus mendapatkan orangyang baik dan jangan patah hati!” Nasihat Razan. “Belum tentu orang yang kau sebutkan dari golongan borjuis itu hidup dengan kenikmatan, mereka pasti punya banyak masalah yang menuntut untuk dipecahkan.”Razan berdiri.

“Aku pulang, Ndre.Aku lapar.”Penderitaan perut yang lama ditahan akhirnya dimuntahkan.“Dan ingat jika kau sudah menjadi orangyang baik, jangan pernah melupakan orang yang menasehatimu ini.Kau bukan kacang yang meninggalkan kulitnya bukan? Selamanya kita akan menjadi kawan, meskipun orang memandang kita berbeda kelas, Ndre! Pada hakikatnya kita ini sama saja.”

Ucapnya yang terakhir.Razan meninggalkan dirinya termenung sendirian di teras rumahnya.Mobil mewah itu pergi.Hujan melamban.Alam semakin menggelap.Surau mengumandangkan azan. Ayah dan Ibu pulang, mendapati sosoknya yang terkulai di tanah. Tak sadarkan diri.

Magelang.01 Juni 2017.

Semoga kita dapat menjadi orang yang lebih dapat menghargai orang lain.

Darah Mimpi nama pena dari Titin Widyawati.