Ini Update Korban Tsunami Lampung  – Banten ;  Korban Meninggal Dunia Capai 431 Orang dan 7.200 Korban Luka-luka

oleh -
Photo : Kondisi Desa Way Muli yang hancur diterjang tsunami. (Foto Tribunnews.com)

LAMPUNG, SUARALIDIK.COM – Sepekan  sudah bencana tsunami yang terjadi di perairan Selat Sunda yang mencakup wilayah Banten dan Lampung Selatan, pada Sabtu (22/12/2018) lalu.Upacaya evakuasi  hingga saat ini masih dilakukan.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, menyampaikan informasi data sementara korban tsunami di Banten dan Lampung.

Seperti  yang dilansir  melalui Tribunnews.com, Data tersebut dibagikannya melalui akun Twitter, @Sutopo_PN, pada Sabtu (29/12/2018).

Sutopo menyebutkan data sementara korban hingga Sabtu (29/12/2018), tercatat 431 korban meninggal dunia dan 7.200 korban luka-luka.

Sementara itu 15 orang masih dinyatakan hilang dan 46.646 orang telah mengungsi.

Kerugian material meliputi, 1.778 unit rumah rusak, 78 unit penginapan dan warung rusak serta 434 perahu dan kapal rusak.

Sementara itu tim dari Polda Banten mencatat sebanyak delapan jenazah masih belum teridentifikasi hingga sepekan pasca tsunami menerjang pesisir Banten dan Lampung Selatan.

Pihak kepolisian mengalami kendala lantaran kesulitan mencocokkan ciri-ciri data antemortem dan postmortem korban.

Sebab, pihaknya hingga saat ini belum menerima laporan adanya anggota keluarga yang merasa kehilangan keluarganya.

Menurut Sutopo, ada kemungkinan jenazah yang belum teridentifikasi berasal dari satu keluarga. Akibatnya, tak ada keluarga dekat yang melapor.

“Dimungkinkan mereka adalah keluarga, sehingga tidak ada pelapornya,” ucap Kabid Dokkes Polda Banten AKBP Nariyana, di Posko Bencana Polda Banten, Kabupaten Pandeglang, Banten, Minggu (30/12/2018).

Sementara Nariyana menegaskan, hingga saat ini kondisi delapan jenazah masih baik dan utuh. Jenazah yang belum teridentifikasi itu disimpan di lemari pendingin (cooler container), sehingga tidak cepat membusuk.

“Kita terus mensosialisasikan ciri-ciri fisik. Saya harap mereka (keluarga) dapat hadir, dan kondisi jenazah cukup baik utuh, sehingga keluarga mudah mengenali,” kata Nariyana.

Hingga saat ini, dikatakan Nariyana, belum ada keputusan kapan menguburkan jenazah yang tak teridentifikasi tersebut.

Menurut dia, keputusan itu akan diambil berdasarkan kebijakan pemerintah daerah. “Nanti akan ditentukan akan dikuburkan massal atau bagaimana,” ujar dia.  Hingga Minggu (30/12/2018) pagi, Polda Banten mencatat sebanyak 249 korban tewas akibat tsunami Selat Sunda.

Sebanyak 241 jenazah sudah berhasil terindentifikasi dan diambil oleh pihak keluarga. Seperti diketahui, tsunami menggulung kawasan Pandeglang dan Kabupaten Serang, serta Lampung dan Tanggamus, Sabtu (22/12/2018) malam lalu.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi tsunami disebabkan oleh longsor bawah laut akibat erupsi Gunung Anak Krakatau dan gelombang tinggi akibat bulan purnama.

Untuk meringankan derita para korban akibat tsunami, situs berita Tribunnews.com bekerjasama dengan Aksi Cepat Tanggap (ACT) mengajak sahabat peduli untuk memberikan donasi kepedulian bagi para korban bencana tsunami di Banten, Lampung dan sekitarnya.

Dompet kemanusian Tribunnews.com dan ACT bisa disalurkan ke BNI Syariah dengan nomor rekening 8660291018120040 atas nama Aksi Cepat Tanggap khusus kerja sama Tribunnews.com terkait tsunami Banten dan Lampung. (*/iqb)