,

DPD LIDIK PRO PARE-PARE : Ada Apa Di DPRD Hingga Proyek Taman Cappagalung Tak Ada Kejelasan?

oleh

SUARALIDIK.COM_PARE-PARE, Pemerintah Kota Pare-Pare kembali membangun revitalisasi taman cappagalung yang telah dianggarkan Tahun Anggaran 2017 dengan kontrak berakhir Desember 2017, namun pelaksanaannya Proyek ini dimulai 7 Januari 2018, yang saat ini menjadi polemik dikalangan masyarakat Pare-Pare, Minggu (11/02/2018).

Proyek ini telah menjadi sorotan tajam oleh Lembaga Investigasi Mendidik Pro Rakyat Nusantara (LIDIK PRO), dengan menyurati Ketua DPRD Kota Parepare pada tanggal 05 Februari 2018, untuk Hearing tentang Penganggaran hingga proses lelang sampai masa waktu pelaksanaan, namun hingga saat ini DPRD Kota Parepare, belum juga memberi jawaban valid, “dikupas tuntas oleh TIM LIDIK PRO PARE-PARE.

“Saya amati dan menelusuri pembangunan tersebut di Pare-pare tidak melalui kajian yang baik, sehingga terkesan pembangunan terlaksana seenaknya saja sesuai keinginan bapak ” E ” Selaku (Walikota),”Tegas, Ketua LIDIK PRO Pare-Pare, A.R.Arsyad,SH.

Dalam pantauan TIM LIDIK PRO, adanya sekian banyak bangunan-bangunan di Kota Pare-pare yang tidak berfaedah, awalnya dimulai Bangunan Rumah Sakit Type B plus yang menelan anggaran sebesar 41 M di tahun 2015 yang hingga sekarang apa jadinya,”

“Lanjut, sama halnya dalam Pembuatan WC yang ada di lapangan A.Makkasau dan Monumen Adipura pasar Senggol pada tahun 2016, saat ini hanya menjadi pajangan dan wajar dipajang,”.

Selain itu, Jembatan Tongrangen yang juga Puluhan Milliyar angarannya entah apa fungsinya saat ini, karena kendaraan motor saja dilarang melintasi jembatan ini apalagi mobil.”Trotoar, dibangun karena meniru tapi tidak tau apa fungsi garis orange yang dibuat pada trotoar tersebut,”Tutur Ketua LIDIK PRO PARE-PARE, A.R.Arsyad,SH.

Salah satu Anggota DPRD Pare-Pare dimintai tanggapannya oleh Tim Suaralidik, “kami telah menolak anggaran pembuatan patung pembangunan, baik itu patung kerbau maupun patung kereta kencan, telah diketahui bahwa yang disetujui hanya taman serta fasilitas olah raga “out door”, “saya tidak tau bagaimana bisa jadi patung kencana,” jelas, S.Parman Agus, Anggota Legislatif dari fraksi PKS.

“Pembuatan patung kuda dan kereta kencana telah dihiasi orang memakai songkok to Bone merupakan sebuah simbol yang tidak berbudaya, sejarah budaya bugis tidak pernah meriwayatkan bahwa orang bugis bone memakai kereta kencana, jika notabenenya lebih Jantan dengan menunggangi kudanya sendiri.(Achadoel/Rey Seeker).