Lanjutan Novel Debu Karya Titin Widyawati

oleh -195 views

Retakan ke Lima

Riuh kulihat puluhan anak TK masuk menerjang pintu gerbang TK. Guru-guru pembimbing satu persatu disalami mereka. Faisal ada di tengah-tengah sendiri. Tubuhnya yang tak terlalu tinggi dan tak terlalu gemuk terpantul jelas dalam kamera lensaku. Anak itu selalu bersemangat menyalami Rita. Gadis yang kemarin diperkenalkannya untukku. Bukan gadis, tapi tepatnya seorang guru anak TK. Idolanya Faisal.

Pagi ini ia memakai kerudung abu-abu. Seragam guru abu-abu. Sepatu abu-abu. Wajahnya ranum menggemaskan. Senyumnya amatlah manis sekali. Tak sengaja ia melempar pandang ke arahku yang masih berdiri di parkiran motorku.

Aku bergegas membuang pandang. Kuacuhkan dirinya. Malu menguasai mentalku. Kutebak. Wajahku pasti putih masam dan pucat mengenaskan. Aku sedikit meriang lantaran kehujanan kemarin. Jaket hitamku yang kedodoran melumat habis udara dingin yang merayap di atmosfer bumi ini. Celana pendek dan sendal swallow, ah benar-benar tak menarik perhatian untuk ditatap seorang Rita yang mulia. Kenapa aku malah jadi salah tingkah sendiri? Aku memanglah bodoh. Tapi jujurlah, sebagai seorang pria. Nyawa mana yang tak tergoda melihat senyum manis dari gadis nan jelita. Itu adalah sebuah keberuntungan. Aku seolah tergelitik ingin segera melamar menjadi guru TK di gedung As-salima ini. Agar mampu bergurau dengan puluhan anak TK dan bersanding dengan Rita. Ya Allah. Ampuni aku jika aku salah niat. Bukan Rita tujuan utamaku. Tapi merubah pola pikir anak-anak agar menjadi terdidik. Dari yang polos menjadi tahu banyak hal.

Entah tak kuketahui apa yang terjadi lagi dengan mereka semua. Lambat laun, langkah ini kutuntun menuju pohon Kersen seperti kemarin. Imajinasikan Mimpimu! Kata itu membuat aku tertegun di jalanan. Pejalan kaki yang berpapasan denganku tak kusapa sedikit pun. Dua kata yang tertoreh di sampul buku yang dibawa oleh gadis kemarin, membuat mataku terkesiap. Ke dua alisku saling bertautan. Hatiku menggumam. Maksudnya? Jika kemarin rambut gadis jelek itu diurai, kali ini rambutnya dikuncir di belakang. Membalut kesucian tubuhnya dengan kain kaos putih, tak lupa menutupi kehormatannya dengan rok panjang se mata kaki. Masih seperti lusa. Wajahnya sembab dan dihiasi cekungan hitam di bawah bola matanya.

“Imajinasikan Mimpimu!” suaraku keluar. Aku melangkah lagi. Kini tinggal setengah meter dari hadapannya. Satu burung bertengger di dahan pohon Kersen. Angin meniup dengan riang. Aku memasukkan ke dua tanganku di saku celanaku. Berdiri mengamatinya dengan seksama. Angin yang terhempas membuat gerakan reflek pada tubuhnya. Bayangan mentari yang kuhalangi membuat kepucatan wajahnya bertambah jelas. Ia menatapku dengan raut yang tak mampu kuartikan.

“Imajinasikan mimpimu! Buku yang keren. Bolehkah aku meminjamnya?”

Ia menggeleng.

“Kenapa tidak boleh?”

Tak ada respon.

“Baiklah jika memang tidak boleh. Bagaimana dengan yang lain? Bolehkah aku mengenalmu? Siapa namamu? Di mana rumahmu?”

Ia tetap diam dan memandangku tajam.

“Kenapa diam saja? Aku ini manusia bukan hewan yang tak pantas kau ajak bicara!”

Aku menarik napasku pelan. Kesal sekali dari kemarin tak dihiraukan ucapanku. Apa sukarnya membalas dengan suara? Atau dia tuli tak mampu mendengarkan ocehan nada pita suaraku? Memuakkan. Kutendang kerikil yang ada di depan kepala sendalku. Mengenai lututnya. Aku ingin ia menjerit agar suaranya keluar. Tapi tetap bungkam. Membosankan.  Lagi-lagi ia hanya memandangku acuh dan tersenyum sinis. Sebuah lengkung pelangi yang tak begitu menarik.

“Kau tinggal bilang iya atau tidak. Apa sih susahnya? Kau pikir aku setan yang tak mampu diajak berbicara? Heh! Aku juga punya hak untuk berbicara,”

Aku tidak mengerti kenapa mendadak emosiku tumpah. Rasa pegal berbaur panas di punggungku memancing emosiku mudah meledak. Padahal aku hanya ingin mendengarkan suaranya. Mengajakku berkenalan dan tahu siapa namanya. Setelah itu aku ingin menjadikannya sebagai seorang sahabat. Apa? Sahabat? Hmmmm…terlalu indah perkataan itu.

“Kamu sadar tidak selama ini aku selalu memerhatikanmu dari kejauhan? Satu mingguan ini aku selalu memandangmu terus menerus dari parkiran. Aku tertarik dengan selera membacamu di bawah pohon. Untuk itu aku kemari agar bisa mengajakmu berbicara. Tapi kenapa kau tak pernah mau berbicara kepadaku? Apakah karena di matamu aku ini terlalu jelek? Aku tak tampan?” hardikku sambil jongkok di depannya. “Apakah karena wajahku pucat menyeramkan dan kau takut denganku?”

