Daeng Muang; “Ziarah Hening di Butta Gowa”

oleh
Kuburan Sultan Hasanuddin di Kabupaten Gowa

Kuburan Sultan Hasanuddin di Kabupaten Gowa Kuburan Sultan Hasanuddin di Kabupaten Gowa

Inilah satu kebanggaan kami sebagai orang Gowa, bangga kepada leluhur yang melatakkan ajaran Islam untuk manusia yang datang jauh dari gurun Arab. Sultan Alauddin raja ke-14 jejak-jejaknya akan selalu terkenang oleh putra-putri Gowa, di bawah kekuasaannya beliau pertama kali masuk Islam dan pengaruhnya ke seluruh rakyat di abad ke-XV. Sebagai warisan yakni mesjid Katangka yang masih kian terjaga hingga saat ini. Begitupun kuburan Syekh Yusuf yang jaraknya tak jauh dari mesjid tua Katangka yang kita kunjungi bersama. Di sana ada makam Tuanta Salamaka (Syekh Yusuf) yang berhasil menjadi teladan bagi kami di Gowa, pejuang agama, pejuang bangsa, dan pejuang kaum tertindas, meskipun berbagai bukti pengakuan yang berbeda tentang makam asli sesungguhnya. Bagiku itu tidak penting, justru penting ialah semangat mengenang dan belajar dari perjuangan beliau membangun struktur politik, berjuang bersama rakyat Banten, dan ketahanan dirinya berdakwah dijalan Tuhan walau terbuang ke tempat nun jauh (Srilanka dan Afrika Selatan), itu ternyata tak pernah luput menghentikan nyali perlawannya terhadap VOC yang tidak berlaku adil terhadap masyarakat pribumi pada abad ke-XVII. Beliau adalah pahlawan mendunia diakui oleh dua negara. Pahlawan yang jadi pelita di tanah Afrika dan Indonesia. Beliau pencinta damai lintas bangsa; menolak kekerasan dan kebencian ulah manusia yang serakah meski harus terbayar dgn tetes-tetes air mata budaya kehidupan yang ia alami dari serangkain tempat pembuangannya.
Seorang Nelson Mandela yang berhasil menghancurkan politik Aphertaid di Afrika Selatan 1994 juga menjadikan Syekh Yusuf sebagai sang inspirator.
Syekh Yusuf tidak sekedar dilihat sebagai agamawan yang mulia namun, di sisi lain beliau memiliki kekuatan besar mengenai gerakan sosial yang ia bangun, itupun utama hendaknya kita rindukan.

Sehari mengajak bung Gemah lintas tempat-tempat sejarah ditanah Gowa membuatku bangga karena beliau kagum dgn kebesaran Gowa di masa lalu (11/08/2015). Siang hari bergeser ke makam Sultan Hasanuddin bung Gemah menyerukan berdoa berdua bersama kepada orang-orang besar terdahulu. Dibawah terik matahari, selangkah tepat dihadapan makam ‘Sang Ayam Jantan Dari Timur’ doa-doa itu kami panjatkan berdua dengan khidmat. I Mallombasi Daeng Mattawang (Sultan Hasanuddin) mewariskan gerak perlawanan terhadap imprealisme yang mengeksploitasi manusia di zamannya. Inilah satu langkah awal di wilayah nusantara kala itu, beliau menghidupkan perlawanan-perlawanan massif agar berani tegak menantang keluar dari penjajah yang tidak menghargai martabat manusia, sampai pendudukan kolonialisme yang sungguh biadab dan tak kenal kompromi.

 

Kita berharap di masa-masa yang akan datang, anak-anak bangsa utamanya di Gowa agar pandai menghargai benih-benih sejarah dan warisan budaya. Tempat-tempat sejarah jangan diserahkan kepada pemilik investasi dijadikan tempat komersil (borjuis), resor-resor yang terprivatisasi, rumah mewah, pabrik-pabrik industri, tempat-tempat romantis, atau wahana-wahana perbelanjaan. Jangan biarkan generasi kita buta tentang sejarahnya, buta merajut tentang keheningan dan pergolakan tanah Gowa diwaktu lalu. Itulah betapa pentingnya sejarah.

Mesjid Tua di Katangka Kabupaten Gowa
Mesjid Tua di Katangka Kabupaten Gowa

Sejarah akan selalu hidup meskipun dalam ruang-ruang sepi bagi mereka yang pandai memaknai. Bagi mereka yang bertindak manusiawi.

Wallahu A’lamu Bis Sawab

Dg Muang
Depok, 3/10/2015.