Dikejar-kejar Polisi Cerpen Karya Darah Mimpi

oleh

 

Ia adalah sosok tinggi, berwajah menawan dengan perangai yang tak rupawan. Suaranya lantang, membangunkan pagi yang masih mengantuk. Ia pengganggu kelelawar yang hendak begadang di malam hari, ia sahabat para pemeluk lingkaran jalanan. Seringkali menghabiskan waktunya di emperan toko perempatan jalan di dekat kampung. Botol minuman terlarang dengan asap nikotin menjadi temannya berdebat sepanjang malam.

Ia, pemuda yang mempunyai cekungan hitam di bawah kantung matanya, sering bergurau dengan mimpi-mimpi sepanjang kehidupan. Ia pemeluk wajah-wajah layu yang mengobralkan suara sumbang di pinggir-pinggir perkotaan. Ia, kau boleh memanggilnya, Dedi. Pemuda yang memeluk usia dua puluh lima, sedang menenggak es tehnya di angkringan. Duduk dengan mengangkat satu kakinya ke atas bangku panjang. Petikan gitar bersenandung. Kawannya sedang menyumbangkan lagu berintonasi datar sebagai penghibur siang. Langit memuntahkan teriknya yang dasyat, peluh-peluh penimbun kertas bercucuran, pemiliknya memasungkan wajah tergesa-gesa, dengan aura garang yang tidak bisa diganggu.

“Kau punya mimpi menjadi penyanyi terkenal?”

“Tidak, aku hanya mengandalkan suaraku untuk mengisi perut.”

“Sampai kapan akan selalu seperti itu?” pertanyaan yang bermakna dengan protes, atau mungkin sebuah tuntutan. Pengamen itu diam, menghentikan petikan senar. Mengambil sate hati di meja angkringan, menyantapnya, kepalanya sedang mengobrak-abrik kalimat tepat untuk menjawab pertanyaan Dedi.

Penjaga angkringan sibuk menggoreng tempe, suara api dari kompor bergemuruh. Angin menerbangkan debu-debu jalanan, membuat tubuh mereka menempel di kulit pipi, atau justru hinggap di gorengan yang sudah disajikan di atas nampan. Tenda biru di tepi trotoar itu tak kuasa  menahan panas jagad yang melambung drastis.

“Kenapa kau tidak gunakan otak cerdasmu itu untuk memikirkan hal-hal yang lebih besar? Kau tahu, Bang? Ide gila akan memengaruhi tindakanmu juga, dan tentu saja hal tersebut akan menjadi takdirmu di masa depan, dari mana kita memulainya? Dari sini,” Dedi menunjuk pelipisnya.

“Kau lumat bangku sekolah, aku tidak, Ded!”

“Apa yang penting dengan bangku sekolah? Aku hanya lulusan SMA, Bang.”

“Pola pikirmu berbeda denganku, kau bisa merangkai mimpi-mimpi indah di masa depan, sementara aku hanya mampu berpikir besok harus ada uang untuk makan,”

Dedi terbatuk. “Aku hanya berpikir kapan aku akan mati, maka dari itu aku memanfaatkan waktuku sebaik mungkin dengan berpikir.”

“Sudah, Ded! Jangan kau tenggak esmu lagi, atau aku akan mendengarmu besok kembali koma di rumah sakit.” Pengamen itu menepuk bahu Dedi. Kembali ia petik gitar tuanya. Menyanyikan lagu yang sedang naik daun, ‘despasito.’

                Hei! Diam! Aku tidak suka kau menyanyikan lagu itu,”

Ia mendengus, mengerem suaranya, sementara jemari masih memetik senar. Melodi terangkai, sayup-sayup terdengar sampai seberang jalan, klakson kendaraan seolah hendak menggantikan tepuk tangan.

“Aku tahu, suaraku memang buruk!”

“Artinya vulgar, hati-hati kau!”