Ia menggeleng. Kubaca bola matanya berkaca-kaca. Ternyata aku benar-benar menakutkan di matanya. Dengan suaraku saja ia sudah takut. Apalagi jika kudekati. Meski ia menggeleng, tapi sepertinya aku bukanlah pria yang mudah untuk dibohongi. “Sudah tak usah menangis, aku akan pergi. Aku mungkin hanya kesepian karena selama ini tidak punya teman. Karena aku sakit, aku tidak bisa apa-apa. Kawanku sudah kuliah dan bekerja, sementara aku masih di rumah saja. Mungkin di matamu aku juga tak pantas menjadi sandinganmu sebagai seorang sahabat.” Aku terus berkicau tanpa titik dan koma. “Baiklah aku akan pergi, maafkan aku jika aku mengganggumu! Tak usah menangis!” kataku lalu beranjak.

Oh ya, sebentar.” Kuputar lagi langkahku. “Terimakasih minumannya kemarin. Kau berhati baik, tapi kau pelit berbicara. Entahlah apa yang kau pikirkan aku tidak tahu, yang jelas kau jangan menangis. Tenanglah, aku tidak akan mengganggumu lagi,”

Ia berdiri. Berjalan mendekatiku. Aku masih terpaku. Gesekan angin melambaikan roknya ke sana kemari. Airmata mengalir di lensanya. Kulihat tangannya yang lembut mengambil tangkai kayu kering yang tergeletak malang di samping pohon Kersen. Kayu itu digunakannya sebagai tinta. Ia menggurat-gurat huruf alvabet di atas permukaan tanah. Hatiku semakin dongkol. Aku dipasung benci. Seperti itukah ia memperlakukanku? Karena aku jelek dan sama sekali ia tak mau berbicara kepadaku? Kenapa tak sekalian kayunya dipukulkan ke tubuhku? Menyebalkan. Jangan harap aku mau membaca tulisannya.

“Baiklah! Ini perbuatan yang sangat sopan. Aku muak diperlakukan seperti ini. Jika aku memang tak pantas berbicara denganmu. Baiklah aku pergi! DAN AKU TAK AKAN MENEMUIMU LAGI!” hardikanku untuk yang terakhir kalinya. Aku lantas lari menelusuri jalan. Belok dari parkiran. Di sana ada kamar mandi umum. Aku masuk begitu saja. Tak kuhiraukan penjaganya yang menatapku penuh ekspresi tanda tanya. Krans air kunyalakan habis-habisan. Gemericik air membuat suara luar ruangan tak mampu kudengar. Kutuang semua emosiku di dalam kamar ini. Kamar sempit berbak air dan berwastavel dengan closet duduk. Cukuplah sanggup membuatku muntah apalagi bau pesing ini sangatlah tajam. Tapi itu belum seberapa menderitakan fisikku ketimbang dengan luka yang membuatku minder dan selalu dijauhi teman ini. Aku sakit. Karena inilah aku merasa tak pantas didekati oleh seorang kawan. Ingat sekali aku sewaktu SMA. Sering aku ditinggalkan teman untuk berjalan-jalan ke luar kota mencari hiburan. Aku sendiri tak dizinkan ikut. Dengan alasan tak ingin aku sakit lantaran jika lelah aku langsung tersungkur tak berdaya. Aku dikucilkan di dalam rumah. Dan orangtuaku pun mengabaikanku. Tak boleh ini itu. Olahraga berat, larang juga menyapaku. Sudahlah. Aku benar-benar bosan dengan kehidupanku. Huh, lebih memuakkan lagi sekarang aku dihadapkan dengan kenyataan harus menjaga adik kecilku dan selalu mengantarkannya sekolah. Hingga terpaksa aku menanamkan mimpi ingin menjadi guru TK. Lama sekali dan mimpi itu tak terwujud. Hah! Apa orang sakit sepertiku tak boleh punya mimpi?  Bahkan Ibu dan Ayah tak mau menguliahkanku. Ini amatlah melukai jiwaku. Sudah begitu selalu saja yang kulakukan salah di mata mereka. Di benak mereka hanya ada Faisal. Faisal. Dan Faisal. Aku seolah kehilangan perhatian setelah Faisal dilahirkan ke muka bumi ini. Dulu ketika aku sakit, Ibu senantiasa memerhatikanku. Tapi sekarang? Bahkan sakit apa saja Ibu tidak tahu. Atau mungkin tidak pernah mau tahu. Tapi aku juga salah karena tak tega memberi tahu.

Kutonjok permukaan air. Tak peduli percikannya membuat kain hangatku basah. Aku ditampar luka. Ditendang hina. Ditenggelamkan dalam kesendirian yang tak pernah bermuara.

°°°°°°°°°

“Apa yang mereka berdua lakukan?” gumamku dalam tepias lentera mentari yang mencium rona wajahku dari balik jendela.

Puluhan anak-anak didikku sedang kusuruh mewarnai gambar kelinci. Pensil warna dan lembaran lukisnya telah terpampang di meja. Kini tinggallah tugasku duduk menyaksikan mata-mata mereka yang tunduk dengan kumpulan pelangi crayon dua belas warna di atas meja. Suasana gaduh dan ramai tak membuatku berdiri. Untunglah aku dibantu dua guru. Jikalau tidak, mungkin aku tak bisa duduk manis menatap mereka memainkan aksi yang menguji kesabaran. Teriak sana, teriak sini. Lari ke sana kemari. Ada yang menangis, bertengkar, bergurau, ada juga yang tak tahu apa yang harus dilakukan. Aku baru saja membimbing Faisal menggoreskan crayon cokelat ke gambarnya. Untunglah anak bawel itu mudah menangkap apa yang aku suruhkan.  Dua murid sudah kulayani, ada yang minta jajan, minta minum, minta digendong. Ah aku seolah pusing di dalam ruangan ini. Bagaimana aku menolak permintaan mereka? Makan di dalam ruang belajar? Itu ide gila. Tapi jika kutolak jeritan menyeruak memecahkan ketenangan suasana ruangan ini. Huh! Baiklah layaknya pembantu aku layani.

