Hilangnya Moral Bangsa

oleh
Hilangnya Moral bangsa
ilustrasi : Hilangnya Moral bangsa by titin

Artikel – Di negara berkembang Indonesia moral bangsa sangat rendah. Banyak kasus perampokan, pembunuhan, dan pemerkosaan. Selain itu mayoritas mereka berpikir buntu dengan orientasi materi, bahkan adapula yang bertujuan mencari prestise (gengsi) saja. Maka jangan heran, jika banyak dari mereka yang minim kesadaran sosial dan bekerja tanpa memperdulikan kualitas juga amanah dari perusahaan. Yang terpenting kerjaan cepat kelar, menanti akhir pekan untuk liburan.

Hilangnya Moral bangsa
Ilustrasi

Apa yang salah? Bukankah pemerintah sudah berteriak belajar wajib 12 tahun?

 

Realitas kehidupan memang sangat lugu dan menggelikan. Coba kita cermati saat masih anak-anak. Tawa mereka sangat riang. Kerjasama digambarkan dengan keakraban dan keceriaan di dalam permainan-permainan tradisional. Anak-anak tidak jijik bermain lumpur berkotor-kotoran, enjoy nyebur ke dalam sungai yang terkadang airnya keruh.

Bagaimana dengan anak-anak di zaman modern ini? Tahun masih muda, apa rencana Anda untuk membangkitkan kebersamaan anak-anak? Orangtua memberikan anak gadged! Mereka kehilangan waktu bermain dengan teman lain.

Sibuk mengurung diri di dalam rumah dari pagi sampai malam. Kuat bermain game gadged berlama-lama. Selain tidak baik bagi perkembangan fisik, permainan di dalam gadged juga dapat berpengaruh bagi psikologis anak. Jika tidak percaya bandingkan anak-anak zaman dahulu dengan anak modern saat ini.

Anak yang sering bermain dengan permainan tradisional seperti petak umpet, gobak sodor, gundu/kelereng, bola bekel, kejar-kejaran di halaman rumah, gatrik, engklek, dan lainnya akan menumbuhkan jiwa sosial yang kuat. Ketika mereka beranjak dewasa.

Mereka sudah terbiasa berbaur dengan teman-teman di masa kecil, besarnya akan mempermudah anak menyesuaikan diri di lingkungan kerja atau lingkungan baru, sifat egoisme minim tumbuh dalam dirinya. Ia akan mudah menolong, mampu bekerjasama dengan tim, dan poin utamanya yaitu menjadi sosok yang riang murah senyum, bekerja tanpa mengemban beban. Mental mereka terbangun dari permainan di masa kecil.

Pada generasi selanjutnya, otak jernih anak sudah diberi nutrisi tidak sehat dari komputer dan gadged yang canggih-canggih. Anak betah duduk di rumah bermain game online atau nononline tanpa pengawasan dari orangtua.

Jangan menyalahkan mereka jika tanpa sengaja kesucian pikiran mereka dikotori oleh gambar/ video porno yang teriklan bebas di internet. Bahkan beredar game-game tidak mengedukasi anak, contohnya game yang menggambarkan tentang perkelahian dan pembunuhan. Tembak-tembakan, seperti GTO, sniper, tembak zombie dan lainnya. Anak di bawah umur sudah mahir mencari informasi permainan atau gambar di internet, hasilnya tidak sengaja mereka menjumpai situs-situs dewasa.

Akan menjadi apa jika anak bangsa dibunuh pikirannya seperti itu?
Orangtua sibuk di kantor! Kasih sayang keluarga minim diberikan.

Zaman dahulu, keharmonisan keluarga selalu dinomor satukan, harta sedikit tidak menjadi masalah, ladang masih mampu mencukupi, yang terpenting sanggup berkumpul dengan keluarga. Bekerja merupakan nomor satu yang diduakan. Lain dengan fakta di zaman yang dikatakan modern. Fungsi ibu rumah tangga beralih menjadi wanita karir, padahal ibu sangat berperan bagi pendidikan anak saat ayah sedang bekerja.

