Egomu, Berhalamu

oleh -

Suaralidik.com – Di media sosial, kita dapat dengan muda menemukan orang-orang yang selalu merasa dirinya kritis, sok suci, puritan atau merasa paling benar, hanya diri dan kelompoknyalah yang selalu dipikir, dikalim, dan diyakini paling benar. Orang lain yang tidak sepaham dengan diri dan kelompok yang didukung, selalu apriori dinilai dan divonis salah, menyimpan, korup, dan harus disingkirkan dan jika perlu dibumi-hanguskan agar hilang ditelan bumi dan zaman.

Orang dan kelompok yang selalu mengklain dirinya paling benar, pemborong, dan pemilik kebenaran seperti ini, terutama di media sosial, sebenarnya tidak sadar, telah dikuasai oleh ego dan nafsu syaitannya. Mereka sudah didominasi oleh pikiran sesatnya. Mereka sudah menjadikan egonya sebagai berhala sembahan yang suci. Celakanya, mereka tidak sadar.

Semoga orang-orang yang selalu mengaku sebagai agen dan pemilik kebenaran tunggal, sok puritan yang di dalam dirinya telah menjalar “virus ego dan nafsu berkuasa,” segera sadar dan dan bertobat, kembali ke jalan benar. Mereka itulah orang-orang tidak memiliki sumberdaya yang memadai untuk bertarung dalam memperebutkan posisi-posisi strategis terbaik dalam berbagai kompetisi untuk berbuat kebaikan pada sesama dan bangsanya.

Menurunkan ego mendominasi ketika kita berdiskusi dan sejenisnya, ingin mencapai kebenaran bersama, pada hakikatnya membangun istana kebersamaan dengan sesama. Begitu pula sebaliknya, mempertahankan ego dan nafsu ingin menang sendiri, pada hakikatnya membangun neraka dunia dan akhirat untuk diri sendiri dan kelompoknya orang-orang yang selalu merasa paling benar di muka bumi ini.

Orang-orang yang rajin mengontrol ego dan nafsu jahatnya akan tertuntun menjadi pribadi-pribadi penghancur berhala-berhala dalam dirinya.

M. Saleh Mude, Kontributor http://www.suaralidik.com Jakarta.