“Bu Lita, Bu Lita, gambal Faisal bagus bukan?”

Lagi-lagi anak kecil ini menghampiriku. Membuat lamunanku buyar. Tak mungkin aku mengacuhkan bola mata penuh cinta dan pengharapan aku merespon kalimatnya. Dengan lembut aku jongkok dari kursi. Kutarik kertas gambar miliknya Faisal. Lumayan di mataku. Meski warnanya tidak serasi. Kepala kelinci hitam, badannya kuning, ke dua kakinya ungu, dan telinga kelinci tersebut cokelat. Warna-warni yang tidak indah. Namun dikata indah di mata si mungil yang kakaknya tadi kulihat lari ke samping parkiran menuju kamar mandi. Hingga aku mendesis. “Sedang apa mereka berdua?” Kau tahu bukan siapa yang kumaksud mereka? Gadis kutu buku dan kakaknya Faisal. Entah mengapa mereka selalu menjadi pusat perhatianku saat mengajar. Ruang kelas ini bagaikan lautan biru di mataku, sementara mereka adalah ombaknya yang lari dari batas cakrawala menghiasi rona tubuhku. Jika aku duduk di kursi guru, maka benakku diisi ke dua wajah pucat milik mereka. Jarang kulihat ada senyum di lengkung bibir kakaknya Faisal, yang katanya bernama Dewa Pratama itu.

“Gambar yang cantik, Faisal pintar sekali.” Pujiku untuk melegakan pekerjaan Faisal. “Yasudah sekarang Faisal kembali duduk ya? Nanti Ibu Rita nilai,”

Hole, hole. Ibu Lita baik hati deh. Telimakasih Ibu,” ia mengecup tanganku. Anak ini memang selalu menggemaskan. Berbeda jauh dengan anak-anak yang lainnya. Ia selalu dekat denganku. Itu bukan masalah. Aku sendiri menyukai Faisal. Anak yang cerdas.

Kugores nilai. B plus di sisi atas gambarnya. Nilai yang tidak sempurna. Kertas itu lantas kuletakkan di atas meja. Kembali kulempar pandanganku keluar jendela. Kuamati gadis berambut panjang yang dikuncir di belakang itu, di depan bigron alam pohon Kersen. Membawa dahan kayu yang sudah kering, melambai ke bawah seolah tak punya harapan lagi. Sementara tangan kirinya membawa buku. Pandangannya kulihat berkaca-kaca. Satu percikan airmata itu meluncuri jalan kulitnya yang lembut. Ia menangis. “Apa yang membuatnya menangis? Apakah Tama membuat masalah dengannya? Tama yang dingin dan pemalas itu?”

Pemalas? Yah. Di mataku Tama adalah sosok pemalas yang tidak berguna. Sisi hidupnya seolah dihabiskan dengan melamun dan mengantarkan pergi Faisal untuk sekolah. Aku sampai heran dengan kepribadian anak yang satu itu. Apakah ia tidak bertekad ingin kuliah? Bekerja? Masak iya, di rumah terus-terusan bergulat dengan Faisal. Pola pikirnya akan sangat tertutup. Di mataku Tama bagaikan Faisal yang masih kebingungan dan belum tahu apa-apa tentang kehidupan. Seharusnya ia merangsek ke dunia luar. Terbang memburu pengalaman yang lebar. Apa kurangnya? Orangtua mampu. Bahkan ia mempunyai mobil. Cukup kupandang kaya di kampungku. Tapi anak malas itu seolah tak punya tekad untuk meraih impian. Atau jangan-jangan ia tidak kenal dengan yang namanya impian? Mungkin. Rumah sudah megah. Fasilitas mewah. Makan pastinya tercukupi. Ingin itu dituruti. Kehidupan nikmat, terkadang membuat orang yang berlimpahan harta lupa makna hidup yang sebenarnya.

Sejenak kutepis pikiranku mengenai Tama, kualihkan kepada gadis yang kini terduduk lesu di bawah naungan rimbunnya dedaunan pohon Kersen. Ia menelungkupkan kepalanya ke sela-sela lipatan kakinya. Tangannya dilingkarkan. Bukunya menggantung ke bawah tak berarti. Bahunya berguncang. Ia menangis? Apa yang tengah terjadi? Seolah ada hasratku untuk duduk di sampingnya. Menanyakan apa yang terjadi dengan hatinya, barangkali aku bisa membantu. Hatiku lembut, aku tak sanggup melihat wanita menangis.

Sudah seminggu lebih ia selalu duduk di bawah pohon Kersen itu. Menghirup udara segar sembari membaca buku. Bisa kutebak. Ia bukan orang sembarangan. Memanglah wajahnya pucat pasi. Namun otaknya pasti cemerlang. Anugerah dari sebuah buku bacaan adalah kepandaian yang mampu membuat pola pikir pembaca menjadi lebih dewasa. Namun itu juga tergantung buku bacaan. Dan sempat aku lirik kemarin sewaktu berangkat ke TK, dan memarkir sepeda ontelku di parkiran, kubaca cover-nya berjudul. ‘Imajinasikan Mimpimu!’ sebuah kalimat yang membuatku tertegun sejenak.  Sepertinya gadis itu punya berjuta mimpi dan ia sedang mencari jalan keluar meraih impiannya tersebut. Aku sudah sering berpapasan dengannya, tapi belum pernah aku berani mengajaknya berbicara. Paling hanya melempar senyum, dan bergegas aku masuk ke dalam ruang guru.

