Ini Bukan Puisi !

oleh

Ini Bukan Puisi!

Karya Titin Widyawati

Aku melihat bangkai di balik ranah
Kucium aroma kafan yang bertahun-tahun tak terjamah
Mendung mengigit senyum
Sorak berkumandang, Tujuh belas Agustus menjadi saksi bisu, di hadapan nisanmu, aku menggenggam rindu. Juga karenamu aku mengecup mimpiku yang sendu.
Indonesia

Aku ingin bercerita padamu….tentangmu namun lain DIRIMU,
Bendera berkibar, airmata merembas, aku berjanji nadiku untuk denyut pertiwi
Hormatku tak takzim, namun janjiku bersemayam di dalam hati yang lazim
Kawan, kenanglah, dahulu pahlawan menembus jantung penjajah dengan bambu runcing
Merdeka kau ungkap, namun tak mampu menyadarkan diri tentang cinta pada bangsa
Angin pengangguran membuat banjir kemiskinan mengarus ke perumahan kumuh di pinggiran
Sampah kebodohan menyumbat otak-otak pemuda yang bernafsu liar
Kau kata narkoba dilarang, namun pantatmu justru mendudukinya, malam tatkala rembulan berkabut, kau menyetubuhinya.
Kau bilang adil ditegakkan, nyawa dikurung dideruji berkarat tak keluar-keluar, sementara yang tersembunyikan hanya sebutir telur milik tetangga… Kau sendiri? Penjaramu laksana istana. Revisi keluar setiap dunia mempunyai momen agung….
Aku dengar negara kita aman, dan pelajar di sebelah sekolahku tawuran, kerikil berhamburan, mulut membusukkan umpatan.
PENDIDIKAN! Di mana KEADILAN, bersembunyikah KESEJAHTERAAN?
Yang kutahu MERDEKA disorakkan! Idialisme bangsa masih berantakan! MERDEKA! Bendera dikibarkan, perjuangan pahlawan tinggal menjadi kenangan…
Kawan, adakah pahlawan di meja judi? Kenalkanlah aku kepadanya, akan kuberikan ia mas kawin sebagai tanda cintaku pada bangsa….
Kau tahu aku duduk di sini, kau pikir aku sedang membacakan PUISI, BUKAN SAYANG! Ini bukan PUISI, ini realita! Sesuatu yang kupikir menyedihkan jika tiba di kerongkongan cita-cita. PANCASILA! Apakah hanya semboyan?

Prampelan. 19 Agustus 2016. Di hadapan nisanmu! AYAH!

Penulis adalah penyair dan novelis dari Jogjakarta


Abdul Nazaruddin

Rujadi

H.Askar

Harris Pratama