Hari Pahlawan; Masyarakat Mempertanyakan Ke Pemerintah, Ini soalnya?????

oleh
Sulaeha Lambero, akrab dengan panggilan Puang Nona, (Istri Almarhum A.Mappijalang -Pahlawan Yang Gugur di ujung peluru di tangan penjajah).

SuaraLidik.com–Bulukumba, Pada 10 November adalah hari Kepahlawanan yang setiap tahunnya selalu diperingati sebagai hari pengingat tentang perjuangan orang orang yang telah mengabdikan dirinya untuk kemerdekaan. Tetes darahnya tumpah ke bumi demi bangsa dan negaranya.  

Menurut Hasbullah DM, Pengurus Lembaga Komandan Mahatidana (KOTI) Pemuda Pancasila Bulukumba, mengatakan, “Seorang Pahlawan sejati adalah dia yang merelakan harta dan jiwanya untuk kemerdekaan bersama, dan juga bersedia merelakan nyawanya di ujung peluru, dan bukan sekedar mati di atas kasur empuk”, Hasbullah DM. Jelasnya.  

Di Kabupaten Bulukumba Sulsel, dikenal seorang Pahlawan yang mengorbankan harta, keluarga, bahkan nyawanya sekalipun. Ia adalah A. Mappijalang. Ia ikut serta dalam peperangan baik di pulau Jawa maupun di Pulau Sulawesi Khususnya di Kabupaten Bulukumba di zaman penjajahan Belanda.  

Setelah meninggal ditembak oleh penjajah yang berkomplot bersama antek-anteknya, ia meninggalkan seorang istri yang bernama Sulaeha Lambero, akrab dengan panggilan Pung Nona. Istri pahlawan ini masih hidup sampai sekarang tetapi sungguh ironis mendengar pengakuannya. Semenjak suami tercinta tertembak dan digelar pahlawan oleh masyarakat setempat, ia sama sekali tidak pernah menerima tunjangan veteran.  

Nuraeni, S.Pd, anak dari A. Mappijalang yang juga merupakan pensiunan Guru SMAN 8 Bulukumba, mengungkapkan, “Tidak ada gunanya memperingati hari pahlawan. Pemerintah melakukan peringatan hari Pahlawan itu hanya serimonial belaka. Itu terbukti karena Ummi (baca; ibuku) masih hidup, tetapi pemerintah tidak pernah memperhatikan keadaannya. Tidak menghargai jasa pahlawan”, Nuraenai, Ungkapnya.

“Sudah berkali-kali Ummi menyuruhku mengurus tunjangan veterannya. Tapi tidak tahu mengapa, sama sekali tidak ada respon dari pemerintah Kabupaten Bulukumba. Padahal sepengetahuan saya, ini ada anggarannya. Saya dipimpongja (baca; dipermainkan) kiri kanan sehingga saya enggan mengurusnya lagi,” jelasnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan,”harapan saya kepada pemerintah agar memperhatikan jasa pahlawan. Setidaknya Makam (Baca: A.Mappijalang) beliau itu diperbaiki karena disitu sering diadakan upacara hari-hari nasional oleh masyarakat dan anak sekolah yang upacara bendera,” tutupnya, saat di konfirmasi langsung via Telpon Oleh Wartawan SuaraLidik.com.

Sulaeha Lambero, akrab dengan panggilan Puang Nona, (Istri Almarhum A.Mappijalang -Pahlawan Yang Gugur di ujung peluru di tangan penjajah).
Sulaeha Lambero, akrab dengan panggilan Puang Nona, (Istri Almarhum A.Mappijalang -Pahlawan Yang Gugur di ujung peluru di tangan penjajah).