“Bagaimana? Sudah selesai semua?” suara Bu Fifi membuat pemikiranku pecah. Aku bergegas mengalihkan pandanganku ke seluruh anak-anak didik. Ada yang bengong. Bertepuk tangan. Melonjat histeris. Ada juga yang hanya duduk manis.

“Sudah, Bu.” Suara serentak membahana di ruang kelas yang dihiasi dengan aneka macam mainan gantung. Origami angsa sebagai tirai jendela. Lukisan tempat ayunan dan bianglala di dinding. Jam dinding. Papan tulis hitam. Almari berisi mainan. Dan meja kursi yang tak tertata rapi itu memantul sejenak menepiskan bayanganku tentang Tama dan gadis kutu buku itu.

“Kumpulkan ya?”

Bu Fifi dengan Pak Arman segera mengambil tugas gambar anak-anak didik. Aku ikut membantu. Berdiri dari kursi guru dan berhambur di tengah-tengah puluhan anak TK yang mulai membuat keramaian.

Setelah semuanya selesai. Bu Fifi dan Pak Arman membimbing anak-anak untuk berdoa. Mengakhiri pertemuan hari ini. Tugasku adalah merapikan lembaran-lembaran bertinta warna ini. Wali murid sudah siap menunggu kepulangan sang buah hati di parkiran. Ada pula yang telah berdiri di depan pintu. Seakan sudah tak sabar ingin mengecup kening putri atau putra tercinta. Kuserahkan hasil gambaran anak-anak ke Pak Arman. Sebenarnya tak pantas aku panggil Pak. Terlalu muda dalam pandangan mata. Ia bahkan belum menikah. Umurnya selisih dua tahun denganku. Jika aku dua puluh, maka kau tahu tanpa harus aku beritahukan. Wajah Pak Arman selembut awan.  Senyumnya menawan laksana pelangi. Tubuhnya bugar lantaran tak pernah malas berolahraga.  Namun aku sedikit tidak suka dengannya, jika sudah dikurung dalam kantor guru-guru. Bibirnya bergerak-gerak tak tentu. Bawel. Banyak omong. Seperti perempuan saja. Diamnya dia hanya ketika ditugaskan mengajar di dalam kelas.

Suasana sekolahan mendadak sunyi. Guru-guru lain telah pulang ke rumah masing-masing. Tidak ada anak didik yang tertinggal di ruangkelas. Semuanya bubar. Aku menelusuri koridor sekolahan menuju tempat parkiran. Sejenak mataku terkesiap, saat mendapati sosok Faisal yang masih berdiam diri di samping motor Tama. Anak itu jongkok dan menggurat-gurat tanah dengan ranting pohon. Tak ada wajah gelisah di hatinya. Anak itu tetap ceria, meski kesunyian telah merayap di dinding waktu. Seharusnya ia sudah pulang setengah jam yang lalu. Kenapa belum pulang? Ke mana Tama sebenarnya? Apakah ia pulang duluan? Tidak mungkin. Motornya masih melamun di tempat parkiran. Aku menghampiri Faisal.

“Kenapa Faisal belum pulang?” tanyaku lembut seraya jongkok.

Faisal melempar pandangannya yang teduh ke arahku. Guratan rantingnya terpaksa dihentikan. Ia usap-usapkan tangannya ke pantatnya, berusaha mengusir kotoran yang menempel sebelum akhirnya mencium tanganku.

Eh, Bu Lita. Mas Tama belum datang,”

Aku ingat suatu hal. Tadi sewaktu mengajar kulihat Tama berlari ke arah kamar mandi di samping parkiran. Langkahku mendadak tergoda untuk memeriksa setiap kamar mandi yang ada. Aku mengelus ubun Faisal.

“Faisal di sini dulu ya? Ibu carikan Mas Tama,”

“Faisal mau ikut,” ada sorot penuh harap di bola matanya. Aku tak tega meninggalkannya dengan kekecewaan. Senyum kuukir dan reflek daguku teranggukkan. Aku berdiri. Anak kecil ini melonjat-lonjat histeris penuh kemenangan sambil bertepuk tangan. Aku hanya terkekeh kecil. Seolah ia baru saja mendapatkan uang jajan dari sang ibu. Kaki langsung kutntun menuju ke kamar mandi.

Empat kamar mandi terbuka lebar-lebar. Gemercik air krans yang tak dimatikan terdengar begitu jelas. Aku masuk ke dalam memutar krans tersebut. Bagiku menyia-nyiakan air tercecer di lantai adalah kecerobohan fatal. Tentulah aku tidak suka hal tersebut. Kamar mandi di ujung sendiri tertutup rapat. Aku yakin sekali di dalam sana ada Tama. Tapi sebab apa Tama betah sekali berlama-lama di dalam kamar mandi? Apakah ia jatuh hati dengan kamar mandi? Lalu ia cumbu segenap air yang tumpah meluber dari bak air? Sampai-sampai percikannya keluar melalui celah pintu terbawah? Pemikiran konyol.

“Bu Lita mau pipis ya? Kenapa malah ke kamal mandi?”

Aku hanya tersenyum tipis. Faisal belum sanggup menangkap pemikiran orang dewasa.

“Siapa yang di dalam?” suara kualunkan beriringan dengan ketukan lembut punggung tanganku. Krans air menyembur deras. Aku dan Faisal mampu menangkap suaranya dengan jelas. Tidak ada sahutan dari dalam. Semakin kuperkeras ketukan tanganku.

