Ini Alasan Mahasiswa Asal Bulukumba Tolak Kedatangan Jokowi di Makassar

oleh
Fajar hidayat asbar Mahasiswa asal Bulukumba
Fajar hidayat asbar Mahasiswa asal Bulukumba tolak kedatangan Jokowi ke kota Makassar

Kota Makassar, suaralidik.com – Kedatangan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) di kota Makassar untuk kegiatan jalan santai pada hari Minggu  (29/7/2018) banyak menuai kecaman dan penolakan dari kalangan aktivis dan mahasiswa.

Hasil wawancara salah satu mahasiswa asal bulukumba Fajar Hidayat Asbar, Ia menilai kalau Jokowi tidak berprioritas di tengah-tengah permasalahan yang bersipat urgent di negara ini.

“Sangat mengecewakan di tengah persoalan yang semakin kompleks di indonesia, presiden jokowi malah sibuk menghadiri acara jalan santai di makassar” tegas fajar yang juga salah satu anggota Lidik Pro DPD Bulukumba, Jumat (27/7)

Ditambahkannya, “sudah seharusnya Jokowi lebih memprioritaskan hal-hal yang menjadi masalah selama ini mulai dari tingkat kemiskinan di indonesia yang sudah mencapai 25,95 juta orang, seperti hal nya di bulukumba yang saat ini kurang lebih 33.000 warga miskin. jangan sampai jokowi datang dianggapnya rakyat sulawesi selatan sudah sejahtera semua, sampai-sampai buat acara jalan santai segala” sindir Fajar

Lanjuta Fajar, “belum lagi persoalan BBM yang setiap tahunnya mengalami kenaikan dan semakin mencekik kehidupan rakyat, lucunya menggembor-gemborkan pertumbuhan ekonomi setiap tahunnya naik kurang lebih 5% tapi kalau diamati yang dapat enaknya kalangan atas saja, tapi menengah ke bawah masih saja susah” kata Fajar

Tidak hanya sampai disitu, Fajar terus berbicara sebagai simbol penolakan kedatangan Presiden, Joko Widodo di Kota Daeng, Sulawesi Selatan.

Selain soal tingkat kemiskinan dan kenaikan BBM, Fajar juga berbicara soal KKN yang membudaya di Indonesia, Defesit keuangan daerah hingga ke soal mega proyek di kabupaten Takalar yang justru merugikan masyarakat pemilik tanah.

“Kolusi Korupsi dan Nepotisme (KKN) di indonesia ini masi terus membudaya bahkan 2017 saja indonesia peringkat 93 ter korup dari 180 negara. di sulsel korupsi didominasi sektor infrastruktur dan di susul sektor pemberdayaan masyarakat, hal seperti ini seharusnya yang dievaluasi dan diselesaikan, bukan jalan santai yang seolah memperlihatkan bahwa sulsel khususnya makassar aman aman saja. ada banyak persoalan di tanah sulawesi selatan ini”

Kasus besar di berbagai daerah di sulsel terdapat beberapa pemda mengalami defisit, contoh salah satunya adalah kabupaten Bulukumba mengalami defesit tahun 2017 lalu dan tahun 2018 ini lagi-lagi mengalami defisit.

“mau diapakan kalau sudah begitu berani tidak jokowi menegur pemerintah bulukumba..?” Nada kecewa Fajar

Lanjut seputar Mega proyek di kabupaten Takalar. Fajar menilai kalau mega proyek yang menguras anggaran APBN sebesar 1,7 trilliun justru merugikan masyarakat Takalar.

“megaproyek yang akan dibangun di takalar yang terletak di desa Kalekommara dengan anggaran APBN kurang lebih 1,7 trilun anggaran sebesar itu tapi dana untuk pembebasan lahannya sangat miris. Bagaimana tidak, tanah warga hanya dihargai kurang lebih Rp 4000 per meter, proyek bendungan ini akan menggusur satu desa di takalar dan satu dusun di gowa, warga menolak harga yang sangat miris ini , terus menteri PUPR yang kemungkinan akan hadir juga di jalan santai ini harusnya mengurusi itu dulu, tidak usah sibuk jalan santai lebih baik tenaganya di simpan untuk bertemu rakyat kalekommara” Protes Fajar

Sebaiknya tidak usah datang ke kota Makassar kalau hanya untuk jalan santai, lebih baik manfaatkan waktu untuk mengurus masalah-masalah yang ada di tanah air ini. tutup Fajar ajar hidayat asbar dari kampus Universitan Islam Negeri Alauddin Makassar ini. (***Ashari)