Perempuan Muda Indonesia yang Mengabdikan hidupnya di Instansi Pendidikan Islam Magelang, menulis novel ‘Debu’

oleh

Titin Widyawati. Selain mengabdikan hidupnya di lembaga pendidikan sebagai Operator Sekolah, ia termasuk penulis produktif yang telah menerbitkan beberapa buku dan cerpenis serta penyair muda Indonesia. Perempuan yang lahir di Kota Magelang, 16 Juli 1995 ini mempersembahkan sebuah karya sastra dengan judul unik ‘DEBU’

Di dalam karyanya, ia mengisahkan seorang pemuda berkarakter dingin yang bertemu dengan gadis aneh, tidak mau berbicara. Selain itu, ia juga memotret  nasib gadis yang ditinggal orangtuanya bekerja ke luar negeri. Pelajaran hidup dapat diambil dari kisah  gadis bisu yang sangat miskin. Ia pun menuliskan seorang gadis kaya yang pandai bermain Biola, namun selalu kesepian. Bukan hanya itu saja, Titin Widyawati juga menceritakan seorang guru yang bekerja di lembaga pendidikan anak-anak. Semuanya ia kemas dalam sudut pandang orang pertama, ia mengajak pembaca menikmati setiap tokoh yang diciptakannya. Banyak nasehat yang ingin disampaikan oleh penulis. Salah satunya adalah, jangan pernah menyerah dalam menjalani hidup ini, sebab semua orang mempunyai masalah yang berbeda-beda.

‘Debu’

Retakan Ke Tiga 

(Klik untuk membaca episode sebelumnya)

            Lengkingan doa menyeruak memecah kebisingan jalan. Anak-anak mungil sedang duduk manis di dalam sekolahan yang kini memantul di bola mataku. Sebuah gedung bercat biru dengan lukisan ayunan di atas pohon yang diduduki oleh dua balia memantul jelas dalam korneaku.  Taman Kanak-kanak. Kau pasti sebelumnya berpikir bahwa aku adalah seorang guru di sini. Bukan! Aku hanya memiliki cita-cita ingin menjadi guru TK. Sayangnya cita-cita itu belum mekar. Baru menguncup dalam kelopak mawar.

Puluhan kendaraan tertata rapi di sebelah tubuhku. Beberapa mata tua yang menunggu belia pulang sekolah senasib dengan diriku. Di ujung parkiran sana, dekat dengan pohon Kersen ada seorang gadis yang sudah tak asing lagi di mataku. Dialah selama ini yang membuatku mabuk kepalang ingin terus mengantarkan Faisal sekolah.

Sebuah jiwa pemilik bibir yang tak terlalu merah dengan kulit putih yang tak diselimuti bedak pengelok wajah. Duduk merenung dengan jutaan kata-kata di sebuah buku yang dibacanya. Bersandarkan di badan pohon Kersen yang daunnya mengayomi kesejukan. Rambutnya terurai ke sana kemari. Sesekali berjalan di depan matanya yang kelopaknya lentik sekali. Bola lensanya bulat sangat. Alisnya tebal.  Ia memakai kaos dengan rok yang mengombak ketika berjalan melawan angin. Aku memandangnya dari kejauhan.

Ia selalu terlihat sinis dan tak banyak berbicara. Jika tak ada yang menyapa, jarang sekali ia mau menyapa. Sepertinya ia menempatkan dirinya sebagai putri yang selalu berada di atas dan digiring dayang-dayangnya. Berjalan tegak, tanpa mau menoleh ke kanan dan ke kiri. Wajahnya selalu sembab. Tak pernah hilang goresan hitam di bawah kantung matanya. Gadis itu sepertinya selalu begadang setiap malam. Ia memang tak asing lagi dalam pandanganku, namun kepribadiannya di rumah aku belum pernah mengintip. Yang jelas, aku mengaguminya. Gadis kutu buku yang dingin. Dan kebiasaannya adalah membawa sebotol minuman mineral yang diletakkan di ranjang sepedanya. Sepeda yang diparkir di depan dirinya dan pohon Kersen.

Napasku sesak. Aku butuh oksigen untuk memasok hidupku agar bisa terhirup lega. Kutinggalkan sepeda motorku di parkiran. Aku mengangsur langkah mendekati pohon Kersen. Suasana yang teduh begitu menggoda pernapasanku. Walau jujur hatiku menyangkal, aku hanyalah ingin mendekati gadis itu untuk meminta minuman. Abaikan!