Siang hari anak dititipkan orang lain, atau dibiarkan di rumah sendirian bersama pembantu, diberikan berbagai macam benda elektronik, dari televisi, smartphone, tablet, i-ped, laptop, dan playstation. Jangan salahkan anak jika dewasanya anak memiliki sifat pendiam, sebab komunikasi anak di waktu kecil kurang baik dengan teman-teman di luar lingkungan keluarga, maupun di dalam lingkungan keluarga. Jangan pula heran anak tersebut memiliki sifat egois dan tidak mau diatur! Kurang mampu bekerjasama baik di dalam maupun di luar lingkungannya, selain itu ia pun akan sukar menyesuaikan diri.

Khawatirnya jika anak tersebut tumbuh menjadi anak yang brutal, mempraktikan adegan perkelahian dan pembunuhan dari game yang sering dimainkannya. Ketahuilah! Bahwasannya anak merupakan peniru handal. Dan bukan hal yang mencengangkan lagi jika banyak anak yang sudah berpacaran di usai dini, game dan video banyak yang mengajari secara JELAS aksi pornografi! Selanjutnya, berkembang kasus pemerkosaan, pelecehan seksual anak-anak usia SD, hamil di luar nikah tingkat SMA.

Masuk dalam tingkatan selanjutnya, anak-anak yang berusia remaja sudah banyak yang menonton film-film kurang mendidik. Drama korea, film dewasa, sinetron radikal dan sinetron percintaan, yang menyorot adegan-adegan mesum seperti ciuman. Apakah salah jika pemuda kini berciuman dengan lawan jenis sembunyi-sembunyi dan juga meraba tubuh yang belum pantas disentuh oleh lawan jenisnya?

Jika tidak dituruti marah, memukul, perkelahian tumbuh antar pelajar. Orangtua menyalahkan. Guru memberi hukuman! Anak bukan semakin taat tunduk, justru semakin brutal, ia terkekang. Dibiarkan mengakses hiburan tidak baik oleh orang di sekitar, masih saja disalahkan ini dan itu. Pada dasarnya anak hanyalah KORBAN.

Tidak usah kaget juga jikalau perampok dan kasus pencurian bertambah marak. Mereka ingin hidup nikmat tanpa jerih payah seperti apa yang dilihat di sinetron. Tidak kerja punya mobil mewah,rumah mewah, perempuan cantik, pemuda tampan.
Jika sudah seperti itu maukah mereka belajar?

Lari ke manakah pendidikan? Pada tingkatan selanjutnya anak-anak yang duduk di bangku universitas jarang, penulis ulangi jarang yang tunduk belajar mendalami ilmu. Diberi tugas ngeluh. Dosen diumpat menyebalkan di belakang ruangan. Yang dipikirkannya hanya cepat lulus, diwisuda mendapatkan gelar, akhir kerja mapan, gaji lumayan. Ini realitas.

Mundur pada zaman belakang, anak-anak selalu semangat belajar. Banyak orang hebat yang tidak mau dikenal. Sekarang, justru orang berlomba-lomba menjadi terkenal, menggunakan cara apa pun! Gengsi hidup diprioritaskan.

Cermati sekali lagi bagaimana cara menumbuhkan moral dan perilaku anak agar lebih baik. Jika perlu tumbuhkan permainan tradisional dahulu. Jangan memanjakan anak dengan alat-alat elektronik. Tidak baik untuk kesehatan, mengganggu pertumbuhan otak , merusak mata, dan menghilangkan jiwa sosial anak.

Bolehlah memberi namun awasi saat bermain dan jangan sampai anak ketagihan bermain game di gadged,bantu anak bersosialisasi dengan anak tetangga. Ajaklah mereka bermain petak umpet.

PenulisĀ : Titin Widyawati


Abdul Nazaruddin

Rujadi

H.Askar

Harris Pratama