“Nanti malam aku punya ide besar,” ia mengalihkan pembahasan. Gitar masih bersiul. Jalanan tetap melaju lalu lalang.

Dedi menatapnya sedikit heran. “Ide boleh gila, namun aku tidak ingin itu dihubungkan dengan kejahatan.”

”Sore ini ada les komputer di rumahmu?” Selain menghabiskan waktu dengan tongkrong, Dedi juga membuka les komputer di rumahnya.

“Ini hari apa?” Dedi balik bertanya.

“Sabtu,”

“Kau tahu kesimpulannya bukan? Hari minggu saja les komputer libur.”

Pengamen itu mengembuskan napas sebal. Ia meletakkan gitarnya di bangku, tepat di sisi tubuhnya. “Aku ingin kau membantuku berpikir mengenai proyek besarku,”

“Apa, Bang?”

Ia mendekatkan bibirnya di telinga Dedi, mengucapkan kalimat dengan setengah berbisik. Penjaga angkringan mengangkat gorengan, meletakkan ke atas nampan, melirik tingkah mereka berdua, tersenyum sinis, lantas kembali memasukkan adonan ke dalam wajan.

Aku ingin mencuri!”

“APA KAU BILANG?”

Mata Dedi nyaris lompat, suaranya menjelegar, membuat jantung Pak Angkringan tersentak, adonan yang dimasukkan ke dalam minyak mendidih menjadi berantakan. Namun lelaki tua yang hanya mengenakan kaos oblong berlogo partai itu tak mampu mengumpat pelanggan, diam adalah pilihan yang terbaik.

Pengamen langsung membekap mulut Dedi. “Atur suaramu,”

“Jika proyek itu berhasil, aku akan membangun sebuah usaha kecil-kecilan, dagang keliling mungkin, setidaknya itu bisa membuatku pensiun dari pekerjaanku menjadi pengamen. Kau sendiri tadi baru bilang, gunakan otak cerdasku! Aku sudah berpikir hal besar, kau tidak boleh protes, kau hanya perlu menentukan waktu yang tepat, maka nanti aku akan membicarakannya dengan teman-teman jalanan.”

Dedi batuk. Tubuhnya sampai membungkuk menahan sakit. Tangan kirinya meremas dadanya.

“Sudah hampir jam lima sore! Aku pulang dulu, anak-anak pasti sudah menungguku!”

“Kau tidak mau membantuku, Ded?”

“Maaf, Bang! Kau kuanggap teman yang baik, aku tidak mungkin menjerumuskanmu ke lubang hitam.”

Dedi bangkit, meraih dompet dari kantong celana, menyeret satu lembar uang sepuluh ribuan, lantas meletakkannya di atas meja. “Pak, es teh, dua tempe goreng, sama sate hati ya? Sisanya boleh disimpan.” Katanya kemudian keluar dari tenda angkringan. Pengamen jalanan itu bergegas menyeimbangkan langkah dengannya.

“Kumohon!” ia mengemis di jalan trotoar, memasang wajah melas, mengharap ada yang membantunya menyiapkan strategi. “Kau pandai bermain game, maka anggap saja ini sebagai arena permainan!”

Dedi batuk. Wajahnya membiru. Bibirnya kering. Ia berhenti. Jarak rumahnya masih setengah kilo meter. Ia mengusap keringat dingin yang mengalir di keningnya. Mengatur napasnya yang sedikit tersengal. Sejenak menatap kawannya iba. Satu menit kemudian langkah kembali dijejakkan.  Surya mulai meremang, awan tak lagi mengombak terang, mereka menggulung lantas berhamburan dengan wajah yang menghitam. Mendung singgah di sore yang seharusnya diharapkan indah. Perempatan jalan ramai, arus kendaraan dari Timur sedang berhenti. Mereka melintasi Zebra cross.

Dedi kembali batuk.

“Kau minum es dan sama saja menenggak racun!”