Sungguh tak kuat aku berlama-lama di bawah semburat mentari yang teriknya menusuk celah kain hem putihku sampai tembus ke pori-pori kulitku bagian terdalam. Membuatku disiksa haus stadium akhir.  Duduk manis berlambarkan koran di bawah pohon Kersen yang buahnya mulai memerah dengan menenggak sebotol air mineral,  amatlah mengundang gairah.

“Apakah kau punya sebotol air untukku?” kataku berbasi-basi seraya menempatkan pantatku ke tanah yang tak kulembari dengan koran. Aku tak sempat membawa kertas dengan jutaan huruf itu ke sekolahan.

Ia kunci rapat-rapat pita suaranya. Lehernya pun seolah beku tak mampu bergerak untuk menoleh diriku. Aku bagaikan sebuah angin kecil yang tak berarti baginya. Dahaga mengamuk kerongkonganku. Punggungku berteriak-teriak meminta cairan. Kalau tidak semburan api panas dari ginjalku akan meledakkan rasa sakit yang luar biasa. Apakah ia tuli? Kenapa ia jarang membuka kata-kata?

Aku mengamati gadis itu seminggu yang lalu. Ia selalu duduk manis di bawah pohon Kersen dengan buku bacaan. Tak pernah mau mendengar dunia luar. Semisal, bisingnya laju kendaraan. Suara keluh rintihan puluhan pengemis yang melewati jalan di depan TK, atau bahkan suaraku yang dianggap merdu oleh sebagian burung beo berkicau.

Gadis di sampingku ini tak pernah melirik wajah tampan seorang pemuda. Ia selalu sibuk mengarungi kata perkata dalam sebuah tulisan. Entahlah apa nikmatnya menjaring pengetahuan dalam beratus-ratus halaman tersebut, aku tak tahu. Hanya satu yang menonjol darinya. Gadis letih yang selalu diam  di bawah pohon Kersen.

“Apakah kau tak bisa mendengar suaraku?” kunaikkan melodi pita suaraku beberapa oktaf. Ia tetap diam dan larut dalam bacaannya.

Aku berdecak kesal karena merasa diabaikan. Kugesek-gesek debu di permukaan tanah dengan sebuah ranting pohon kering yang tergeletak lesu di samping sepatuku tadi. “Aku pikir kau gadis yang menarik jika mau memberikanku minuman,”

“Kamu dulu sekolah bukan? Apakah kau tak punya watak tenggangrasa untuk menolong orang lain? Aku haus, aku terkena dehidrasi, aku butuh minum. Mau beli di warung tak bawa dompet, tadi keburu-buru mengantarkan adikku ke sekolahan,” entah angin mana yang membuatku berani mengeluarkan seluruh penat di jiwaku. Penat lantaran haus ini mengamuk dasyat ginjalku. Sesekali kupegangi punggung kiriku untuk menahan sakit dengan tangan kiriku, sementara yang kanan terus menggurat-gurat garis tak tentu di atas tanah.

Ia itu tuli, atau sama sekali tak menganggapku manusia? Mungkinkah aku sebuah makhluk halus yang tak tampak dalam pandangannya.

“Dasar kau! Sombong, cantik tidak. Tapi belagu!” emosiku mudah meletup-letup jika kondisi fisikku tak membaik.

Kupikir kalimat terakhirku mampu mengetuk pintu hatinya. Ia menoleh sekilas ke arah wajahku yang memelas. Kulepas ranting dari genggaman tanganku. Bola mata kami saling beradu. Ia tak tersenyum. Ekspresinya datar. Wajahnya yang kusam itu memantul jelas dalam pandanganku. Angin meliuk-liuk menembus tubuh kami, seolah tak rela dengan pertemuan pandang kami di bawah naungan pohon Kersen.

“Aku minta minum,” ucapku meyakinkan keinginanku.

Ia tak bersuara. Beranjak tanpa pamit. Menaiki sepeda berlapis warna merah mudanya menuju jalan besar di sebelah Selatan TK Assalima. Aku berdecak kesal memandang punggungnya yang bergerak-gerak mengikuti obelan kakinya. Rambutnya nan panjang terbang ke belakang. Ia pergi meninggalkanku begitu saja tanpa pinta maaf karena telah membuatku kesal kepadanya. Acuhkanku yang masih terduduk menatap laju kepergiannya di bawah rindangnya pohon Kersen. Watak yang memuakkan. Aku diam sejenak. Tatapanku kosong lurus ke arah tikungan yang baru saja menelan gadis itu. Sebuah jalan yang sering kulewati jika ingin pulang dari TK.

