Debat Pertama Pilgub Sulsel 2018, Ketum FMI : IYL-Cakka Buktikan Kelasnya

oleh
Debat Kandindat IYL-Cakka
Penampilan IYL-Cakka dalam acara debat kandindat Pilgub Sulsel 2018, Rabu (28/3/2018)

MAKASSAR,suaralidik.com – Debat publik perdana untuk empat pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi-Selatan selama 5 segmen yang diikuti masing-masing paslon kandidat cagub dan cawagub Sulsel, nomor urut 1 pasangan Nurdin Halid – Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar (NH-Aziz), nomor urut 2, Agus Arifin Nu’mang – Tanribali Lamo (Agus-TBL), nomor urut 3, Nurdin Abdullah – Sudirman Sulaiman (NA-ASS) dan nomor urut 4, Ichsan Yasin Limpo – Andi Mudzakkar (IYL-Cakka).

Dari hasil paparannya, debat publik tersebut di menangkan nomor urut 4 pasangan Ichsan Yasin Limpo dan Andi Mudzakkar, hal itu diutarakan oleh Ketua Umum Fraksi Muda Indonesia (FMI), Nurhidayatullah B. Cottong.

Menurutnya dari pandangan edukasi politik, presentse 50 % adalah milik IYL-Cakka, paparannya dinilai memberikan pendidikan politik kepada pemuda dan masyarakat secara umum.

“Dari edukasi politik, 50 % milik paslon nomor urut 4, selebihnya 3 kandidat lain” Kata Hidayat sapaan akrabnya saat ditemui di salah satu kedai kopi, di Kota Makassar, Rabu (28/03).

Meskipun, semua kandidat mampu memaparkan dan menjawab setiap pertanyaan dengan baik, namun sedikit lebih edukatif yang disampaikan pak ichsan, mungkin karena backgroundnya adalah pakar hukum pendidikan. Selain itu pengalamannya menjabat bupati dua periode membuktikan kelasnya” Ujar Hidayat.

Lebih jauh, Ichsan Yasin Limpo dan Andi Mudzakkar lebih menonjol dalam penguasaan materi, menandakan bahwa pemimpin harus punya rencana, konsep yang detail dan rasional.

“Konsepnya detail dan rasional, ketika diberikan pertanyaan oleh moderator paslon nomor urut 4 memberikan pemaparan dengan tidak bertele-tele, intonasi yang tepat, poinnya jelas dan tepat waktu” Demikian kata Hidayat.

Disamping itu, ia juga mengapresiasi sikap harmonis yang ditunjukkan masing-masing kandidat dengan tidak menggiring opini yang kemudian bisa menjadi kontraversial dikalangan publik.

“Debat seperti ini mendeskripsikan dan memberikan pendidikan politik pada masayarakat, terlebih lagi kepada mereka pemilih pemula” Tutup Hidayat. (***Hdyt/BCHT)