Gus Dur dan Spirit Kebangsaan

oleh
F

Penulis : Fathullah Syahrul
Jaringan GUSDURian Makassar

SUARALIDIK.COM, OPINI – Pluralisme secara garis besar dipahami sebagai paham yang beragam, beragam inilah ditandai dengan banyaknya suku, agama, ras dan budaya. Paham seperti ini yang sangat tepat diterapkan di Negara yang majemuk seperti Indonesia. Mengingat bahwa, Indonesia merupakan negara yang heterogen.

Indonesia memiliki aneka ragam suku, agama, ras dan budaya yang ditandai dalam semboyan Bhineka Tunggal Ika. Empat pilar kebangsaan yaitu, Pancasila, UUD, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika yang semuanya itu dibangun atas dasar pluralisme.

Alasan itu kemudian di perkuat dalam sejarah kemerdekaan Indonesia bahwa, Agama, Suku, Ras dan Kebudayaan bukan menjadi sebuah tirani untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia saat itu.

Pluralisme sebagai landasan kebangsaan menjadi perekat keutuhan bangsa dan negara. Hal itulah yang kemudian kembali di perjuangkan oleh KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dengan konsep gagasan dan spirit kebangsaannya yaitu pluralisme.
Indonesia pada fase pra kemerdekaan memang memiliki banyak tantangan. Tantangan dari luar maupun tantangan dari dalam.

Hal inilah yang kemudian membuat para pejuang bangsa Indonesia memerlukan sebuah konsensus dalam menghadapai anccaman tersebut. Kedua ancaman yang saya maksud diatas secara eksternal yaitu penjajahan yang dilakukan oleh kolonial belanda yang menjajah secara fisik maupun secara gagasan dan ideologi.

Ancaman internal ditandai dengan datangnya masalah-masalah dari tubuh Indonesia yang dilakukan oleh masyarakatnya yang tidak paham soal konsensus kebangsaan yang telah menjadi kesepakatan.

Pasca kemerdekaan, salah satu spirit kebangsaan yang sangat jelas dan nyata terbukti didalangi oleh para ulama dan kaum santri, yaitu berjihad melawan penjajah pada tanggal 10 November 1945 yang kemudian dikenal dikenal dengan Resolusi Jihad NU.

Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa kesemuanya itu merupakan sejarah panjang nan kelam dan dibutuhkan perjuangan yang memakan tak sedikit korban dan darah yang tumpah dibumi pertiwi ini, agar bangsa dan negara tetap utuh.

Pluralisme yang dilandasi dengan spirit kebangsaan juga terjadi pada momen yang menegangkan. Ketika para tokoh agamawan, negarawan memerlukan sebuah konsensus kebangsaan yang dapat menaungi dan memelihara seluruh aspek kehidupan dan menjaga keberagaman (Pluralisme), dibentuklah sebuah konsensus yang dikenal dengan Pancasila.

Pada fase itu, muncul perdebatan yang harus di sepakati pada sila pertama yaitu, Menjalankan Syariat-syariat Islam Bagi Para Pemeluknya. Karena sila inilah muncul sebuah perdebatan yang diyakini hanya akan akan berpihak pada satu golongan dan akan memuculkan anak tiri dari agama.

Di aras ini, tokoh Nahdlatul Ulama (NU) yang tak lain adalah ayah Gus Dur yaitu, KH. Wahid Hasyim akhirnya menyepakati bunyi butir Pancasila yang tertuang pada sila pertama yaitu, Ketuhanan yang Maha Esa. Pada saat itulah konsensus Pancasila sebagai landasan pluralisme terus mengalir hingga saat ini.

Dan salah satu tokoh yang juga sebagai mantan Presiden RI ke 4 yaitu, Gus Dur menjadikan pluralisme sebagai spirit kebangsaan ditengah maraknya ancaman kelompok-kelompok separatis, gerakan Islam fundamental, gerakan Islam radikal dan neo liberalisme yang ingin mencabut akar kebangsaan kita yaitu, UUD, Pancasila, Bhineka Tunggal Ika dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Pluralisme diyakini menjadi sebuah pandangan yang fleksibel menerima seluruh latar belakang masyarakat baik dari segi agama, suku, ras dan budaya tanpa adanya intimidasi dalam ranah kebebabasan berekspresi.

Akhirnya, dalam menjaga keutuhan bangsa dan negara salah satu cara yang harus dilakukan oleh para generasi bangsa harus memahami dan mengimplementasikan nilai-nilai yang telah digagas oleh Gus Dur diantaranya, ketahuhidan, kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, pembebasan, kesederhanaan, persaudaraan, keksatriaan dan kearifan lokal.

Gus Dur telah mewarisakan tugas kita sekarang adalah mengawal dan mengimplementasikan nilai-nilai tersebut ke rakyat banyak seperti apa yang di titip beratkan oleh sang guru bangsa (Gus Dur)

Editor : Adhe