Gubernur Sulsel Teken MoU dengan Bupati Wajo Terkait Pengembangan Persuteraan

oleh -
MoU Persuteraan antara Pemprov Sulsel dengan Pemkab Wajo

Wajo, Suaralidik.Com – Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan akan membackup Kabupaten Wajo dan Soppeng, untuk mengembalikan kejayaan sutera di Sulsel. Hal tersebut diungkapkan Nurdin Abdullah, saat acara Focus Group Disscussion (FGD), di Kantor Bupati Wajo, Selasa, 13 Agustus 2019.

Hadir pada Focus Group Discussion ini Bupati Wajo Dr. H.Amran Mahmud, S.Sos., M.Si, Wakil Bupati Wajo H. Amran, SE, dari Kementerian Perindustrian, Kepala Kantor Bank Indonesia Makassar, perwakilan Pemerintah Soppeng, Kepala Dinas Perindustrian Sulsel, kepala Dinas Perindustrian Wajo, dan Perangkat Daerah Kabupaten Wajo, Perbankan di Wajo

Persentase dari perwakilan Pemerintah Kabupaten Soppeng atau Kepala Dinas Perindustrian Soppeng mengawali acara ini yang menyampaikan Sutra Soppeng termasuk cukup bagus di mata dunia,

Juga disampaikan kalau produksi ulat sutera di Soppeng di era 90-an berada di puncak kejayaannya, juga dijelaskan tentang perkembangan sutra di Soppeng dari tahun ke tahun, hingga sejarah singkat persuteraan di kabupaten Soppeng secara garis besarnya.

Dalam pemaparan berikutnya dari Bupati Wajo Dr. H. Amran Mahmud, S.Sos., M.Si yang menyampaikan bahwa kehadiran Sutra Di Wajo, di mana dulunya dibawa oleh tentara dari Jawa di awal tahun 50-an.

Lebih jauh dijelaskan kalau areal persuteraan di Wajo cukup baik dan luas pada saat kejayaannya, mengembangkan Sutera saat itu, dan ada sekitar 13.000 pengrajin persuteraan di Kabupaten Wajo, dalam perjalanannya ada problematikanya.

“Dalam perkembangan Sutra di Wajo, hampir di 14 Kecamatan di Wajo, utamanya yang ada di Sabbangparu kemudian berkembang di daerah Tanasitolo, Gilireng serta Wajo bagian utara, sehingga perkembangan persuteraan kita mulai dari hulu sampai ke hilir dan ini cukup banyak yang dikembangkan di Kabupaten Wajo,” ungkap Bupati Wajo

Juga disampaikan kalau permintaan kokong juga jauh dari cukup dari produksi kokon yang ada, dengan membutuhkan pengembangan yang lebih masif nanti kedepannya, sehingga produksi produksi pemintalan Sutera kedepannya bisa menjadi baik.

‘Bagaimana kita juga mempergunakan sistem manual dan juga yang semi otomatis, ada 91 pengrajin yang menggeluti usaha ini dan mempekerjakan sekitar 822 tenaga kerja dengan menggunakan alat mesin pemintalan sebanyak 274 unit, dimana bisa menghasilkan benang sutra mentah 6.389 kg per tahun,” ungkap Dr. H. Amran Mahmud, S.Sos., M.Si.

“Kemudian industri pemintalan Sutra kita dengan perkembangannya dengan membuat benang benang Sutera menjadi kain dikembangkan menjadi sarung demikian juga baju, souvenir-souvenir yang dihasilkan masing-masing alat tenun bukan mesin maupun juga mesin yang sudah mekanisasi yang berkembang di Wajo ini cukup mendapat perhatian serta sambutan dari masyarakat,” Dr. H. Amran Mahmud menambahkan.

Juga disebutkan yang menjadi tantangan persuteraan di Wajo diantaranya belum tertatanya dengan baik sistem pemasaran produk Sutra, utamanya dalam pemasaran ke luar daerah dan pulau Jawa hingga menimbulkan persaingan yang kurang sehat.

Lebih lanjut disebutkan kalau belum maksimalnya upaya dalam perlindungan hak cipta, utamanya kreasi desain dan hak cipta yang tentunya berakibat merugikan pengrajin atau pengusaha yang berorientasi pada bidang tersebut.

Juga dikatakan kalau masih ditemui kesulitan dalam mendapatkan bahan baku benang sutra yang berkualitas tinggi, utamanya benang produksi lokal, sehingga memerlukan pembinaan ke depannya bahkan upaya ke depan minimal supaya bisa menghasilkan indukan sendiri.

“Artinya kita menghasilkan bahan baku utama, kita hasilkan dengan berkualitas, tentunya membutuhkan riset kajian-kajian kerjasama dengan perguruan tinggi dan berbagai stakeholder yang ada, bahkan ada anak yang sedang belajar ilmu genetik di Amsterdam sekarang ini, dan kalau perlu kita tingkatkan pelajarannya sampai ke Jepang,” harap Dr. H. Amran Mahmud dalam pemaparannya.

“Sehingga kita nantinya tidak tergantung kepada Cina yang sangat prosedural dan pengiriman telur-telur ulat dari Cina sampai ke sini banyak sekali tantangannya,” Dr. H. Amran Mahmud menambahkan.

Dikatakan selanjutnya bahwa peluang terciptanya klasifikasi hanya terhadap tingkat kualitas produk ini juga menimbulkan persepsi yang keliru terhadap produk Sutera yang dihasilkan, di masyarakat masih ada yang menyamakan antara Sutra asli dengan yang bukan asli, dan ini harus menjadi komitmen untuk mengembangkan kembali potensi persuteraan.

Lebih lanjut dikatakan kalau yang menjadi tantangan berikutnya yaitu pengembangan usahanya, lebih luas bagi pengusaha persuteraan itu agar tentunya terkait kemampuan finansial perlu support dari perbankan.

“Alhamdulillah BNI sudah membina perkampungan Sutera di wilayah Wajo dan itu cukup membantu pengrajin pengrajin kita dengan pembinaan langsung dari perbankan,” ungkapnya.

Berikutnya adanya sebagian pengusaha yang tidak konsisten memperhatikan dan pertahankan kualitas produk yang dihasilkan kalau perlu kita punya branding tersendiri, ungkapnya di akhir pemaparannya.

Dalam sambutan berikutnya dari Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan Prof. Dr. Ir. Nurdin Abdullah, M.Agr yang juga mengaku sangat prihatin terhadap beberapa komoditas keunggulan Sulsel, seperti sutera yang sudah terdegradasi. Apalagi pasar sutera di Jawa membutuhkan pasokan benang dari Sulsel yang cukup besar.

“Selama ini kita belum mampu memenuhi kebutuhan pasar,” ujar Prof. Dr. Ir. Nurdin Abdullah.

Berdasarkan data asosiasi industri sutera di Wajo, Produksi Wajo, Soppeng, dan Enrekang, bisa menghasilkan 200 ton benang sutera setiap tahunnya.

“Sutera kita jauh lebiih bagus dibanding dengan benang sutera dari daerah lain, termasuk dari sutera impor, selama proses produksinya benar,” tambah Prof. Dr. Ir Nurdin Abdullah.

Untuk mengembalikan kejayaan sutera di Sulsel, harus dibuat proses pembibitan ulat lokal.

“Selama ini kita impor bibit dari Jepang dan Cina. Ke depan kita kembangkan sendiri indukan sutera,” tambah Prof. Dr. Ir. Nurdin Abdullah.

Apalagi pengembangan sutera di Wajo, Soppeng, dan daerah tetangganya sudah berlangsung turun temurun.

Prof. Dr. Ir. Nurdin Abdullah, juga memerintahkan kepada Kepala Dinas Perindustrian Sulsel Ahmadi, untuk mencari permasalahan dalam upaya kembalikan kejayaan sutera di Sulsel.

Pemerintah Sulsel, siap menghadirkan industri modern untuk meningkatkan kualitas benang, namun tetap pertahankan tenunan tradisional.

“Pemerintah Sulsel akan membackup habis-habisan untuk kembalikan kejayaan sutera di Wajo dan Soppeng,” jelasnya.

Diakhiri dengan penandatanganan MoU kerjasama antara Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dengan Pemkab Wajo dan Pemkab Soppeng terkait persuteraan dan dilajutkan dengan tanya jawab peserta dengan Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan.(*** AIS, Humas Pemkab Wajo)