Debat Kandidat Kedua Pilgub Sulsel, Ketum FMI : Nurdin Abdullah Cerminan Pemimpin Yang Buruk

oleh
Nurhidayatullah B Cottong
Ketua Umum Fraksi Muda Indonesia (FMI), Nurhidayatullah B. Cottong

MAKASSAR,suaralidik.com – Pasca debat kedua pilgub Sulsel 2018 yang disiarkan langsung Metro TV menuai kontraversi banyak pihak, pasalnya salah satu cagub menunjukkan sikap yang tidak edukatif dan jauh dari cerminan sebagai salah seorang yang pernah bergelut didunia akademisi.

Hal itu membuat Ketua Umum Fraksi Muda Indonesia (FMI), Nurhidayatullah B. Cottong kesal dan tidak percaya terhadap apa yang selama ini dilakukan oleh Bupati Bantaeng 2 periode, Nurdin Abdullah. Lantas pernyataannya perihal fakta dan data yang semestinya dievaluasi.

Pada salah satu scene Nurdin Abdullah menilai bahwa data yang ada harus dievaluasi dan berselang beberapa menit kemudian ia malah memaparkan data yang menurutnya berhasil ia realisasikan selama memimpin Bantaeng.

“Seperti tidak pernah jadi akademisi saja, kok data disalahkan, dan lucunya selang beberapa menit ia malah mengajak seluruh pemirsa untuk percaya data yang dipaparkannya, tidak konsisten, ini cerminan pemimpin yang buruk” Kata Hidayat, sabtu (21/04) siang.

Ia tak menyangka, seorang Professor yang dibanggakan dimana-mana malah mempertontonkan ke publik porses yang tidak mengedukasi.

“Jangan-jangan berita yang kami liat di media itu semua tidak sesuai fakta, bisa saja atau semua data yang ada telah dievaluasi” Cetus Hidayat.

Ia berharap Nurdin Abdullah mengklarifikasi maksudnya mengatakan bahwa data harus di evaluasi, sebab kata Hidayat sebagai akademisi kita selalu diajarkan untuk berbicara by data karena bisa saja kejadian yang ada dilapangan tidak sesuai dengan data.

“Contohnya begini, anggaplah di satu desa terserang penyakit kanker, di media tertulis semua warga desa A dipastikan terserang kanker. Namun setelah di kroscek by data, ternyata ada 1 atau 2 orang yang masih tidak terkena penyakit tersebut, dalam artian fakta yang dilihat publik ketika berkunjung ke Desa itu semua terserang penyakit, tapi realitanya tidak seperti itu. Sebab berdasarkan data masih ada yang tidak terserang penyakit, mungkin saja pada saat penyakit itu datang dia lagi keluar daerah atau keluar negeri, tapi datanya orang ini warga Desa A” Ucap Hidayat menggambarkan analoginya.

Hidayat berharap, semua kandidat mampu berbicara berdasarkan data, sebab kalau kita tidak lagi percaya data yang ada, negeri ini akan melihat referensi kemana? Keberhasilan sebuah daerah dan bangsa kita kedepan tertinggal atau maju acuannya adalah data, bukan yang lain.

“Percuma gedung bertingkat, kalau datanya semua warga disekitar gedung itu masih miskin, ini pembelajaran untuk kita semua dan warning untuk semua kandidat tanpa terkecuali” Tutup Hidayat. (***Citizen Reporter/Hdyt)

Abdul Nazaruddin

Rujadi

Mohamad Hidayat Panigoro

Andi Edy Manaf

H.Askar

Harris Pratama