banner 728x250

DR. Rahmat Mazerang, Persaudaraan dalam Islam Dilihat dari Kacamata Ilmu dan Teknologi

  • Bagikan
Sekjend KEBUGIS, MUHAMMAD SALEH MUDE

SUARALIDIK.COM – Awal pekan ini, Senin, 11 Maret, saya menjadi moderator di kuliah Ramadan online Pengurus Besar Keluarga Bugis Sidenreng Rappang (PB KEBUGIS). Narasumber hari ini adalah Dr. Rahmat Mulyaman Mazerang (Rahmat), membawakan tema berjudul, “Persaudaraan dalam Islam dilihat dari kacamata ilmu dan teknologi”.

Saya telah mencatat beberapa poin dari pikiran-pikiran utama Dr. Rahmat, yakni: (i) jika kita sering membaca dan mengkaji isi Al-Qur’an, kita dapat menemukan konsep persaudaraan seperti dalam Surah Al-Hujarat (49), di sana kita dituntun untuk saling kenal mengenal, walau berbeda suku-bangsa, yang penting kita diikat oleh iman yang sama, Islam; (ii) masih dalam Surat itu, kita dituntun untuk selalu menjaga dan mempererat tali ukhuwah kita supaya mendapat rahmat dari Allah; (iii) dan pada ayat selanjutnya, kita temukan cara menjaga dan membentuk tatanan persaudaraan yang kokoh. Kita tidak boleh saling melecehkan atau menghina karena boleh jadi yang dilecehkan lebih baik daripada yang melecehkan; (iv) jika pun terdapat perbedaan di antara sesama umat Islam, itu tidak mesti membuat persaudaraan terciderai atau rusak, karena hanya berbeda sudut pandang dalam melihat ajaran-ajaran Islam misalnya; (v) umat Islam bisa menjadi kuat (super power) jika bersatu; (vi) karena kita bisa membangun ukhuwah yang kokoh melalui teknologi modern.
Teknologi modern kini sudah akrab dan dipakai oleh umat Islam; teknologi dapat dipakai untuk menyampaikan pesan yang baik, jauhi perbedaan yang tidak prinsipil atau perlu; setiap pesan idealnya disampaikan dengan cata yang baik (hikmah); dan diiringi dengan niat yang baik, ikhlas, lanjut Rahmat.

banner 728x250

Adalah tugas kita bersama untuk menyongsong masa depan yang lebih baik, menjadi pemenang dan umat yang terbaik (khair), kita membangun kembali peradaban umat Islam yang pernah jaya di era Nabi Muhammad Saw dan abad pertengahan ketika umat Islam ekspansi hingga ke Spanyol, Kordoba, dimana tradisi pengembangan ilmu pengetahuan, filsafat, dan teknologi menjadi milik umat Islam, pungkas Rahmat. (M. Saleh Mude).

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *