Diskusi Ketersediaan Pangan, Bulog: 2018, Bantaeng Tak Perlu Impor Beras

oleh -63 views

suaralidik.com, Bantaeng–Serikat Petani Alami (SPA) Butta Toa Bantaeng mendatangi gudang Bulog di Lamalaka, Kabupaten Bantaeng, untuk mendiskusikan masalah ketersediaan beras rabu (17/01) ini.

Menurut Sujarman, ketua SPA Butta Toa Bantaeng, bahwa rencana Pemerintah melakukan impor beras 500.000 Ton akhir Januari ini sama saja dengan menyakiti hati para petani. Padahal, Bantaeng sendiri melakukan pengiriman beras ke beberapa provinsi sebanyak 300 Ton pada tahun 2017 kemarin, seperti Aceh, Ambon, DKI, dan Bali.

“Masyarakat Kabupaten Bantaeng tidak perlu melakukan impor lagi karena setiap musim panen mengalami peningkatan di Bantaeng. Yang seharusnya didorong adalah hasil panen yang sehat dengan biaya produksi yang murah melalui pertanian alami.
Apalagi sulsel menjadi lumbung pangan nasional. Ketika pemerintah melakukan impor itu akan menyakiti hati petani.” Ujar Sujarman.

Kepala gudang Bulog, M. Syaib Mansyur menyampaikan hal yang sama. Menurutnya, impor beras di Bantaeng tidak perlu dilakukan karena ketersediaan beras sudah ada sekitar 1.063 Ton untuk tahun 2018.

SPA Butta Bantaeng berdiskusi dengan kepala Gudang Bulog Bantaeng terkait ketersediaan beras Di Kabupaten Bantaeng

Di lain pihak, Ikhsan Jalarambang, Ketua Bidang Pengorganisasian dan Pendamping Petani SPA Butta Toa Bantaeng, mengungkapkan harapannya, bahwa ke depan mereka ingin  semua hasil gudang di bulog Bantaeng yang ditampung, bisa juga dari petani alami Bantaeng. Hal ini karena masyarakat membutuhkan beras berkualitas sehat. Mereka juga menargetkan akan mendorong kedaulatan pangan sehat di Bantaeng. Untuk mewujudkan itu, menurutnya maka beras alami harus didistribusi ke gudang bulog.

“Pemerintah Bantaeng harus menghentikan alih fungsi lahan pertanian sawah ke perumahan-perumahan untuk memaksimalkan ketersediaan sawah.” tutupnya.

Komunitas SPA Butta Toa Alami Bantaeng juga mendorong ketersediaan pangan dan beras melalui pertanian alami untuk mewujudkan hasil pertanian yang berdaulat.(Iswahyudin)