Diduga Overdosis, Pasien RSUD Bulukumba Tewas Setelah Disuntik 12 Kali

oleh
Warda (45), istri almarhum Umar (Korban dugaan pasien Overdosis RSUD Bulukumba) saat jenazah korban di semayamkan di rumah duka. Rabu (2/8/17).

BULUKUMBA, Suaralidik.com – Seorang warga di Desa Bontomanai, Kecematan Rilau Ale, Kabupaten Bulukumba, dikabarkan tewas setelah mendapat suntikan sebanyak 12 kali, di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sultan Dg Radja, Bulukumba.

Adalah Umar (45), diduga overdosis obat. Hal ini diutarakan istri korban, saat Jenazah Umar disemayamkan di Rumah Duka. Rabu (2/8/17).

Warda (45), istri almarhum Umar (Korban dugaan pasien Overdosis RSUD Bulukumba) saat jenazah korban di semayamkan di rumah duka, Desa Bontomanai, Kecematan Rilau Ale, Bulukumba. Rabu (2/8/17).

Umar dinyatakan meninggal dunia setelah jalani perawatan di Ruang ICU selama 2 malam karena penyakit tetanus bekas tusukan kawat duri pagar di kaki kanannya.

“Almarhum sakit pada kakinya setelah ditusuk kawat. Setelah 3 hari, suami saya mendapat perawatan di Puskesmas, setelah itu dilanjut ke Dokter praktik. Saat itu kondisinya membaik. Menjelang 1 hari, rasa nyeri dan kaku terasa di mulutnya, akhirnya saya larikan ke RSUD Bulukumba, hari minggu (30/7/17) malam, dan masih dalam keadaan membaik” Ujar Warda (45) istri Umar saat ditemui awak media di rumah duka.

Selain itu, dirinya juga mengutarakan, suaminya (korban) juga mendapat perlakuan tidak menyenangkan selama di rawat di RSUD.

“Sesampainya di Rsud, Almarhum di cek darah dan normal dan di inpus. Namun Setelah bermalam 1 malam dia dipindahkan ke ruang isolasi jam 1 malam senin (31/7/17), disana menunggu lama sampai pukul 13.00 Wita siang hari senin baru dilayani. Disanalah dia di suntik 12 kali di sekujur tubuhnya. Bahkan sampai diikat” Ungkapnya di depan jenazah Suaminya.

Warda juga menyampaikan jika saat di ruang Isolasi, dokter menyuntikan obat ketubuh korban dimana obat itu adalah obat percobaan, tak lama berselang tiba-tiba korban kejang dan dimulutnya mengeluarkan busa, lendir bercampur darah.

Karena kondisinya kejang, suami saya dimasukan ke ICU pada Selasa (1/7/17) siang, itupun kami harus menunggu dokter selama 2 jam baru bergeser ke ICU, tak lama kemuadian Pukul 19.30 wita suami saya dinyatakan meninggal, saat itu sama sekali tidak ada dokter yang mendampingi, hanya ada perawat,” tutur Warda.

Pihak keluarga menyayangkan sikap dokter dan pelayanan di RSUD Bulukumba yang dinilai lamban dalam penanganan kasus medis.

Terpisah, Humas RSUD Bulukumba Gumala Rubiah, menuturkan, Jika Dokter saat itu telah menjalankan protap dan sop sesuai ketentuan.

Sementara, mengenai pelayanan yang dikeluhkan, Pihak RSUD telah membentuk TIM investigasi penanganan laporan kasus tersebut, termasuk merapatkan kepada para dokter adanya keluhan.

“Untuk penyakit tetanus, memang disuntikan 12 kali cairan anti tetanus ke tubuhnya dengan jumlah 3000 CC untuk membunuh virus tetanus itu,” kata Gumala Rubiah. (RED 4)


Abdul Nazaruddin

Rujadi

H.Askar

Harris Pratama