Aku heran dengan jiwaku sendiri. Mengapa diri ini mampu terpikat penasaran dengan nama pemilik wajah masam itu. Seminggu aku mengantarkan sekolah Faisal dengan mengadu dombakan cita-citaku yang ingin menjadi guru TK membasmi kebodohan. Belajar mengintip dari balik jendela cara-cara guru TK mendidik belia dengan penuh kesabaran. Beberapa waktu sempat buyar lantaran sosok gadis yang duduk di bawah pohon Kersen itu. Di mana rumahnya? Siapa namanya?

Sebuah pertanyaan yang dari dulu mengendap dalam benakku. Entahlah. Tak perku aku pikirkan masalah dirinya panjang lebar. Mungkin lantaran wajahku pucat menakutkan jadi gadis yang tak terlalu cantik itu menjauhi diriku. Inilah diriku yang pesakitan. Apakah tak pantas mendapatkan seorang teman? Pikiran negatif malah lancang masuk ke syaraf otakku. Segera kutepis. Aku tidak ingin dikelabuhi bodohnya pemikiran. Hingga keasaan akan merangkapku dalam derita ginjalku.

Aku haus. Apa yang harus aku lakukan? Kutelungkupkan kepalaku di antara lututku. Tangan kulingkarkan ke lututku. Aku menatap tanah berdebu yang kemarin malam disiram hujan. Sorot lentera dari angkasa sangat tajam hingga mampu mengeringkan tanah dengan cepat. Kuratapi sakitku yang amat menyiksa. Faisal tak kunjung pulang. Ini akan menghabiskan waktu panjang. Bisa kutebak, anak-anak TK sedang senam di lapangan kecil sebelah gedung TK. Aku malas mengintip mereka.

Halaman kecil dengan satu pohon Kersen ini terletak di samping parkiran. Tak terlalu jauh sebenarnya dari lapangan. Tapi aku malas beranjak. Tenagaku rapuh, lelap dalam balutan selimut tebal sepertinya nikmat. Mendadak tubuhku kembali diserang kelemahan yang mendekati kata sekarat seperti tadi malam. Masalah akan datang jika aku sakit di jalan. Kekhawatiran banyak orang akan mengamuk jiwaku.

Kurasakan ada laju kaki yang mendekat ke arahku. Reflek aku mendongak ke atas, mencari tahu siapa yang datang.

Aku terkejut bukan main. Gadis yang tadi ternyata. Ia memandangku lekat-lekat. Sinar mentari menembus tulang punggungnya. Bayangannya jatuh ke wajahku. Menolongku dari kesilauan terik mentari. Tangan kanannya mengulurkan sebotol air mineral untukku. Jadi ia pergi untuk mencarikanku minum? Ia menyunggingkan senyumannya untukku.

Aku kebingungan dengan watak anak itu. Tapi tak mau berlarut-larut membuat ginjalku menderita. Segera kuterima sebotol mineral itu. Tanpa pikir panjang, langsung kutempelkan ke dua buah daging tak bertulangku ke tubuh mungil jalan keluarnya botol tersebut. Air itu bagaikan air terjun dari tenggorokan yang menggenang dalam ginjalku. Dingin kurasa melewati kerongkongan leherku.

“Terimakasih,” ia mengangguk lalu membalik punggung dan kembali menaiki sepedanya. Pergi meninggalkanku.  Lagi-lagi ia diam seperti tadi. Aneh.

Apakah begitu watak orang pintar? Tak suka banyak omong namun cukup bertindak? Hatiku yakin bahwa kutu buku seperti dirinya tak dapat diragukan lagi kemampuan otaknya dalam berpikir. Semoga dugaanku terpanah dalam tempat yang tepat dan tak melesat.  Jika iya, baiklah aku tak akan mencontoh watak orang bodoh yang pandai berbanyak kalimat. Seperti halnya tak akan mengeluh sakit, namun mencari jalan keluar untuk mencari obat. Menarik. Pelajaran indah yang akan aku abadikan bersaksikan gedung TK. Satu pertanyaan masih mengendap dalam benakku. “Siapakah namanya?”