“Tolong jawab jika kau mampu mendengarku!”

Aku mendorong pintunya. Terkunci. Jelas sudah di dalam kamar mandi yang sempit ini ada satu nyawa yang dibekap empat dinding berlapis cat awan itu. Tiga kali, empat kali, lima kali, sampai sepuluh kali suaraku melantun dengan keras. Tetap tak ada jawaban. Aku mendadak diserang panik. Faisal memandangku dengan tatapannya yang begitu polos. Ia pasti bingung dengan apa yang aku lakukan. Apakah ada hal buruk yang menimpa kakaknya Faisal? Apakah itu? Terakhir kulihat wajahnya pucat. Bukankah ia pucat lantaran marah dengan gadis kutu buku itu? Ada apa sebenarnya? Mendadak aku merasa menjadi Ibu Tama yang harus tahu masalah batinnya. Betapa bodohnya aku. Tak pantas aku memikirkan hal itu. Kupanggil satpam penjaga pintu gerbang. Aku menyuruhnya agar mau membukakan pintu dengan paksa. Dobrak. Kekerasan yang harus dirasakan pintu kamar mandi yang malang.

“Kenapa kamar mandinya didoblak Ibu Lita?” tanya Faisal membuyarkan kepanikanku. Aku lantas membopongnya. Kubelai lembut rambutnya. Tak kujawab pertanyaannya. Semakin bingunglah ia dengan sikapku.

Suasana sekolahan sudah sepi. Guru-guru lain telahlah pulang semua. Sayup-sayup angin menggesek daun Kersen di samping parkiran. Daun yang cokelat dan telah mengering jatuh mencium tanah yang tak lagi basah. Di sini hanya tinggal aku, Faisal dan Pak Satpam. Tak ada lagi tawa renyah anak-anak manis yang berebut bermain ayunan. Tak ada teriakan histeris tangisan mereka yang meributkan permasalahan duduk di bangku depan. Senyap. Waktu bisu. Ritme ketukan pintu dari tangan Pak Satpamlah yang menggema keras. Lambat laun, awan hitam di langit bertamu menyelimuti kebiruan nirwana.

Bruk!” Pintu terbuka. Aku memutar badanku. Khawatir jika yang ada di dalam kamar mandi bertelanjang. Meski belum tentu yang ada di sana adalah Tama. Tapi setidaknya aku mampu berjaga-jaga. Faisal kubekap matanya.

“Ada apa, Bu?” Faisal tak henti-hentinya bertanya.

MASYA ALLAH, BUUU…” jerit Pak Satpam membuatku terkejut.

“Ada apa, Pak? Apakah ia tidak memakai baju? Apakah ia Tama kakaknya Faisal?”

“Balik badan, Bu. Pemuda itu pingsan. Dia tidak telanjang,”

Pemuda itu? Siapa pemuda itu? Apakah ia bukan Tama? Mengapa Pak Satpam menyebutnya pemuda itu? Bukankah mereka berdua sudah kenal akrab? Sering kulihat waktu dulu mereka duduk bebarengan di atas motor mengobrol saling pandang. Seolah tak mungkin jika Pak Satpam menyebutnya pemuda itu. Kalau ia memang bukan Tama, maka ini adalah sebuah keberuntungan. Mendadak jantungku berdebar. Aneh sekali. Tak ada hubungan darah antara aku dan Tama, untuk apa pula aku merasa khawatir jika ternyata yang benar-benar pingsan itu adalah Tama? Ah, lihatlah bola mata Faisal. Aku tak tega melihatnya menderita karena menunggu kehadiran Tama yang entah di balik bak air itu atau sedang di tempat mana. Faisal tentulah sudah lapar. Tak sabar ia akan duduk manis di sofa tamu bermain mobil-mobilannya, atau pesawat terbangnya. Aku tahu hobi Faisal, karena ia sering bercerita kepadaku. Jika kutanya apa yang paling sering ia lalukan di rumah. Jawabannya hanya ada dua kemungkinan.  “Main mobil-mobilan dan pesawat terbang, atau main kuda-kudaan dengan Tama.”

°°°°°°°°

Dear Diary.

Aku dihentakkan dari atas tebing yang paling tinggi. Menuju jurang tercuram bersarang hewan melata di balik semak belukar. Dalam hitungan beberapa detik kemudian. Aku diembus api yang dingin dan sanggup membekukan urat-urat nadiku. Tak lagi kurasakan panas yang membakar jantungku. Lantaran rupanya telah hangus dimakan perjamuan siksa. Tak lagi aku bisa meraba, memata, apalagi memeta jejak suka. Nestapa dalam asa merengut kobaran api semangatku yang luar biasa. Badai salju cobaan memporak-porandakan hidupku menjadi tiada berguna. Pantaslah sudah jika kusebut api menjadi dingin. Lantaran rasaku sudah pupus dikubur nestapa. Aku mabuk dalam kegelapan dunia. Perut dibusung lapar. Dada dibabat pisau tumpul yang berkarat. Membuatku sakit dalam lolongan malam yang panjang. Sementara ibuku mengumpulkan airmata dalam kendi derita. Bimbang aku menahkodai samudera kehidupan. Ombak jahat menyesatkan laju pikirku. Angin merobekkan layar kapalku. Aku liliput yang terkurung dalam sangkar keputus asaan. Semangatku mati, bagaikan lilin putih yang kehilangan api. Cahayanya pun musnah ditumbuk dalam palu kegelapan.

