Dialog Publik; Membangun Kebersamaan dengan menghilangkan Potensi Konflik sosial di masyarakat

oleh

Dialog Publik,

Pemusa Pancasila (PP) MPC Bulukumba, Dan sekolah Sastra Bulukumba, Rumah Baca Phinisi Bulukumba Nusanta

Dialog Publik, Pemuda Pancasila MPC Bulukumba, Sekolah Sastra Bulukumba, Rumah Baca Phinisi 1986, Tribun Timur. Warkop Mattoanging Bulukumba.
Dialog Publik, Pemuda Pancasila MPC Bulukumba, Sekolah Sastra Bulukumba, Rumah Baca Phinisi 1986, Tribun Timur. Warkop Mattoanging Bulukumba.

ra 1986 Tribun Timur, Menggelar Diskusi atau Dialog publik yang bertajuk “membangun kebersamaan dengan menghilangkan potensi Konflik sosial di tengah masyarakat”, diskusi yang berlangsung riah menghadirkan nara sumber, Bapak Tomy Satria Yulianto, S.IP, Kapolres Bulukumba AKBP Selamat Rianto, S.IK, Tokoh agama ust. Andi Satria, budayawan Agus Riyadi,
Dialog yang berlangsung Pukul 20.00 WITA Rabu 16 Maret 2016, peserta diskusi di hadiri oleh LSM, ORMAS, dan organisasi Kepemudaan, dan lembaga kemahasiswaan.

Warkop Mattoanging Bulukumba, yang menjadi pembicara pertama adalah Kapolres Bulukumba, yang lebih menekankan pada pencegahan terjadinya konflik, “Konflik itu adalah hilangnya keseimbangan moral pada pelaku konflik, dan konflik harus di cegah dengan menjaga kebersamaan, membangun hubungan antar sesama dengan baik, karena konflik terjadi karena komunikasi yang tak bersinergi di antara pelaku konflik, dan harus kita bedakan antara konflik sosial dan Kamtibmas, Pihak kepolisian akan selalu bersama masyarakat, membangun hubungan dan kerja sama yang pro-aktif. Kepolisian akan selalu mengedepankan Humanisme dalam setiap menindak persoalan di tengah masyarakat,. Hal yang sangat memprihatingkan di negeri ini adalah persoalan Narkoba, siapapun pelaku narkoba harus di tindak, lebih lagi jika ia adalah anggota Polri.”, Ungkapnya.

Lain lagi Wakil Bupati Kabupaten Bulukumba, ia Mengatakan “dalam menjalankan tata kelola pemerintahan, pihak kepolisian adalah Mitra atau sahabat.
Konflik tak bisa lepas dari persoalan hidup. Konflik itu menghancurkan tatanan nilai, jika kita salah mengelola konflik itu, konflik dapat menjadi corong untuk mencari kebersamaan dan melahirkan antusiasme Kultural, memperjuangkan nilai dengan mencari persamaan kepentingan, merangkai kepingan identitas ke Bulukumbaan dengan dimensi yang sama. Mari kita sama-sama menjaga kekebersamaan, mencegah konflik kedaerahan dengan sikap membanggakan dan mencintai Bulukumba”. tuturnya

Agus riyadi (Budayawan Sulsel) sebagai pembicara ketiga juga menyampaikan bahwa, konflik itu adalah situasi perbedaan dan pembedaan keadaan ruang, ruang jiwa dan ruang sosial, konflik terjadi karena ego, keegoan yang di pelihara oleh individu-individu yang lepas dari pemaknaan hidup, dan filosofi kemanusiaan. Konflik itu sudah ada sejak dulu, dari nenek nenek moyang kita, salasatunya dalam sejarah adalah, kisah turunnya tomanurung itu karena adanya konflik atau perbedaan di antara sesama, yang sangat di picu oleh keegoaan semata”-
Agus Riyadi Juga menambahkan, “bahwa untuk mencegah konflik dalam persfektif kebudayaan adalah, ada 5 hal yang mesti menjadi pegangan kita dalam membangun kebersamaan, yaitu, 1. “Ada’ Ri tongenge”, yang berarti bahwa dalam setiap tindakan seyogyanya manusia jangam terlepas dari hati Nuraninya, 2.”Getteng” yaitu, teguh pendirian dan tegas dalam bersikap, 3. “Ada’ malempu’, yaitu, senantiasa mengedepankan kejujuran saat diberikan amanah 4. ‘Sipaka tau’, memandang dan memperilakukan manusia yang layaknya manusia. 5.Mappi so’na ridewata’, berserah diri kepada Allah Swt. Kelima hal itulah yang menjadi pijakan kita dalam membangun peraban kemanusiaan khususnya di sulawesi selatan,. Di masa lampau, dalam sejarah pemerintahan, konflik dapat di selesaikan dengan istilah Tudang Sipulung”. ungkapan Agus Riyadi.

“Konflik lahir dari perbedaan keadaan atau penguasaan ruang, ruang hidup dan ruang jiwa individu, munculnya konflik itu sangat di pengaruhi oleh ego, ego individu, ego kolompok, dan sebuah peristiwa, misalnya peristiwa politik., konflik sangat di pengaruhi oleh kebijakan individu. Individu yang di maksud adalah pemegang kebijakan.
Contohnya kebijakan pemerintah ketika membuat kebijakan atau putusan yang dikriminatif yang membuat satu entitas misalnya tidak terpuaskan oleh kebijakan tersebut
Disinilah tentunya keadilan sangat di perlukan dalam menjalankan amanah setiap pemimpin. Baik pemimpin daerah, maupun pemimpin keluarga.
Keadilan adalah tonggak kesejahteraan, keadilan itu melahirkan keseimbagan akan setiap sesuatu, dan mensinergitas setiap bagian-bagian sesuatu.
Keadilan hanya akan di temukan pada Pengetahuan, dan penanggung jawab pengetahuan itu adalah Pemerintah.
#Ungkap sala satu pennanggap dari Kader Pemuda Pancasila MPC Bulukumba.

Anto Lidik