IPI: Butuh Kerja Cerdas dan Kreatif di Pilgub Sulbar

oleh

SUARALIDIK.com, MAMUJU – Direktur Eksekutif PT Indeks Politica Indonesia (IPI), Suwadi Idris Amir menilai perlu kerja keras, cerdas, dengan kreatifitas di atas rata-rata bagi ketiga pasangan cagub dan cawagub di Pilgub Sulbar. Sebab peta dukungan masyarakat Sulbar terlihat cukup merata.

Ketiga pasangan calon dianggap punya pesona, basis massar yang rill, dan ‘kartu AS’ masing-masing.

Misalnya, pasangan nomor urut satu, SDK-KK. Pasangan ini didukung empat bupati, juga Demokrat, Hanura, dan PKS. Sosok SDK juga dikenal petarung dengan sumber daya manusia yang mumpuni,” kata Suwadi, melalui Instan Messenger, Sabtu (29/10/2016).

Sedangkan pasangan nomor urut 2, JSM-Hamas dianggap punya pemilih cukup bagus di Polman, Majene, dan Matra (Mamuju Utara). Pasangan ini juga mengandalkan Partai Golkar yang disebut kaya pengalaman. JSM juga dikenal sebagai tokoh religius dan bersih. Memiliki pendukung fanatik tidak kurang dari 12-15 persen di Sulbar. Sementara sosok Hamas dikenal sebagai pengusaha sukses dari Kalimantan.

“Tentu sangat siap cost politiknya dalam menopang kerja-kerja politiknya di Pilgub Sulbar,” jelasnya.

Direktur IPI,Suwadi Idris Amir
Direktur IPI,Suwadi Idris Amir

Pasangan nomor urut 3, ABM-Enny dikenal tokoh politik yang berpengaruh di Sulbar. Juga mengandalkan mesin partai pengusung yang besar, seperti Gerindra, PAN, PDIP, PPP, PKB, Nasdem, dan PKPI.

Kekuatan penopang lainnya, kata dia, adalah dukungan full Gubernur Sulbar Anwar Adnan Saleh. Serta dua bupati, yaitu bupati Polman dan Matra yang menjadi sumber kekuatan pasangan ini.

Menurut Suwadi, ketiga pasangan tersebut butuh kerja keras, cerdas, dan cost politik untuk bisa saling mengalahkan. Sebab ada tiga faktor yang mereka hadapi di Pemilu mendatang. Pertama, karakter pemilih di Sulbar terbagi pada dua kategori, yaitu tergolong fanatik dan pragmatis. Kedua, walau cuma enam kabupaten, namun memiliki medan yang cukup sulit untuk memobilisasi massa. Ketiga, SDM dan pengaruh media sosial masih tergolong rendah. Membuat akses informasi lambat. Sehingga perlu kreatifitas untuk bisa sampai pesan pesan politik para pasangan calon.

Dan tentu butuh cost politik yang cukup tinggi untuk mengatasi ketiga problem tersebut,” tutup Suwadi.

RED; suaralidik.com-andi awal