Waktu melihat aku masih mampu berjalan. Tak lumpuh dalam melangkah. Tapi kakiku berhenti bergerak dalam suatu titik. Di sana aku terpaku.  Batinku diremukkan kehampaan yang membekukan ibu jemari kakiku. Kala airmata memercik  dan pelangi di bibirku tak lagi mengembang. Inilah aku yang kaya pesakitan dan hinaan orang lain. Bisu adalah cacat yang hampir membuat mentalku kabur diembus angin kesepian.

Tuhan! Aku tidak sanggup. Pemuda itu sangat sombong sekali. Ia bahkan tak mau membaca tulisanku di tanah. Aku benci dengan orang sempurna yang sehat. Kebanyakan dari mereka sombong dan tak berakhlak. Aku benci. Aku benciiii….

Kupu-kupu yang kuletakkan di atas meja dalam sebuah toples berudara itu memandangku iba. Aku ingin berbicara denganmu. Bercakap bersamamu. Mendengarkan suaraku, apakah merdu? Aku tak punya suara. Itu adalah sebuah kekonyolan yang tidak lucu!

Aku terpukul dengan kejadian tadi pagi. Perasaanku hancur lebur menjadi debu yang tiada berarti. Pemuda itu membuatku muak. Andaikan ayahku mempunyai uang cukup untuk menyekolahkanku di sekolahan khusus orang penyandang cacat bisu. Mungkin aku bisa menggerakkan tubuhku untuk berbicara. Sayangnya tidak. Aku tidak punya harta untuk itu, jadi hanya sedikitlah yang aku bisa gerakkan sebagai isyarat. Namun entah mengapa saat berhadapan dengan pemuda tadi, tubuhku serasa beku. Aku dipancing kebencian dengannya. Suara yang kasar dan ekspresi yang muram. Membuatku takut dan enggan menggerakkan tubuhku. Aku sempat mendengar, katanya dia ingin menjadi sahabatku. Apakah dengan cara seperti itu? Ah, itu tidak sopan.

Sebagai wanita bisu yang tak mampu berkata-kata dalam suara, tentulah kejadian tadi membuatku terpuruk. Lihatlah kupu-kupu. Aku menangis hari ini. Menangis karena kekonyolan hidupku yang dipenuhi keputus asaan terhadap dunia luar. Rasanya aku ingin selalu mengurung diri saja di dalam kamarku. Tapi jika aku terus seperti ini, apa yang mampu aku dapatkan? Selamanya aku tidak akan mempunyai kawan. Sebuah kenyataan pelik yang amat menyayat jiwaku. Jika aku diberi kesempatan memilih antara bisu dan mati. Aku pilih mati untuk selama-selamanya. Aku terlalu lelah dengan kehidupan ini. Seraya hidupku tidak pernah berarti. Waktuku habis untuk membaca dan menulis diary seperti ini yang entah apa gunanya. Aku beku. Orang berkata, membaca adalah sumber ilmu dan mampu membasmi kebodohan. Dengan membaca kita mampu berpikir dewasa. Kata siapa? Selama ini aku masih seperti anak kecil yang haus akan belaian perhatian dari seseorang dan kasih sayang ke dua orangtuaku. Aku bingung. Aku ingin bisa berbicara.

Sore ini ayahku pulang, kupu-kupu. Lihatlah tadi wajahnya yang pucat sekali. Ia berjalan ke arahku dengan pakaiannya yang sudah berganti. Sore kemarin pakaiannya basah. Tidak dengan tadi sewaktu senja merayap di langit. Kau bisa mengintip dari balik toplesmu keluar. Wajah ayah kusut, tapi ia tersenyum. Menarik tangan Ibu dengan lembut dan meletakkan uang 500.000 di atas telapak tangan ibuku. Ibu yang baru saja selesai mengaji langsung menghamburkan uang itu ke tanah. Ia tak terima mendapatkan uang dari hasil yang tidak jelas. Ayah pun marah dan menampar pipi Ibu. Ah, adegan itu membuat napasku sesak, kupu-kupu. Aku tidak sanggup melihatnya. Ingin sekali aku membela ibu dan keluar memeluknya, tapi aku malah hanya terpaku di mulut pintu yang berkelambu ini. Rasanya aku malas sekali melihat wajah ayahku lagi. Aku lebih tenang jika ayah tidak ada di rumah.

“Mas! Selama ini aku masih sanggup mencukupi kebutuhan rumah dan kehidupan Sinta, jadi makan saja uang harammu itu!” bentak Ibuku.

Jakun ayah naik turun dengan cepat. Napasnya menderu cepat. Matanya berkilat-kilat. Tangannya mengepal di udara. Pukulan ke dua telah dipersiapkan untuk memerahkan pipi ibuku.

“Aku sudah susah payah menafkahimu, tapi kamu tidak menerimanya dengan baik? Istri macam apa kau?”

“Seharusnya aku yang bertanya, suami macam apa kau ini? Hidup hanya mabuk-mabukan. Main dengan wanita lain, uang yang kau dapat juga tidak jelas asal muasalnya. Aku tidak ingin Sinta makan uang haram!”

Plaakk. Satu tamparan kembali mencium wajah ibuku. Ayahku yang tempramental, hobi sekali melayangkan tamparan pada ibuku. Bahkan aku dulu juga pernah ditampar. Aku tidak tahu laju pikir ayahku itu seperti apa. Aku hanya tahu jikalau ayahku tidak pernah sayang kepada Ibu dan diriku. Ayah bahkan tidak suka akan kehadiranku yang cacat suara ini. Kau ingat bukan kupu-kupu saat ayahku menyebutku sebagai gadis cacat? Rasanya hancur sekali batinku.