“Anggap saja aku sedang memakan bunga terompet di halaman rumahmu, jadi aku mabuk.”

Hei! Jangan bergurau! Tidak ada tanaman itu di rumahku, rumahku kolong jembatan! Apa kaitannya bunga terompet dengan dirimu?”
“Ia indah bukan?”

“Ya!”
“Begitupun denganmu, sebenarnya tujuanmu indah, namun caramu salah. Bunga terompet jika kau makan akan membuatmu mabuk, atau malah bisa mengangkat ruhmu. Lantas kau akan MATI! Sama halnya, tujuanmu memang ingin membangun sebuah usaha, ingin keluar dari pekerjaan mengamenmu yang melelahkan, namun selain kau mendapatkan dosa, jika tidak berhasil pun kau akan digerebek polisi!”

“Paru-parumu sakit, kau tidak diizinkan meminum es, namun kau meminumnya! Bukankah itu juga sama saja sedang bunuh diri dengan cara yang indah?”

“Cerdas juga kau balik sebuah permasalahan, Bang!”

Mereka berdua masuk ke dalam rumah, langsung menuju ruang les yang masih hening. Komputer-komputer dipeluk sepi. Ruangan remang, kursi-kursi masih kosong. Dedi menyibak tirai jendela, mengizinkan langit sore mengintipnya dari balik kaca. Ia duduk di depan komputer server. Menekan tombol on, layar bercahaya.

“Kau tidak ingin membantuku?” Dedi hanya diam. Mengarahkan mouse, mengklik Mozilla firefox, kemudian jemarinya menari  di lantai keybord. Ia mengetik sebuah keyword di mesin pencarian google. ‘Cara menjadi pencuri sukses’.

                “Tapi kau janji, harus berhasil dan tidak mengamen lagi,”

Pengamen itu melongo tak percaya. Ia menepuk bahu Dedi, wajah mereka berpandangan penuh makna setan. Ia meletakkan gitarnya di lantai. Dedi memberi isyarat agar ruang les komputer ditutup sejenak. Ia menurut, jadi kacung tak bergaji bertahun-tahun pun bersedia, asalkan untuk Dedi seorang.

“Kau harus menentukan targetmu, Bang! Bukan hanya itu saja, kau juga harus mempelajari psikologis mangsamu, cari hari-harinya lengah, jika targetmu adalah PNS, maka jangan sekali-kali kau mencuri malam minggu, bisa jadi ia sedang menghabiskan waktu malamnya bersama keluarga, karena hari itu libur, namun bisa jadi jika kau mencuri siang hari target justru tidak ada di rumah karena sedang berlibur, sayangnya mata siang banyak yang berkeliaran.” Dedi menguraikan penjelasan artikel yang dibacanya dari website. “Jika targetmu petani sukses, jangan berani-berani kau mencuri tengah malam. Kadang mereka bangun pagi-pagi pukul tiga dini hari untuk mempersiapkan kebutuhan di ladang, selain juga menata-nata dagangan yang akan didistribusikan ke pasar-pasar induk. Jika targetmu pengusaha yang kaya raya, maka sebaiknya kau pelajari dulu situasi mangsamu, jangan lupa pelajari kesibukan lingkungan sekitar. Kau juga harus mempunyai ilmu fisika dalam mencuri,”

“Maksudmu?” Pengamen itu memotong.

“Kau harus paham gejala alam. Sebaiknya mencuri saat mendung atau hujan turun! Tepat tengah malam, penduduk pasti tidak mendengar teriakan, benturan, atau apa pun dengan suara yang mengganggu, mereka pastinya akan sibuk memeluk guling atau tubuh istri masing-masing.”

Ia menggangguk-angguk paham.

“Dan jangan lupa, bawa senjata dan kau harus pandai ilmu bela diri.”

