Dipisahkan, Begini Kondisi Kedua Pasangan Menikah Sesama Perempuan di Bulukumba

oleh

BULUKUMBA, Suaralidik.com – Pernikahan sesama perempuan antara Rahmat Yani alias Rahmayani (28) yang mengaku sebagai laki-laki dengan Syarifa Nurul Husnah (20) membuat gempar masyarakat se Nusantara pada Rabu 27 September 2017 kemarin.

Pernikahan sesama jenis ini terjadi di kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, Minggu 17 September 2017 lalu tepatnya di dusun Erelebu, Desa Eka Tiro, kecamatan Bontobahari, Bulukumba.

Kondisi Syarifa (tengah) korban pernikahan sesama jenis saat dikunjungi Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana Bulukumba. Kamis (28/9/17).

Saat ini pasangan terlarang itu sudah dipisahkan baik oleh orang tua korban (Syarifa) maupun instansi pemerintah terkait.

“Sudah Dipisahkan,” kata Abd Hafid, Kepala Seksi Binmas Kementerian Agama (Kemenag) Bulukumba, Kamis (28/9/17).

Hal tersebut diungkapnya berdasarkan hasil investigasi yang dilakukan tim Kemenag Bulukumba bersama instansi terkait lainnya pada Kamis (28/9/17), sesuai arahan dari Bupati Bulukumba.

Abd Hafid, Kasi Binmas Kemenag Bulukumba.

Dari hasil penelusuran, pihak kemenag yang bertemu korban di kediaman keluarganya menuturkan kondisi Syarifa saat ini dalam keadaan syok pasca mengalami kejadian itu.

“Syarifah ini sekarang ada di rumah keluarganya di daerah Pombo sekitar jalan poros ke Bira. Kami sempat ajak untuk bagaimana kami antar dia pulang, tapi dia menolak katanya biar dia kasi tenang dulu dirinya disitu rumah keluarganya,” ungkap Abd Hafid.

Untuk keberadaan Rahmayani, Abd Hafid mengatakan ia saat ini sudah tak berada di Bulukumba.

“Tadi itu saya minta sama Syarifa nomornya suaminya tapi dia bilang tidak aktif nomornya. Terus saya bilang kira-kira dimana suamimu, dia bilang sekitar Bone sekarang menuju Kolaka,” jelasnya.

Selain itu, beberapa pengakuan juga diperoleh Kemenag Bulukumba selama melakukan penelusuran. KUA juga mengaku tidak tahu sama sekali perihal pernikahan itu apalagi pelaksanaannya bertepatan hari libur (Minggu).

“Jadi memang Rahmayani ini cerdas dia lihat situasi dan memanfaatkan,” tambahnya.

Sementara berdasarkan pengakuan Syamsidar ibu dari Syarifah mengakui bahwa dia sendiri yang mengenalkan anaknya dengan Rahmayani melalui media sosial Facebook sekitar 2 tahun lalu tanpa mengetahui jenis kelamin Rahmayani yang sebenarnya.

Sampai akhirnya Rahmayani datang melamar didampingi bapak angkatnya Dg Lanjju Siga.

“karena pihak keluarganya sendiri tidak dia libatkan karena tidak direstui. dengan kesepakatan uang belanja (Panaik) sebesar Rp30.000.000, emas 10 gram dan mahar sebidang tanah terletak di desa Pataro, kecamatan Herlang,” tutur Abd Hafid.

Tiga hari setelah nikah, barulah diketahui bahwa laki-laki tersebut adalah seorang perempuan yang mengganti status dan jenis kelaminnya pada beberapa dokumen, seperti KTP dan SIM dari nama Rahmayani binti Ramlan menjadi Rahmat Yani R.

“Setelah ketahuan, keluarga Syarifah pun merasa ditipu dan tersinggung dan akhirnya mengusir Rahmat meninggalkan Syarifah dan keluar dari kampung tersebut,” tukas Abd Hafid.

Penusuran lain juga dilakukan Kepala KAU kecamatan Herlang, Muh. Ansari Mahdy yang melakukan klarifikasi dengan pihak keluarga Rahmayani dan kepala desa Pataro Muh. Basri B mendapatkan informasi bahwa Rahmat Yani daeng Lolo adalah berjenis kelamin perempuan dengan nama aslinya Nani alias Rahmayani Ramalang dengan jumlah saudara 5 orang.

“Pada malam pertama itu tidak ada masalah, dihari ketiga baru ada kecurigaan dari pihak keluarga tolong dekati apa betul yang bersangkutan itu laki-laki atau perempuan sebelum ditanya kepada Syarifah . Dan ternyata salah satu anggota keluarga mendekati dan sempat memegang barang itu dan disitulah ketahuan bahwa dia perempuan,” ulas Abd Hafid.

Terkait masalah kecolongan menurut Abd Hafid itu tidak bisa dikategorikan letaknya, yang jelas ini adalah tanggung jawab semua aparat, Kemenag dan Pemerintah desa.

“Kan sebenarnya ada fungsi koordinasi pengawasan itu juga saya bilang sama teman-teman KUA untuk aktifkan kembali. Cuman persoalannya disini kenapa mesti ada oknum yang terlibat, tidak mungkin kepala dusun tidak mengetahui, kepala dusun kan perangkat dari kelurahan dari desa kenapa tidak ditanyakan kok tiba-tiba melaksanakan nikah mana persyaratannya. Kami disini juga sudah simpulkan bahwa pernikahan ini tidak sah karena tidak sesuai hukum Islam dan hukum positif Indonesia,” tandas Abdul Hafid.

Indra Chairunnisa


Abdul Nazaruddin

Rujadi

H.Askar

Harris Pratama