“Sudahlah, aku lelah. Aku mau pergi, ini uang untukmu. Pergunakan dengan baik!” suara ayah akhirnya melembut. Ayah berbalik arah ke kamarku. Uang itu tak dipungut ibu, masih tergeletak berserakan di atas tanah. Ibu menangis sesenggukan di tempat. Aku lari ke arah ranjang dan membaringkan tubuhku. Menarik selimut pura-pura tidur. Aku tidak ingin melihat rupa ayah. Aku tidak ingin berbicara dengan ayah. Untunglah aku bisu jadi aku tidak perlu mengeluarkan suara.

Dari balik selimutku yang tipis. Aku bisa mengintip ayah yang berdiri tegak dengan lamunannya di sisi ranjang. Aku tidak tahu apa yang ingin ia lakukan. Membaca matanya pun tak sanggup. Lantaran benang-benang selimut menyamarkan pandanganku menjadi tidak jelas. Kurasakan angin memeluk daun telingaku. Ayah meletakkan suatu benda di samping kepalaku sebelum akhirnya ia berbalik keluar. Ayah pergi dan benar-benar pergi.

Kutarik napas lega. Selimut kusibak. Aku duduk setengah badan. Kulirik ke samping bantalku. Ada sebuah buku baru yang diberikan oleh ayah. “Hakikat kehidupan”. Judul buku tersebut. Aku menyentuhnya sejenak melihat covernya. Tak lama lagi aku langsung melemparnya. Aku tidak sudi diberi buku oleh ayahku. Itu pasti hasil uang haram karena bersetubuh dengan perempuan lain. Aku benci ayah. Tapi benarkah sungguh aku membecinya?

Sedang apakah ayah di luar sana? Apakah ayah menyayangiku? Apakah ayah peduli denganku? Dan tentang pemuda tadi, aku juga sangat membencinya. Jika waktu masih mengizinkan. Aku ingin bertemu dengannya satu kali, aku hanya ingin memberinya penjelasan bahwa aku tidak sanggup berbicara. Entah kapankah itu, yang jelas malam ini aku harus segera menjemput mimpiku di pulau surga.

Kupu-kupu. Senja tadi aku menangis. Siang tadi aku menangis. Malam ini aku juga menangis. Buku pemberian ayah masih tergeletak di atas tanah, aku malas memungutnya. Aku jijik! Meski hatiku berbisik untuk membacanya. Tapi emosiku sama sekali tak mampu kubendung. Sudah dulu ya diary? Malam ini aku amatlah lelah. Kukecup toples kupu-kupu. “Selamat malam.” Kumatikan lampu kamarku  yang disekat anyamam bambu itu. Dingin memeluk tubuhku erat.

°°°°°°°°

Hahaha, orang gila! Orang gila! Diberi uang tidak mau? Bodoh! Bodoh! Kau pikir cari uang mudah? Munafik! Pasti juga kalau aku pergi diambil, hahaha… istri tolol!” Aku linglung. Langkah tertuntun menabrak-nabrak pagar rumah orang. Di tangan kiriku sebotol bir sanminguel. Baru saja kutebus seharga 50.000 lumayan nikmatlah, dibandingkan oplosan yang murahan. Seharusnya bir ini tidak terlalu memabukkan, tapi lantaran sudah kuminum enam botol, aku pun teller. Berkicau tanpa arah yang pasti. Aku terus meracau menyalahkan istriku.

Laju kendaraan lumayan padat. Hari ini malam Minggu. Tentunya manusia sedang berlibur dan bersantai di taman-taman kota. Tak seperti diriku yang kesepian dan tak punya teman. Dan siapa mau peduli dengan lelaki mabuk di jalanan trotoar sepertiku ini? Biarlah malam yang menemani waktu senduku. Aku rela. Karena memang sudah terbiasa.

“Apakah kau tahu? Aku semalam telah meniduri gadis cantik yang lebih seksi dari pada dirimu, hahaha… itulah hasil pendapatanku. Seharusnya kau menerimanya. Aku ini telah mengorbankan kehormatanku untukmu dan untuk Sinta! Kau terlalu bodoh! Kau bodoh! Aku telah bekerja mati-matian menelan kemaluanku. Membunuh harga diriku, demi siapa?

Demi kamu! Kau pikir tidak sakit, tidur dengan perempuan yang sama sekali tak kucintai? Kalau bukan untukmu aku tidak sudi! TIDAK SUDI! CARI UANG SUSAH! Aku sudah melamar ke berbagai perusahaan tapi selalu ditolak! Alasan karena aku lulusan SD. Ah, bagian personalianya memanglah sangat tolol, seharusnya ia menerimaku bekerja. Aku ini orang yang rajin. Hahaha… bodoh, bodoh, BODOH!” jeritku terus menerus beriringan dengan benturan botol birku yang kuhempaskan ke jalan raya. Tubuhnya hancur berkeping-keping.

“Ini sebabnya aku ingin Sinta jadi orang pintar! Aku tidak ingin dia dibodohi oleh orang lain. Kalau dari dulu aku punya uang, aku akan menyekolahkannya! Tapi aku tidak punya uang. Yang kubisa hanya memberinya buku dari hasil zina. HahahahaOh Sinta yang manis, ayah melakukan itu demi dirimu. Ayah sayang kepadamu, hahahaha…. ayah sayang sekali! Kau baca buku itu yah? Jangan dibuang seperti kemarin-kemarin. Nanti kalau ayah marah, ayah tidak akan berzina lagi untukmu. Hahahahahaha…” perasaanku entah ke mana. Samar-samar aku merasakan pahit yang menusuk relung hatiku. Serpihan botol bir yang tergeletak malang di hitamnya jalan aspal mengingatkanku pada diriku yang rapuh. Aku adalah nyawa yang pecah dalam menentukan kehidupan. Keluargaku tak utuh seperti botol bir yang baru saja kuhempaskan. Satu mobil menelindas pecahan itu. Apakah seperti jiwaku yang sama ditelindas oleh nista dan duka? Oh dunia, kenapa hidupku begitu getir sekali.

