Ini Tentang Kesatriaan; Seharusnya Adnan Purichta Icsan Baca Tulisan ini.

oleh
Adnan Purichta Ichsan (Bupati Kab Gowa)

 

Adnan Purichta Ichsan (Bupati Kab Gowa)
Adnan Purichta Ichsan (Bupati Kab Gowa)

SuaraLidik.com — La Tenritatta, seorang pangeran Bone yg besar dalam lingkungan Istana Bontoala dibawah asuhan KaraEng Pattingalloang, karena situasi politik ketika itu pada akhirnya melakukan perlawanan bersama sekutunya terhadap hegemoni Gowa. Perang besar sesama saudara tak terelakkan, yg melibatkan banyak pihak di kawasan timur Nusantara, yg kemudian mengubah peta kekuasaan politik ketika itu. Sang pangeran kemudian menjadi pemenang dan diangkat menjadi Mangkau’ (raja yg berkuasa) dan menjadi pengendali hegemoni politik di Sulawesi dan sekitarnya. Apakah sang pangeran menduduki istana Balla Lompoa dan merampas regalianya? Tidak. Karena dia memahami bahwa persoalan politik sudah selesai dan martabat Gowa sebagai saudara harus tetap di hormati. Dia pun tidak bermaksud menduduki tahta Gowa dan bergelar Sombayya. Kedudukan itu tetap untuk para Pattola dalam lingkungan Kerajaan Gowa…

 

Peristiwa sebelumnya pun terjadi demikian. Ketika serial peperangan antara Bone dan Gowa berakhir dengan kemenangan Gowa, pihak pemenang tidak bermaksud mengambil alih tahta kerajaan Bone, karena bagi Gowa ini bukan peperangan penaklukan kerajaan, hanya semata2 karena kesalahpahaman atas ajakan untuk memeluk agama Islam oleh Gowa kepada Bone. Ketika para Pattola Bone tidak ada yg bersedia jadi Mangkau’ dan menyerahkannya kepada Gowa, otoritas di Gowa menolak dan mengatakan bahwa Kerajaan Bone adalah untuk orang Bone sendiri. Sebagai jalan tengahnya, Gowa hanya menunjuk seorang Jannang (Pengawas) yg diangkat dari salah seorang pangeran Bone sendiri….

 

Begitulah sejarah mengajarkan kita tentang keagungan, kekesatriaan, dan nilai2 luhur bagi mereka yg ingin belajar. Sejarah dibentangkan agar kita mengambil hikmah. Dan mereka yg buta sejarah tidak layak menjadi pemimpin.

Tulisan Pak Ahmad Said pada Akun Facebooknya.