Ting, tong! Bel rumah mendapat tekanan. Dedi bergegas mematikan komputer. Membuka pintu ruang les komputer. Seorang polisi berdiri tegak di ambang pintu, menuntun gadis kecil yang baru duduk di kelas lima SD. Pengamen itu menghela napas panjang. Ia sedikit merinding melihat perawakan polisi yang bertubuh kekar.

“Tidak libur kan, Ded?”

“Tidak, Pak!”

“Tumben jam lima tapi belum ada anak-anak, aku pikir anakku sudah telat,” katanya lagi. Matanya menelisik ke dalam ruangan, pandangannya sempat bertabrakan dengan wajah pengamen yang pucat pasi. Polisi itu mengulum senyum sinis.

“Mungkin karena pintu saya tutup, dan tidak ada orang juga di ruang tamu.”

****

Pengamen itu_ ya kau hanya perlu mengingat profesinya di jalanan. Takdir tak mengizinkan kau mengetahui namanya, atau semua hidupnya akan hancur. Ia mempraktikkan saran Dedi.

Selama dua minggu penuh mengamati kehidupan mangsa. Ia menyuruh teman seperjuangan hidup di jalanannya untuk mengintai kondisi rumah. Siang dan tengah malam mereka mempelajari keadaan. Hingga hari yang tepat itu datang.

Guntur sedang menyambar langit, kilat cahaya berserakan seperti akar serabut. Angin mendoyongkan pepohonan. Tiang-tiang listrik seolah hendak dirobohkan. Air-air di selokan muntah sampai trotoar. Angkringan gulung tenda. Jalanan sepi. Pukul dua dini hari, penduduk telah meringkuk menjemput mimpi. Pos ronda bahkan kosong melompong, tugasnya dilempar pada burung hantu yang menggigil kedinginan dari balik persembunyiannya. Malam mencekam. Pengamen itu mencongkel jendela rumah. Sekujur tubuhnya basah, ia tidak menutupi wajahnya sebagaimana maling-maling pada umumnya. Dua teman mengintai di halaman rumah, berjaga-jaga barangkali ada makhluk malam yang melintas dan menangkap aksinya. Dua menit lalu, ia lompat dari gerbang rumah, langsung menuju jendela kamar pemilik rumah. Ia membobol rumah seorang bidan yang terkenal sangat kaya raya.

Pengamen itu lompat ke dalam. Pencahayaan kamar temaram. Dua orang sedang berpelukan di atas ranjang. Selimut membungkus sampai punggung mereka. Pemilik rumah tampak lelap dengan nikmat. Ilmu fisika mencuri sepertinya tepat. Ia bergegas mencari laci di bawah meja rias, membuka satu persatu. Memilah-milah kotak dan berkas-berkas, barangkali ada intan yang disimpan di dalam kotak-kotak itu, dan memang begitu adanya. Ia memasukkan kotak perhiasan ke dalam kantong jaketnya. Gerak tangannya bergegas cepat. Ia tidak perlu harta melimpah, cukup untuk modal usahanya.

Kembali ia tutup laci-laci. Berdiri siap-siap keluar, lompat dari jendela. Nas! Pemilik rumah terbangun. Cepat meraih tubuh pengamen tersebut. Menyeret kakinya yang sedang bersiap-siap keluar. Tubuhnya pun terjerembab, wajahnya membentur kaca jendela. Pecah! Darah mengalir. Istri bangun, menekan tombol lampu. Ruangan temaram menjadi terang. Di luar hujan  masih melambai-lambai. Guntur bersahut-sahutan. Angin memporak-porandakan pepohonan. Kabel-kabel terpelanting menahan keseimbangan di udara. Dua temannya masih sigap berjaga. Mendadak wajah mereka pias, usai mendengar suara benturan kaca.

“Maliiinnnggg!!!” Bidan itu berteriak lantang.

Suami bidan mencengkeram leher pengamen. “Kau mau cari mati?”

