Gubernur Sulsel Soft Opening Bendung Baliase di Luwu Utara

oleh
Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo pada peresmian awal pemanfaatan Bendung Baliase di Kabupaten Luwu Utara, Sulsel, Selasa (3/4). (FOTO/Humas Pemprov Sulsel)

Makassar, Suaralidik.Com – Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel) Syahrul Yasin Limpo melakukan peresmian awal atau “soft launching” pemanfaatan Bendung Baliase di Kecamatan Masamba, Kabupaten Luwu Utara, Sulsel, Selasa.

“Hari ini walaupun belum sempurna (pembangunan Bendung Baliase), ini adalah hari bersejarah bagi warga Luwu Utara,” kata Syahrul usai peresmian awal dengan penekanan tombol sirine bersama Bupati Luwu Utara dan Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pompengan Jeneberang.

Dilansir di antaranews.com, Peresmian awal ini menandai rampungnya 100 persen bangunan konstruksi bendung utama. Sementara bangunan intake (bangunan penyadap air) dengan jalur distribusi belum selesai, dan diharapkan selesai pada tahun 2019.

Gubernur menjelaskan, Bendung Baliase ini unik, karena satu-satunya bendung yang menyatu dengan Ibu kota kabupaten.

Dengan hadirnya Baliase, kata dia, maka paling sedikit akan dilakukan panen oleh warga sekitar lima kali dalam dua tahun.

“Jika terbangun sempurna dengan persawahan sekitar 20 ribu hektar, maka diperkirakan akan menghasilan produksi senilai Rp1,7 triliun dalam setahun. Satu hektar, bisa menghasilkan Rp75 juta dalam setahun.

Bendung ini mengairi lima kecamatan secara langsung, yaitu Kecamatan Masamba, Kecamatan Mappadeceng, Kecamatan Sukamaju, Kecamatan Baebunta dan Kecamatan Malangke.

Sementara itu, Bupati Luwu Utara, Indah Putri berterima kasih dengan kepada pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi dengan hadirnya bendung Baliase ini.

“Ini sebagai komitmen pemerintah pada sektor ketahanan pangan sekaligus menjadi kebanggaan kami akan menunjang ketersediaan pangan nasional, kami ucapkan terima kasih,” sebutnya.

Ia berharap selain Bendung Baliase, pemerintah juga akan menyelesaikan secepatnya pembangunan, bendungan Rongkong ini dalam upaya untuk mewujudkan cita-cita Sulsel menjadi lumbung pangan nasional.

Indah menjelaskan bahwa bendung Baliase pembangunannya sudah dimulai sejak tahun 1977 untuk tahap perencanaan. Untuk studi, master plan North Luwu plan (1977), rencana induk sistem pengembangan dan pengendalian banjir (2004), pre-feasibility study pembangunan di Baliase (2006) dan model test Bendung Baliase (2012).

“Pembangunan ini diusulkan tahun 77 (1977) bersamaaan diusulkan ketika saya lahir,” ungkap bupati perempuan satu-satunya di Sulsel ini.

Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan Jeneberang (BBWS) T. Iskandar, menjelaskan, pemanfaatan Baliase terutama untuk perairan dalam rangka mendukung Sulsel menjadi lumbung nasional.

“Saat ini Provinsi Sulsel merupakan satu dari 14 provinsi di Indonesia yang masuk kategori daerah lumbung padi nasional,” sebutnya.

Sejak dicanangkan 40 tahun lalu, berdasarkan data perencanaan area yang akan diairi seluas 21.929 hektar, areal persawahan saat ini berupa sawah irigasi 1.645 hektar, sawah irigasi semi tersier 4.450 hektar, sawah irigasi pompa seluas 350 hektar, sawah tadah hujan 4.000 hektar, sedangkan sisanya seluas 11.500 merupakan kebun dan telaga.

Pelaksanaan konstruksi pembangunan bendung dan jaringan irigasi Baliase, sudah dimulai November 2015, saat ini kegiatan konstruksi terbagi dalam empat kegiatan yang ada di area irigasi bendung. Hingga Minggu lalu sudah mencapai 87 persen, sisa 13 persen sampai akhir 2018.

Usai melakukan soft launching, Gubernur Syahrul, Bupati Luwu Utara, dan sejumlah bupati lainnya yang ikut mendampingi, melakukan penanaman pohon.(*** Nurhaya J Panga/Daniel/iqb)