Advertizing

banner 728x250

Gakum Seksi III Sulut Temukan Pengrusakan Hutan Mangrove di Desa Tuyat, Bolmong

  • Bagikan
Foto : Gakum Seksi III Sulut Menemukan pengrusakan Mangrove di Desa Tuyat, Bolmong

Bolmong, Suaralidik.Com–Pengrusakan kawasan konservasi Mangrove yang ada di Desa Tuyat Kecamatan Lolak,Kabupaten Bolaang Mongondow, akhirnya mendapat perhatian dari  pihak Penegakan Hukum (Gakum) Sulawesi Utara. Insitusi ini menindaklanjuti Laporan masyarakat terkait perusakan Hutan konservasi di Desa Tuyat Kebupaten Bolaang (Mongondow) menjadi perhatian serius dari pihak Gakum Sulawesi Utara Seksi Wilayah III Menado.

Menurut Thomas Milano Setiawan dari Gakum Seksi III, usai menerima laporan dari masyarakat pihaknya langsung menurunkan tim gabungan ke wilayah Lolak,

banner 728x250

Sesuai hasil, lokasi tersebut masuk dalam kawasan Hutan lindung Bakau Bumi Dua. Hasil verifikasi dilapangan,  pemilik tambak di kawasan hutan manggrove tidak memiliki izin lingkungan.

“Hasil verifikasi kami sudah ditindak lanjuti oleh penyidik yang dipimpin langsung Pak Donnie S Engkai,”tukas Thomas singkat.

Sementara itu, Kepala KPH 1 Bolmong – Bolmut Hi. Usman Buhari, S.Hut menyampaikan hutan manggrove di desa Tuyat harus dijaga dan tak boleh dirusak.

“Hutan lindung seluas 54 hektar hingga saat ini belum ada pembebasan atau penyayatan untuk dilepas kepada masyarakat, apa lagi terinformasi warga sekitar sudah ada SKT yang dikeluarkan dari kepala desa setempat. SKT itu bisa batal, karena itu hutan lindung,” tegas Usman Buhari kepada awak media.

Sayangnya, fenomena yang terjadi, hutan manggrove yang masuk kawasan hutan lindung itu sudah disulap oleh oknum -oknum menjadi tempat usaha tambak udang dan ikan air tawar berupa ikan Bandeng,

Sebelumnya. kepala Dinas Lingkungan Hidup Abdul (DLH) Bolmong,Abd Latif kepada awak media menyampaikan akan segera menindaklanjuti adanya aktifitas di kawasan hutan tersebut.

“Secepatnya saya akan memberikan surat kepada kepala desa, terkait adanya kegiatan tambak udang dan Ikang Bandeng di wilayah konservasi Hutan Mangrove itu kawasan hutan lindung, kalaupun melakukan aktivitas diluar kawasan hutan lindung harus ada kajian ijin lingkungan terlebih dahul,”kata Abdul Latief,

Sementara itu LSM Swara Bogani meminta pengrusakan mangrove terus di usut. Termasuk penerbitan SKT di wilayah kawasan Hutan lindung, oknumnya harus diperiksa dan diproses hukum. “Dasar apa dia berani menerbitkan SKT sementara itu lahan mangrove. penyidik Gakum juga harus tegas dan tidak tebang pilih,”imbau Rafiq Mokodongan ketua LSM Swara Bogani.(***Agus)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *