Ini Tanggapan RSUD Bulukumba Soal Pasien Yang Keluar Paksa

oleh
Pelaksana Tugas Kepala RSUD Sultan Dg Radja Bulukumba, dr. Abdur Rajab.

BULUKUMBA, Suaralidik.com – Pihak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sultan Dg Radja kabupaten Bukumba memberi klarifikasi soal pasien bernama Abdul Muin (57) yang keluar paksa lataran mengaku mendapat pelayanan kurang menyenangkan saat ingin memperoleh darah.

Pelaksana Tugas Kepala RSUD Sultan Dg Radja Bulukumba, dr. Abdur Rajab.

Melalui keterangan tertulis, Selasa (26/10/17) Pelaksana tugas Kepala RSUD Sultan Dg Radja, dr. Abdur Rajab mengatakan pihaknya di Bank Darah Rumah Sakit (BDRS) sudah berusaha semaksimal mungkin untuk tetap melayani pasien dengan menyiapkan stok darah apalagi kalau ada pasien cito atau darurat.

“Malah kami di lab dan keluarga pasien yang menjadi pendonor sukarela dan ada beberapa orang rekan karyawan RS yang sering kami panggil juga untuk donor jika pasien betul-betul tidak ada keluarga,” kata Abdur Rajab.

Hanya saja, menurutnya kadang keluarga pasien tidak mengerti mengharapkan bantuan orang lain untuk donor. Sementara dirinya sendiri tidak ikhlas mendonorkan darahnya untuk keluarganya.

Lanjutnya, jejaring RSUD untuk relawan donor darah, diantaranya Srikandi Pemuda Pancasila, Koperasi Berkat, Wahdah Islamiah, SMA 10 Rilau Ale, SMA Balibo, SMA 1 Bulukumba, Astra motor, Badan Penanggulangan Bencana, dan SAtpol PP, serta beberapa instansi BUMN.

“Kadang pada momen-momen tertentu mereka donor,” tambah Abdur Rajab.

Dilain sisi, Kepala UTDC PMI Bulukumba dr. Nurhayati mengungkapkan memang pada saat ini pemakaian kantong darah di rumah sakit meningkat. Tahun 2016 itu cuma rata-rata 150 kantong per bulan, tetapi di tahun 2017 ini rata-rata 200- 250 kantong per bulan, sementara pendonor terbatas.

“Selama ini kami dengan Bantaeng kerjasama. Rumah sakit Bantaeng juga kadang mengambil di UTD Bulukumba jika di sana lagi kosong. Dan selama ini kalau pasien BPJS ke Bantaeng ambil darah tidak dibebani pembayaran, karena kami dari BDRS yang mengikut sertakan klaim kantong darah di Berkas Rekam Media (BRM) pasien apabila pasien pulang dan Kami dari UTDC Bulukumba membayar ke Bantaeng apabila RSUD membayar klaim kantong ke UTD setiap 3 bulan sekali karena pada saat itu harga per kantongnya di Bantaeng masih rendah dari pada kita di sini,” Jelasnya.

Namun, pada sekarang ini tidak bisa lagi karena tarif kantong darah di UTDRS Bantaeng juga sudah naik. Sudah sama dengan kita di Bulukumba, jadi tidak ada lagi Biaya Cros yang bisa kita masukkan di RSUD Bulukumba. Maka dari itu BDRS meminimalisir untuk keluarga pasien tidak ke Bantaeng mengambil darah karena harus membawa uang tunai 360 ribu per kantongnya.

“Tetapi kalau tidak ada sama sekali keluarganya yang mau donor dan stok kami tidak ada maka tidak ada jalan lain, keluarga pasien harus ke UTDRS Bantaeng mengambil darah dan membayar Rp.360 per kantongnya dan kwitansinya kami yang teruskan ke bendahara RSUD Bulukumba dengan melalui prosedur kurang lebih 1 minggu baru dananya cair dari RSUD dan di kembalikan ke keluarga pasien,” kunci Nurhayati.

Sementara mengenai ditolaknya kartu JKN-KIS pasien Abdul Muin saat hendak berobat kembali, Kepala Humas RSUD Sultan Dg Radja, Gumala Rubiah mengatakan bukan kewenangan RSUD melainkan tanggung jawab BPJS selaku penyelenggara.

“Orang BPJS mungkin yang bisa jawab itu karena kami di RS tidak pernah menolak pasien, cuma pertanyaannyya apakah BPJSnya berlaku atau tidak? pihak BPJS yang bisa menjawab itu.
Dan saya sudah konfirmasi ke UGD pasien ini apakah betul datang berulang, tapi dari hasil pencatatan di UGD tdk ada pasien atas nama nama itu yang berulang masuk dan ditolak,” ucup Gumala Rubiah.

Diberitakan sebelumnya, pasien bernama Abdul Muin (57) warga Caile, Kecamatan Ujungbulu, Bulukumba terpaksa keluar paksa dari ruang perawatan RSUD Sultan Dg Radja lantaran merasa mendapat perlakuan kurang menyenangkan saat ingin memperoleh darah.

Tak sampai disitu, Abdul Muin yang kondisi kesehatan terus menurun membuat keluarga kembali melarikannya ke RSUD Sultan Dg Radja namun setibanya di sana ia mengaku ditolak pihak RSUD dengan alasan kartu JKN-KISnya tidak aktif. Padahal menurut Abdul Muin dirinya merupakan peserta BPJS Mandiri.

Sementara hingga saat ini belum ada klarifikasi dari BPJS Bulukumba.


Abdul Nazaruddin

Rujadi

H.Askar

Harris Pratama