“Istriku! Aku mencintaimu, aku menyayangimu, uang itu untukmu. Besok malam aku akan tidur lagi dengan gadis gila, doakan aku agar bisa mencukupi kebutuhan kita sekeluarga. Hahaha,”

Langkah tertuntun ke rumah Biola. Rumah megah dengan tekstur modern itu kini terpampang di bola mataku. Kerlipan lampu mewah mengesankan gambaran sebuah istana damai dalam bangunan yang berdiri jelita tersebut. Taman dengan air mancur ke atas dari patung kodok menghiasi halaman rumahnya. Entah setan apa yang mengajak langkah kakiku tertuntun di rumah ini. Naluri tak sadarku ingin memetik keperawanan gadis yang sedang memekarkan aura kecantikannya tersebut. Sepertinya ini akan menjadi malam pendek yang menggairahkan.

Biola adalah gadis jelita, ia baru saja lulus sarjana keperawatan. Umurnya menginjak dua puluh empat tahun. Manis iya. Orangtua berkehidupan mapan. Kebetuhan sehari-hari terpenuhi. Ia bahkan mempunyai lima pembantu. Tapi ia tidak mempunyai kasih sayang. Orangtuanya selalu dipersibuk dengan pekerjaan luar. Alhasil, pergaulan salah menjerumuskan masa depannya. Gadis dengan rambut tergerai panjang ke bawah itu menjadi sosok centil yang selalu kehausan nafsu. Birahinya lebih besar daripada orang tua.

Terkadang aku saja sering kualahan. Jika dengan Dewi aku dibayar 500.000, maka dengannya satu malam aku bisa mendapatkan uang 1.500.000. Itu adalah hal yang indah bukan? Liciknya di sini, aku bukan hanya menikmati tubuhnya. Sesekali juga kucuri buku-buku pelajaran miliknya agar dibaca oleh Sinta. Apakah aku gila? Entahlah hidupku kuakui memang sudah berantakan.

Aku mengetuk pintu. Pembantunya yang bernama Paimen membukakan pintu. Ia selalu menyorotku dengan tatapan garang jika aku datang. Seolah ada rasa tidak sukanya untukku. Tak rela mungkin hampir setiap seminggu sekali aku datang ke rumah majikannya untuk melahap habis surgawi dunia. Hari-hari biasanya Biolalah yang mengundangku, tapi entah setan dari mana yang memberanikan diriku untuk mengunjungi Biola. Mungkin karena aku sedang sakit depresi berat. Perlakuan istriku tadi benar-benar membuatku muak. Aku juga kecewa karena telah menamparnya. Aku semakin bingung kemana lagi aku harus menuntun arah kebenaran. Tak tahu, mungkin jika semakin aku sesatkan kehidupanku itu akan lebih menyenangkan. Hahaha.. .aku sungguh-sungguh gila!

“Cari siapa?” kata pembantunya yang dekil dan hitam kurus tersebut. Aku memegangi badan pintu dengan tubuh yang tak seimbang.

“Biolaku sayang, Om datang. Malam ini kau tak usah bayar, hahaha….” aku berkata tanpa adanya kendali.

“Dasar orang gila, pergi! Non Biolanya sedang tidur!” serunya.

“BIOLA. OM DATANG!” aku berteriak lantang menunggu respon dari Biola. Biasanya jika aku datang, ia akan turun dari lantai dua menjemputku.

“Keluar! Atau aku panggilkan satpam untuk mengusirmu?”

Oh Biola sayang, kau cantik sekali. Om semakin bertambah gila karenamu,” aku memeluk Paimen. Tubuhku benar-benar lemah. Kesadaranku yang tadi sempat pulih mendadak lenyap seketika. Aku hanya tahu kalau malam itu aku sedang sekarat lantaran penyakit hatiku yang tidak sembuh-sembuh. Pembantu itu mendorongku sampai terbentur pintu. Aku menatapnya garang. Napasku menderu kencang. Emosiku membuncah. Setan tertawa renyah. Kepalan siap kuarahkan ke wajahnya.

“Om, kenapa mabuk?” suara Biola membuyarkan emosiku. Aku tertuju pada lekuk tubuh anak muda yang malam itu hanya memakai celana pendek dan tangtop saja. Dengan langkah doyong kerengut tubuhnya. Aku memeluknya penuh nafsu. Ia membalas dan menuntunku ke kamarnya yang ada di lantai atas.

“Non jangan gila!” sergah Paimen.

“Tak usah bawel jika kau tak ingin saya pecat!” suara ancaman Biola sukses membuat pembantunya itu diam beribu bahasa.

“Sebelum kita berpesta, malam ini kau harus menyanyikan lagu dengan biolamu terlebih dahulu, oke?”

“Apa yang tidak buat, Om?” katanya manja sambil menghempaskanku ke ranjang kamar pribadinya. Seprai tenggelam beberapa senti secara tak beraturan. Ia mengambil biolanya dari almari khusus benda koleksiannya. Perlahan ia menggesek-gesekkan melodi, membuatku kalut dengan keindahan dunia. Biola adalah nama yang sesuai dengan keahliannya di bidang memainkan alat musik biola. Ia anak yang berbakat. Sayang kesibukan orangtuanya yang suka berbisnis ke luar negeri membuatnya tak menemukan arah kehidupan yang jelas, mungkin sama denganku. Entahlah, persetan masalah tersebut! Aku Bangkit. Kupeluk tubuhnya. Kuciumimya dari atas sampai bawah. Kurasakan indah yang seolah akan abadi.

Bersambung….