Dinilai Membawa Petaka, Warga Kayu Bulan Gorontalo Sesalkan Pembangunan IPAL

oleh -

Foto : Yulce Pulubuhu (54) sedang menunjukan IPAL yang dinilai membawa petaka bagi mereka.(foto Thoger).

Gorontalo, Suaralidik.com – Maksud hati ikut memberi manfaat kepada orang banyak, tapi malah penyesalan warga yang balik diterimanya. Begitu sepenggal cerita yang di alami Yulce Pulubuhu (54), warga Lingkungan satu RT/7 kelurahan Kayu Bulan kecamatan Limboto Kabupaten Gorontalo.

Wanita paruh baya ini menceritakan, demi mendukung Dinas Perkim Kabgor pada program KOTAKU dalam rangka mengurangi kawasan kumuh tahun 2017. Keluarganya rela menghibahkan lahan kosong yang ada disamping halaman rumahnya untuk dibangun Instalasi Pengelolahan Air Limbah (IPAL).

Namun dengan adanya bangunan tersebut, warga sekitar malah mencibirnya karena menganggap akibat bangunan tersebut telah membawa petaka bagi mereka.

“Setelah pekerjaan hasilnya tidak sesuai dengan keinginan warga. Sehingga mereka keberatan dan balik menuding saya. Mereka menganggap, karena saya mereka juga ikut kena imbasnya”,tutur Yulce kepada awak media, Saptu 06/07/2019.

“Selain itu, akibat tidak berfungsi bau yang keluar dari IPAL tersebut mengganggu pernapasan. Dan bila musim hujan, walau hanya satu jam airnya menguap hingga merembet masuk kerumah warga sekitaf”,lanjut Yulce.

Yulce mengaku telah menyampaikan keluhannya dan warga sekitar kepemerintah daerah. Lebih khusus kepada Bupati Gorontalo Prof Nelsson Pomalingo. Kata Yulce, kala itu oleh Bupati langsung diteruskan kepada Kadis Perkim yang saat itu Syamsul Baharudin, dan janji pak Syamsul akan diselesaikan.

“Mereka turun mengecek, ukur sana sini namun tidak ada perubahannya. Lebih saya sesalkan lagi, Mantan Kadis Perkim pak Syamsul saat saya hubungi lagi, jawabnya bahwa beliau sudah bukan Kadis Perkim. Sehingga saya memilih diam karena putus asah”, terang Yulce.

“Seolah-olah saya hanya dilempar kesana kemari, hubungi yang ini katanya ke sana kesinilah, jadi saya bingung tak tau kemana. Sementara saya jadi tempat pengeluhan warga. Sebab mereka menganggap saya biang kerok dari musibah yang sering mereka alami”,sambung Yulce.

Menurut Yulce, sebelum adanya pembangunan IPAL, lingkungannya tidak pernah kebajiran, tapi setelah adanya IPAL membuat meraka was-was bila musim hujan karena sering kebanjiran.

“Sebelum dibangun katanya tidak ada genangan air. Sudah 30 tahun saya tinggal disini tak pernah banjir, tapi setelah dibangun IPAL genangan air pidah kedalam rumah warga”,keluh Yulce.

Yulce menambahkan, paving block yang ada dihalam rumahnya juga ikut menjadi korban akibat proyek tersebut.

“Paving block milik saya juga ikut jadi korban. Pekrja saja mempertanyakan kenapa paving block harus ditimbun, kata mereka nanti akan diperbaiki tapi hingga saat ini dibiarkan begitu saja”, tambah Yulce.

Kepala Dinas Perkim Rahmat Doni Lahatie saat dimintai tanggapannya mengaku telah memerintahkan jajarannya untuk melakukan pemeriksaan, mencari dimana titik kesalahan pekerjaannya dan akan diperbaiki.

“Besok (red hari ini) teman-teman dari Perkim akan turun mengrekontruksi dan melihat kembali dimana permasalahannya dan akan memperbaikinya”,kata Kadis kepada awak media usai menghadiri kegiatan Obrol Bareng Jaksa, Saptu 06/07/2019.

Pria yang sering disapa Doni ini juga menuturkan, meski program bukan dimasa beliau sebagai Kadisnya, pihaknya harus bertanggung jawab.

“Siapapun Kadis Perkim, karena ini tanggung jawab Perkim harus diselesaikan dan itu sudah menjadi kewajiban selaku organisasi”,tutup Doni,(Rollink).