“Mas Tamaaaaaa…..” suara melengking dari bibir Faisal yang telah berdiri menghadapku. Adikku yang kecil itu dituntun oleh guru TKnya yang masih muda bergigi gingsul, dengan senyum semanis kecap. Bola mata sipit seperti orang Cina dengan kelopaknya yang letik, memakai seragam cokelat susu. Berdiri dua meter di depanku. Aku beranjak. Sejenak mengibas-ngibaskan pantatku dengan tanganku, barangkali ada debu yang jatuh hati dengan aroma pantatku. Sepertinya itu bukanlah hal yang indah. Tenggorokanku sedikit lega tak diserang kemarau kering yang meretakkan urat-urat dahagaku.

“Mas Tama lagi ngapain?” Ia lari memeluk kakiku. “Lihat, tadi Faisal buat mainan ini loh?” ia memamerkan sebuah rumput yang dikepang tak rapi.

“Bagus bukan Mas Tama? Mas Tama pasti tidak bisa membuatnya, iya kan?” Anak itu terus berceloteh sementara aku tak henti memandang guru TK yang kini tersenyum memerhatikanku.

“Mas Tama, Faisal sudah pulang sekolah. Nanti kalau di lumah, kita main kuda-kudaan yah? Mas Tama jadi kudanya, Faisal jadi penunggangnya. Oke? Setuju?” Ia mengacungkan jari telunjuknya ke arahku. Menatap parasku yang terus memandang lurus ke arah gurunya. Senyum manis. Wajah manis. Kerudung yang menutup aura kehormatannya menyembunyikan keindahan batinnya. Tak seperti gadis kutu buku yang diam dengan rambut panjang terurai tadi, membiarkan angin menikmati keperawanan setiap helai demi helai kelembutannya.

“Mas Tama kenapa bengong? Mas Tama anyaman mainan Faisal kelen bukan?”

“Adikmu itu cerewet tapi menggemaskan,” kata guru Faisal.

Aku tersenyum simpul. “Maaf kalau dia merepotkan,”

Oh Mas Tama, kenalkan! Bu Gulu ini namanya Lita. Ia paling baik di sekolahan Faisal. Kalau disuluh gendong Faisal pasti mau, kalau Faisal nangis selalu dibelipelmen cokelat sama Bu Lita, Mas Tama kapan kasih Faisal pelmen?”

Ingin rasanya aku menyumpal mulut bawel Faisal yang tak pernah berhenti berbusa. Anak ini kalau sudah kambuh penyakit bawelnya selalu membuat banyak orang kesal. Menyusahkan.

“Maaf jika adikku telah merepotkanmu,”

“Tidak papa, aku menyukai Faisal, dia cerdas.”

Celdas itu apaan Bu Gulu? Pelmen macam cokelat lasa vanila atau stlobely? Faisal mau dong,” Faisal ikut masuk ke celah obrolan kami. Rita tersenyum. Ia mendekati Faisal yang masih memegangi garis celanaku. Jongkok tanpa mempedulikanku yang memerhatikan tingkahnya. Ia menjawil dagu Faisal.

“Cerdas itu pintar. Pintar itu tahu segala hal,” katanya meluruskan pemahaman anak mungil yang belum tahu apa-apa itu, kecuali satu tambah satu sama dengan dua.

“Pintar yang bisa membaca buku itu, Bu?” Ia menebak asal-asalan sepengetahuannya. Rita mengangguk.

“Maafkan sekali lagi, adikku memang menyebalkan.”

“Yasudah, sebaiknya kalian pulang. Hari mendung, sebentar lagi hujan.”

Aku mengangguk. Membopong Faisal. Tersenyum dan mengakhiri pertemuan dengan pamit pulang. Bergegas menuju parkiran untuk mengambil sepeda motor Vario hitamku. Lekas kutarik gas dan aku dudukkan Faisal di depan. Anak mungil itu melambaikan tangannya ke Rita. Gadis manis itu kutaksir umurnya baru menginjak angka dua puluh tahun, sederajat dengan umurku yang belum mendekati tenggelamnya mentari. Dan tentunya tak pantas jika aku disantap oleh rayap-rayap di dalam ranah kuburan. Meski punggungku masih meraung-raung kesakitan, tapi hari ini aku bahagia. Kau tahu mengapa? Hal istimewa adalah saat gadis di bawah pohon Kersen itu memberikanku sebuah minuman.

Bersambung…