Ingin Menangis

oleh

Ia Menangis

/1/

Senyumku mampu menelan nerakamu, kuremas nanah yang menggunduk di dada. Kuremah darah yang dialirkan oleh denyut nadi. Maka, persetan dengan liur mabuk yang mencengkeramku dari balik jelaga sembilu. Kan kugantung urat leher pada tali senja yang menjuntai pasrah berupa nada anggun: Anggun sendu. Perlahan waktu mengusap bintik pipi. Bulir panas. Pedih mengiris akal. Suka ditumbuh angkara. Ilusi, lupakan indah yang melenakan. Derita bukan airmata.

/2/

Lantas gula berlalu manis menjadi kenangan. Ia memoles senyum hambar saat purnama tertawa. Ingatkan semut mengecup dinding moksa rindu yang berbau anyir? Ia menelan pahit meski gula memuntahkan darah dari perdu Tuan! Ia genangkan asin di permukaan langit saat mentari lelap dan ombak lautan mengubur gumintang. Kala itu, seorang gadis berdiri, matanya dirobek malaikat esok, digiring retaknya bumi, semuanya hangus, ia menjerit, luka diterbangkan. Milyaran duka keluar dari bibirnya yang menganga. Tuan! Tegakah Anda menjamah ubun yang diletakkan di atas jantung kubur ruh yang lain? Tuan! Di atas nisan ada nama cinta yang disembunyikan abadi. Tuan: Maka malam nanti terbenamlah dengan mata terbuka saat luka sejati merajam. Tuan! Hanya perlu kau tahu, pipi kanan itu dilintasi satu cairan.

/3/

Tentang melodi sumbang malam itu. Bayangkan a.k.u di jantung gelap, meremas perih yang menjambak napas. Maka mulut menganga pasrah, saat maut hendak lompat. Terbaring menahan ruh yang tak sabar mengucapkan kata perpisahan. A.k.u memohon dengan rayuan setia pada Tuhan agar ia mau mengajakku berkenalana. Bukankah detik itu a.k.u mengucap janji pada dasar gelap yang diterangkan? Tidak amnesia tongkat yang dimiliki seorang lelaki berjubah hitam duduk di sisi ranjang. Oksigen insan menusuk dua lubang. A.k.u di dalam bakakah? Sudah menjadi mayatkah? Takdir menampar rupanya mati suri. Terimakasih maut sudah mengajakku bergurau waktu itu.

/4/

Aku lupa di mana peta kenangan? Padahal jejak kusematkan pada embusan alam. Mungkin akalku bisu! Bukan! Lebih tepat pikun! Ah, TIDAK aku meremaja. MEREMAJA?? Jangan bercanda! Aku menua! Bukan! Getir yang menerjang karang tegakku merobohkan keriangan. Meski senja mekar saat dini menenggelamkan esok, maka tetap aku renta. Umurku jatuh hati dengan senja. Maka kau boleh menyebutnya menyenja. Dan itu hari: Raga terduduk dihempas angin surga, rambut terurai manja, pipi basah, lembab dengan rindu yang tenggelam, tak mampu menyelamatkan ketenangan. Ia ingin menangis.

02/15/2017

Titin Widyawati. Penulis muda dari Magelang.