Efek Rasa Curiga yang berlebihan terhadap Suami

oleh
curiga pada suami
ilustrasi : dampak curiga belrebihan terhadap suami

Sebuah rumah tangga adalah tanggung jawab pasangan suami-istri. Keduanya harus saling mendukung menciptakan kehangatan dan kenyamanan dalam rumah bagi seluruh anggota keluarga. Kenyamanan dan kehangatan ini akan mengalirkan rasa tenteram yang dapat membuat betah seluruh anggota keluarga untuk selalu berada di rumah. Tidak saja suami tetapi juga anak-anak.

Menurut Basti S.PSi, banyak hal yang mempengaruhi seorang suami sehingga lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah. Selain alasan pekerjaan, juga karena adanya terpaan tekanan psikologis di dalam rumah. Misalnya, istri terlalu mendominasi suami, atau sok mengatur yang membuat suami kurang percaya diri.

Tidak sedikit istri, lanjut Basti, tidak memahami beban tugas suami di kantor. Padahal suami yang mengerti arti dan tanggung jawab sebagai kepala rumah tangga tidak akan segan menghabiskan waktu hanya untuk menghidupi keluarga. Ia akan mengorbankan waktu santainya untuk kepentingan ekonomi keluarga. “Tapi tak jarang ada istri yang menaruh curiga. Ia meragukan kegiatan suami di luar rumah. Ada kecurigaan, suami menghabiskan waktu dengan wanita lain,” urai Basti yang ditemui siang kemarin.

Rasa percaya yang ditanamkan dalam kehidupan rumah tangga merupakan modal utama kelanggengan sebuah perkawinan. Seorang istri yang memiliki rasa curiga berlebihan jutsru akan menggiring suami berbuat sesuatu yang mestinya tidak ia lakukan.

Dalam perspektif psikologis, curiga istri bisa dimaknakan sebagai rasa memiliki yang terlalu besar. Dampaknya, ia akan mengatur suami sedemikian rupa, hingga ke jam kerja. Termasuk kapan suami mesti berada di rumah. “Sikap seperti ini tidak disenangi laki-laki. Bukannya rasa sayang yang timbul akan tetapi rasa kesal. Karena menurutnya ia bukanlah anak kecil yang harus diatur kapan harus pulang ke rumah. Ini salah satu variabel kenapa suami sering merasa tidak betah di rumah,” terang Basti.

Faktor psikologis inilah yang biasanya memaksa seorang laki-laki untuk melakukan perselingkuhan. “Pada awalnya, perselingkuhan tidak pernah terpikirkan, akan tetapi rasa sepi dan kejenuhan akan situasi yang tidak pernah berubah dapat membuat ia merasa lelah dan ingin mencari sesuatu yang berbeda,” lanjutnya.

Ditekankan Basti, bahwa rasa tidak betah suami dapat dicegah dengan perhatian dari keluarga, khususnya istri. Sebab istri bukan hanya partner seks, tetapi juga teman dan sekaligus sahabat yang bisa diajak berbagi apa saja.

Dalam hal ini, istri juga dituntut untuk peka terhadap segala persoalan yang sedang dialami suami. “Istri harus tahu situasi suami. Suami pun demikian. Paling tidak ada sharing pendapat yang saling menyejukkan,” kata Basti. Dialog ini juga dapat memupuk rasa kepedulian satu sama lain.

“Jangan sampai suami merasa sudah tidak dipedulikan lagi. Hal ini yang kerap membuat banyak lelaki sering pulang larut malam karena sibuk mencari perhatian di luar rumah,” lanjutnya.

Basti mengingatkan pula bahwa rasa tidak betah di rumah tidak hanya dialami oleh suami, tetapi juga anak-anak. Faktor pemicu pada anak-anak, sama dengan yang dirasakan suami, yaitu rasa curiga berlebihan dari orangtua. Akan tetapi menurut Basti, anak remaja lebih cenderung berinteraksi dengan teman sebayanya. Selain daya tarik sosial, kurangnya perhatian yang didapatkan dari orangtua biasanya memaksa anak mencari perhatian di luar rumah. “Jika demikian, biasanya anak akan melarikan dirinya kepada hal-hal yang berbau negatif seperti mengonsumsi narkoba dengan tujuan untuk mendapatkan perhatian orangtua,” kata Basti.

Namun menurutnya, banyak juga anak usia remaja yang tetap betah di rumah meskipun ia juga butuh berinteraksi dengan teman sebayanya. “Karena ia telah merasakan apa yang disebut ‘rumahku adalah surgaku’ dan kebutuhan psikologis didapatkan di dalam rumah,” tegasnya. Anda pun bisa membuat anak betah di rumah dengan memposisikan diri sebagai sahabat bagi anak. (*)

Suara dari Pembaca
Penulis : Ikram
Blog : http://bagjadarajat.blogspot.co.id