Dan…. Rasa sakit di kepalanya melayang. Gigilnya sebab pakaian yang basahnya hilang. Perasaannya mendadak panas. Masalah akan membengkak jika Dedi sampai tahu.

Wajah mereka bertautan, pengamen itu! Ah, ia salah sasaran. Tidak pernah ia sadari jika bidan itu rupanya istri dari polisi yang anaknya les komputer di rumah Dedi. Ia tak bersuara, bergegas meninju perut polisi sekeras-kerasnya lantas kabur. Lompat dari jendela.

“Hei, maling!”

Tidak ada satpam di rumah besar itu.

“MALING!” Penjaga ronda sedang cuti. Hujan deras. Siapa yang mendengar? Hendak mengejar, dirinya tak punya kekuatan, perutnya perih sampai uluh hati. Tiga maling berhasil meloloskan diri.

Bidan itu menangis ketakutan kemudian memapah suaminya ke ranjang.

“Kita laporkan ke teman-temanmu, Mas.”

“Tidak usah, Bu. Aku mengenal orang itu.”

****

Petikan senar gitar meramaikan siang yang terang. Suara sumbang yang juga serak karena masuk angin pun ikut menjadi pengantar melodi abal-abalan. Dedi melahab nasi kucing. Pengamen itu sibuk memainkan senar gitar. Keningnya diperban, ada bercak merah di pusar.

“Aku sudah mencuri sabtu malam kemarin,”petikan gitar berhenti.

“Lantas? Sepertinya ada hal yang buruk,” Dedi melirik luka di keningnya.

“Bukan hanya buruk, melainkan malapetaka besar,”

“Kenapa?” tanya Dedi dengan ekspresi datar. Ia santai, melahap nasinya tanpa sendok.

“Aku tidak tahu jika rumah yang kucuri itu rumahnya polisi yang minggu lalu mengantarkan anaknya les di rumahmu,” Dedi tersedak. Ia langsung menenggak tehnya habis.

“KAU TIDAK BERCANDA?”

“Serius!”
Penjaga angkringan ikut mendengar obrolan mereka. “Aku kurang jeli memerhatikan mangsa,”

“Tapi kau berhasil mencuri dan tidak ketahuan kan?”

“Aku dan dia saling bertatapan! Polisi itu mengenaliku, sebab di ruang les pun kami bertatapan.”

“Ya Tuhan!”

“Hanya saja ilmu fisika darimu tepat, beruntung malam tadi hujan lebat. Cuaca negara kita yang sedang kacau ini menolongku, kadang siang panas dasyat, kadang malam hujan lebat! Dan hujan turun sabtu malam tadi,”

“Masalah ini akan menjadi panjang, kau akan menjadi buronon, bahkan bisa jadi aku ikut terseret ke dalamnya, Bang!”

“Maafkan aku yang kurang cerdas, Ded!”

“AKU HAPAL JIKA SIANG SEPERTI INI KAU DAN PENGAMEN ITU AKAN TONGKRONG DI ANGKRINGAN INI, DED!” Pak Polisi menyembul dari balik tenda. Gitar jatuh terkulai. Pengamen terkesiap, ia bergegas mengambil langkah untuk lari. Dedi ikut serta panik, ia pun lompat, langkahnya terbirit-birit di trotoar.

“Kabur! Kabur, Bang!” Serunya.

“DEDI! Aku ingin bicara denganmu! Berhenti atau aku tembak?”

Dedi acuh. Anehnya polisi itu tidak mengejar, hanya berdiam diri, mematung di tempat, membiarkan dua orang itu lolos. Ancamannya hanya omong kosong belaka.

“Lari keluar kota, ajak teman-temanmu juga! Jangan temui aku dulu.” Dedi memberi saran. Pengamen itu sudah melompat ke bus yang berjalan menuju terminal. Dedi lari mengimbangi laju kendaraan beroda empat tersebut. “Hubungi kontakku saja jika ada apa-apa!” teriaknya lagi.

“JAGA DIRIMU BAIK-BAIK. MAAFKAN AKU, DAN JANGAN MINUM ES LAGI!”
Dedi terbatuk sementara tangannya melambai. Ia kemudian membungkukkan badan mengatur pernapasan. Bus telah menghilang. Dadanya sesak, ia bergegas pulang mengambil sepeda motor, berjalan menuju rumah sakit, hendak kontrol kesehatan paru-parunya.

“Kau harus dirawat.” Kalimat dokter membekas di otaknya. Sayang, ia memaksa pulang, pikirannya secepatnya ingin pergi jauh dari kota kelahiran, meninggalkan les komputer yang sudah berdiri lima tahun. Ia tidak ingin bertemu dengan polisi itu lagi. Tubuhnya ringkih. Debu jalanan membuatnya bertambah batuk. Sialnya, sebelum tiba di rumah, mobil patroli polisi mengejar di belakangnya. Pandangannya berkunang-kunang. Tenaganya lunglai. Rasanya ia akan pingsan. Tragis yang menyetir mobil itu adalah polisi yang dikenalnya, ayah dari gadis kecil yang ia lesi komputer. Takdir sepertinya sedang mengajaknya bergurau. Ia hendak menarik gas lebih kencang, sayang kefokusannya hilang.

“Berhenti, Ded!”

Polisi itu mengklaksonnya.

Ia tidak berhenti. Polisi itu geram, mengklakson lebih kencang. Menyalip laju motornya. Berhenti di tengah-tengah jalan, menimbulkan kemacetan dan perhatian pengendara kendaraan.

Dedi tidak bisa berbuat apa-apa. Ia pasrah, pikiran tidak kacau, justru linglung sebab kelelahan, ia seharusnya sudah terkapar dengan jarum infus di kamar rumah sakit.

“Anda mau apakan diri saya, Pak? Saya menyerah!” Ia pasrah. Polisi itu tersenyum sinis. Polisi yang lain terheran-heran.

“Surat-surat kendaraanmu tidak lengkap?” Ucap seorang polisi yang duduk di belakang. Ia turun.

“Lengkap.”

“Kau tampak ketakutan?”

“Uangmu berhamburan di jalan raya, Ded! Balik, ambil! Tadi dikumpulkan bapak-bapak tukang sapu jalan. Setelah itu buka ponselmu.” Kata polisi yang sangat mengenalnya. Polisi yang sempat mengancamnya tiga jam yang lalu. Setengah jam lalu ia memasukkan uang sisa menebus obatnya ke dalam jaket. Tidak sempat memasukkan ke dalam dompet sebab tergesa-gesa.

Dedi diam. Ia bingung.

“Bergegas pulang dan istirahatlah. Kau tampak pucat, aku tidak akan membiarkanmu sakit sehingga les komputermu ditutup, Ded.”

Polisi itu melambaikan tangan, kawannya yang turun naik kembali ke atas mobil patroli. Kendaraan kembali melaju dengan lancar. Ia bergeming di sisi jalan. Dalam hatinya ia bertanya-tanya, ‘mengapa ia tidak ditangkap? Mengapa temannya juga tidak diburu?

Ia meraih ponsel di saku jaketnya. Membaca pesan yang masuk. “Jangan khawatir, Ded! Aku yakin kau orang baik. Pikiranmu cerdas, tidak mungkin kau menolong pengamen itu jika bukan karena otak brilianmu. Kau peduli dengan kehidupan-kehidupan orang di bawahmu, maka teruslah arahkan mereka agar menjadi baik. Harta yang dicuri, gunakanlah untuk usaha, aku ikhlas. Lain kali jangan ulangi kesalahan yang sama.”

Dedi. Pemuda yang mengindap penyakit kanker paru-paru itu masih bingung, tidak percaya.

Magelang, 30 Agustus 2017.

 Darah Mimpi bernama asli Titin Widyawati. Penulis asal Magelang.